Monthly Archives: August 2018

Kurban Ajarkan Nilai Pengorbanan

Iainsalatiga.ac.id – Dalam petikan khutbahnya Dr. H. Rahmat Hariyadi, M.Pd., Rektor IAIN Salatiga, mengajak jamaah untuk meneladani ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah SWT.

“Ibadah kurban memang memuat pelajaran tentang nilai-nilai pengorbanan, untuk menunjukkan ketakwaan kepada Allah. Inilah yang penting, bukan sekedar simbol fisik dari hewan yang disembelih,” ujar Rektor IAIN.

Hari raya dalam agama Islam tidaklah identik dengan pesta pora, melainkan wujud sryukur kepada Allah. Hari raya diisi dengan memuji dan mengangungkan serta senantiasa mendekatkan diri kepada Allah.

“Bagi umat Islam, yang karena berbagai sebab tidak berkesempatan menunaikan ibadah haji, maka Allah syariatkan ibadah lain, yakni dengan melakukan shalat Idul Adha serta menyembelih hewan kurban,” tukas beliau.

Hal tersebut disampaikan didepan ribuan jamaah shalat Idul Adha 1439 H/2018 M yang memadati lapangan Pancasila Kota Salatiga, Rabu (22/08/2018). Hadir dalam kesempatan tersebut dihadiri Plh. Walikota Muh Haris beserta Keluarga, Pj. Sekda Adhi Isnanto bersama keluarga dan segenap Forkopimda.

Kegiatan dimulai dengan pemberian hadiah dan tropi kepada pemenang lomba takbir Idul Adha. Tampil sebagai juara umum tahun ini Masjid Sufi Tegalrejo. Adapun imam sholat KH. Makmun Alhafidz, dan khotib Dr. H. Rahmat Hariyadi, M.Pd. (Rektor IAIN Salatiga). (zid/hms) IAIN Salatiga-#AKSI

Sinau Bareng Cak Nun “Islam Rahmatan Lil ‘Alamin”

Iainsalatiga.ac.id – Kalau Anda menjadi Rahmatan Lil ‘Alamin, maka tidak boleh menjadi masalah di alam tetapi harus lebih besar dari alam bahkan menggendong alam tersebut. Seperti Bineka Tunggal Ika yang merupakan wujud Rahmatan Lil ‘Alamin dalam skala Indonesia.

Sebagai contoh dengan semua yang ada di Indonesia seperti budaya, suku, agama, dan lainnya diterima dengan baik oleh masyarakat. Rahmat Lil ‘Alamin sendiri artinya menguntungkan, kalau sebaliknya berarti tidak manfaat, merugikan, atau tidak menguntungkan bagi semua dan alam semesta. Kemudian Islam merupakan wadah atau perantara yang artinya dapat merangkul secara keselurahan tanpa membedakan.

“Kalau kita mau Rahmatan Lil ‘Alamin maka harus belajar dan di Salatiga sebenarnya kita belajar, karena Salatiga banyak teori keagamaan yang dapat mencair menjadi satu sehingga Salatiga dapat diberi label sebagai serambi madinah,” terang Cak Nun.

Hal tersebut disampaikan Cak Nun atau Emha Ainun Nadjib dihadapan mahasiswa baru IAIN Salatiga dan ribuan jamaah maiyah Kiai Kanjeng Kota Salatiga dan sekitarnya dalam rangka Tasyakuran Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Mahasiswa Baru IAIN Salatiga Tahun Akademik 2018/2019 yang diselenggarakan di halaman Gedung K. H. M. Hasyim Asy’ari Kampus III, Senin (13/08/2018) malam.

Sebelumnya Rektor IAIN Salatiga, Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd. dalam sambutannya mengatakan kita merasa bersyukur karena Cak Nun bisa hadir di kampus IAIN Salatiga. Dr. Rahmat Hariyadi teringat pada 30 tahun yang lalu.

“Saya pernah sowan di Cak Nun tahun 1988, ikut menyimak diskusi di Patangpuluhan dan untuk meminta nasihat tentang pergerakan mahasiswa di Salatiga khususnya di kampus IAIN Walisongo Salatiga, tahun ini terulang kembali sehingga Cak Nun bisa hadir kembali di kampus IAIN Salatiga tercinta,” ujar Dr. Rahmat Hariyadi.

Rektor IAIN Salatiga mengajak khususnya para mahasiswa baru IAIN Salatiga untuk belajar dari apa yang disampaikan Cak Nun, sehingga seluruh mahasiswa dapat sinau bareng dan membuka cakrawala tentang keislaman dan keindonesiaan. Serta bagaimana kita seharusnya berislam dan berindonesia dan bagaimana menjadi orang Indonesia yang beragama islam, dan bagaimana menjadi orang islam yang bertanggungjawab terhadap Ibu Pertiwi.

Beliau juga berharap kegiatan ini dapat memberikan bekal kepada para mahasiswa di era millennial ini dalam memahami kultur masyarakat yang saling klaim kebenaran di media sosial maupun bermasyarakat. “Selain itu, para mahasiswa bisa menjadi orang yang mencintai Islam, Indonesia, serta menerima perbedaan,” terang beliau.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Moh. Khusen, M.Ag., M.A. menyatakan bahwa kegiatan Sinau Bareng Cak Nun ini diinisiasi sepenuhnya oleh Dewan Mahasiswa (DEMA) dan Senat Mahasiswa (SEMA) IAIN Salatiga sebagai penanda berakhirnya seluruh rangkaian kegiatan PBAK 2018.

Beliau berharap, melalui kegiatan ini mahasiswa baru betul-betul bisa memahami budaya akademik kampus IAIN Salatiga sekaligus memiliki persiapan yang matang untuk memulai perkuliahan sebagai seorang mahasiswa.

“Melalui kegiatan ini Saya berharap mahasiswa baru dapat memahami budaya akademik di kampus IAIN Salatiga serta meliki persiapan yang lengkap dalam memulia perkuliahan,” kata beliau. (zid/hms)

IAIN Salatiga-#AKSI

 

Maba PBAK Belajar dari Cerita “Tiwul”

SALATIGA – Mahasiswa Baru (Maba) Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2018 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga belajar dari cerita “Tiwul”  yang disampaikan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Rabu (08/08/2018) kemarin.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengaku jadi bahan bullying di media sosial gara-gara pemberitaan mengenai ajakan makan tiwul olehnya yang dimuat di sejumlah media hingga menjadi viral.

Hal tersebut diawali saat di depan ribuan mahasiswa, Ganjar mengatakan hal itu terjadi karena adanya perbedaan persepsi. Pria berambut putih itu menyebut, pemberitaan bermula dari pertanyaan sejumlah wartawan usai ia mengisi kuliah umum di Polines Semarang, Senin (6/8) pekan kemarin.

“Saya ditanya, ada warga di Kebumen yang mengalami kekeringan dan tidak memiliki beras lalu makan tiwul. Ya saya jawab tidak apa-apa makan tiwul,” ujarnya.

Dari pernyataan itu, lanjutnya, muncul beberapa pemberitaan dengan persepsi berbeda. Sehingga hasil pemberitaannya, menurut Politikus PDIP itu berbeda pula.

Dikatakannya, ada media yang memberitakan bahwa Ganjar menganjurkan warganya makan tiwul. “Padahal, apa salahnya coba makan tiwul? Saya bilang makan tiwul boleh, ubi boleh, jagung boleh. Makanan pokok tidak harus beras,” ujarnya.

Bahkan dari pemberitaan itu, Ganjar menceritakan ada seorang pejabat teras partai politik yang ikut berkomentar di twitter. “Dia bilang, Pak Ganjar kalau tidak punya solusi ya jangan menganjurkan warganya makan tiwul. Berarti dia bukan orang Jawa Tengah,” katanya.

Ia menambahkan, ada banyak komentar juga yang justru terkesan tidak bertanggungjawab, dimana makanan tiwul malah dikait-kaitkan dengan politik. Ia pun mengaku sangat menyayangkan hal itu. “Padahal tiwul itu tidak buruk dan enak banyak juga yang suka, janganlah disangkut-sangkutkan dengan politik,” tuturnya.

Ganjar mengatakan bahwa Negara Indonesia dikaruniai sumber pangan melimpah. Dirinya pun mempersilakan masyarakat memanfaatkan kekayaan alam itu, seperti halnya warga Indonesia Timur yang memiliki bahan pangan pokok berupa sagu.

“Jadi kalau ada yang makan selain beras atau nasi, itu bentuk kemandirian bertahan hidup, survive dan termasuk diversifikasi pangan. Boleh-boleh saja, pangan itu ada banyak. Kalau memang ada yang kekurangan pangan di Jateng bilang saya, nanti saya bantu yang penting saya sampaikan jangan makan nasi aking,” jelasnya.

Kembali ke tiwul, Ganjar menyebut ada pelajaran penting yang bisa dipetik. Yakni, tentang bagaimana seseorang yang tidak tahu menahu mengenai informasi sebenarnya, diharapkan banyak membuka wawasan dan tabayyun.

Tabayyun itu penting, menanyakan dulu karena kalau tidak, persepsi yang diterima bisa beda-beda. Terlebih lagi di era millenial dan era digital saat ini, informasi berseliweran di mana-mana. Jadi mari kita lebih arif dan bijaksana dalam merespon sesuatu, gunakan metodologi berfikir,” tandasnya. (zid/hms) IAIN Salatiga-#AKSI

 

Pimpinan IAIN Salatiga Jalin Silaturahmi Dengan Orang Tua Mahasiswa Baru

SALAIGA – Segenap pimpinan dilingkungan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga menjalin silaturahmi dengan orang tua mahasiswa baru tahun akademik 2018/2019, di Gedung K. H. Hasyim Asy’ari Kampus 3, Senin (06/08/2018).

Penyelenggaraan kegiatan tersebut rutin diselenggaran oleh IAIN Salatiga dalam menyambut mahasiswa baru. Dari berbagai jalur pendaftaran yang telah dibuka, pada tahun ini total penerimaan mahasiswa baru IAIN Salatiga mencapai 3.059.

Wakil Rektor Bidang I Bidang Akademik dan Pengempangan Kelembangan, Dr. Agus Waluyo, M.Ag. mengatakan bahwa jumlah yang mendaftar pada IAIN Salatiga tahun akademik 2018/2019 mencapai 12.000. Kemudian jumlah yang telah lolos seleksi yaitu 3.059 mahasiswa.

Hal senada disampaikan Rektor IAIN Salatiga, Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd., bahwa 3.059 mahasiswa yang diterima tersebut sudah melalui berbagai jalur pendaftaran pada Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di IAIN Salatiga. Tentunya setiap mahasiswa merupakan amanat bagi kami untuk mendidik serta memberi bekal ilmu supaya dapat bermanfaat di masyakarat.

“Kami tidak bisa sendiri dalam menjalankan amanat, peran orang tua juga sangat membantu dalam mendidik serta memberikan bekal ilmu yang bermanfaat bagi pribadinya maupun di masyarakat,” terang beliau.

Sementara itu, Basuki, S.PdI mewakili orang tua/wali mahasiswa mengatakan, dengan niat tulus dan ikhlas sebagai orang tua atau wali mahasiswa, menginginkan anaknya menjadi pribadi yang dapat bermanfaat dimasyarakat maupun dirinya sendiri. Disisi lain, kami menyerahkan kepada Rektor dan segenap pimpinan di IAIN Salatiga untuk bisa menuntut ilmu sesuai alur yang telah ada di kampus ini.

“Kami sebagai orang tua/wali mahasiswa menyerahkan kepada lembaga untuk dapat menuntut ilmu serta memberikan bekal agar dapat lebih bermanfaat kelak,” ujarnya. (zid/hms)

SAMBUTAN REKTOR PADA UPACARA PEMBUKAAN PBAK 2018

Bismillaahirrohmaanirrohiim
Assalaamu’alaikum ww.

Segenap pimpinan IAIN Salatiga yang saya hormati…
Para panitia dari Dema, Sema dan seluruh unsur lainnya
Seluruh mahasiswa baru, yang saya cintai dan selalu saya doakan..

Marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah Swt, karena dengan nikmat dan hidayah-Nya lah pagi ini kita dapat berkumpul di sini tanpa halangan suatu apa pun. Sholawat serta salam semoga selalu dilimpahkan kepada baginda Rasulullah Muhammad Saw, beserta seluruh keluarga, sahabat dan pengikutnya.

Mekar berkembang si bunga melati….
Putih warnanya si bunga dahlia
Selamat datang di kampus ini…
Kampusnya calon pemimpin umat dan bangsa

Pergi ke Semarang membeli bendera
Pulangnya singgah di kota Ambarawa…
Mulai sekarang Anda dipanggil Saudara…
Karena telah menjadi seorang mahasiswa

Saudara-saudara para mahasiswa…
Hari ini, kami sungguh berbangga, menyambut kehadiran 3059 mahassiswa baru IAIN Salatiga.
Selamat datang semuanya… Selamat datang calon-calon pemimpin umat dan bangsa.
Kemarin Anda masih dipanggil anak-anak, karena memang masih belum dewasa. Kini kita panggil Saudara, karena di kampus ini Anda adalah Orang Dewasa, yang akan menjadi bagian dari masyarakat ilmiah yang disebut dengan Civitas Akademika. Civitas Akademika itu, terdiri atas dosen dan mahasiswa, yang akan menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan, menyampaikannya dalam pembelajaran, serta mengamalkannya melalui pengabdian kepada masyarakat. Inilah yang disebut Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dengan demikian, mulai saat ini, Saudara semua handaknya dapat berpikir, berperilaku dan berinteraksi sebagai orang dewasa. Yaitu, orang yang sadar akan dirinya, yang bertanggung jawab atas diri dan masa depannya.

Saudara-saudara para mahasiswa yang saya cintai…
Memasuki kampus IAIN Salatiga, kiranya perlu disadari bahwa perguruan tinggi ini bukan hanya mengajarkan ilmu dan melaksanakan tri dharma. Namun IAIN Salatiga, adalah juga mengemban misi dakwah Islam. Setiap sivitas akademika, dosen dan mahasiswa, serta seluruh keluarga IAIN Salatiga, hendaknya dapat menjadi cermin dan teladan di masyarakat dan di mana pun, dalam hal agama, ahlak, maupun sopan santun. Mahasiswa baru hendaknya menyadari, kita semua akan selalu dinilai dan disoroti, apakah perilaku kita sesuai dengan norma-norma agama yang kita yakini. Oleh karena itu, mulai saat ini, semuanya saja kita minta dapat MEMANTASKAN DIRI sebagai mahasiswa IAIN Salatiga, baik dalam bertutur kata, berpenampilan, bergaul maupun dalam keseluruhan perilakunya. Kata kuncinya adalah.. “Memantaskan Diri” sebagai bagian dari masyarakat kampus yang religius.

Saudara-saudara para mahasiswa baru yang saya cintai dan selalu saya doakan…
Keislaman yang dikembangkan oleh IAIN Salatiga sebagai perguruan tinggi negeri, adalah Islam yang moderat (wasathiyah), Islam yang toleran, dan Islam yang rahmatan lil alamiin. Yaitu Islam yang bisa menghargai budaya, Islam yang bisa menghargai perbedaan aliran, yang bisa menghargai pemeluk agama lain, yang bisa hidup damai dengan kelompok atau golongan apa pun dan bahkan memberikan rahmat dan kasih sayang kepada seluruh alam.
Oleh karena itu, kami harapkan para mahasiswa baru untuk mampu memilah dan memilih, dalam menerima ajaran, pemikiran, kelompok maupun gerakan. Jangan sampai terbawa kepada aliran yang bertentangan dengan Ideologi bangsa Indonesia. Kita adalah orang Indonesia yang beragama Islam, dan seorang muslim yang tinggal di negara Indonesia. Karena itu keislaman dan keindonesiaan kita sudah final. Kita sadari bahwa kemajemukan bangsa Indonesia adalah kehendak Allah Swt, dan alhamdulillah kita memiliki ideologi yang bisa mempersatukan bangsa ini. Selalu ingatlah bahwa saudara adalah calon-calon pemimpin umat dan bangsa. Bawalah diri Anda, bisa diterima semua golongan umat, dan bisa memberi sumbangan bagi kemajuan bangsa Indonesia.

Saudara-saudara para mahasiswa baru yang saya cintai dan selalu saya doakan…
Sebagai penutup… akan saya bacakan sebuah puisi pendek.. yang berjudul: “Dari Sini Aku Memulai”

DARI SINI AKU MEMULAI…
Mencari dan menemukan siapa sejatinya diri ini
Semua proses dan interaksi akan aku jalani
Dengan kesungguhan dan rasa gembira di hati
Ketika awal datang… mungkin memang aku masih gamang
Namun kuyakinkan dalam hati
Empat tahun yang akan datang
Aku akan tinggalkan kampus ini..
Sebagai pribadi yang matang
Yang akan membuat bangga orang tua
Yang akan membuat masyarakat percaya
Yang akan membuat umat menerima
Yang siap berbuat dan mengabdi untuk bangsa

Dari sini aku memulai
Membangun mimpi, merenda asa
Merangkai hari menuju dewasa
Memahat dan melukis kesejatian manusia
Yang punya jati diri
Yang punya eksistensi
Yang punya kompetensi
Yang punya kontribusi
Yang memberi makna bagi dunia
Sesuai tugas sebagai khalifah-nya

Dari sini aku memulai…
Mewujudkan hidup yang penuh arti
Semoga Allah meridloi… Amiin

Sekian.. wal’afwu minkum
Wassalaamu’alaikum ww.

Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK)
Tahun Akademik 2018/2019

Selasa, 7 Agustus 2018