PERAYAAN IDUL FITRI DALAM TRADISI ISLAM INDONESIA

PERAYAAN IDUL FITRI

DALAM TRADISI ISLAM INDONESIA

 

Hari raya Idul Fitri merupakan salah satu hari raya umat Islam yang diperingati secara luas di berbagai negara, khususnya yang berpenduduk mayoritas muslim. Di Indonesia, perayaan hari raya ini sangatlah semarak. Paling tidak terdapat tiga tradisi yang membuat perayaan Idul Fitri di negeri ini menjadi begitu masif, yaitu tradisi sungkeman, halal-bihalal, dan mudik.

 

HAKIKAT IDUL FITRI

Terdapat dua pendapat yang berbeda mengenai maka idul fitri. Pendapat pertama, memaknainya sebagai “kembali pada fitrah/kesucian. Sedangkan pendapat kedua mengartikan idul fitri sebagai “hari raya untuk kembali makan/berbuka”. Pendapat pertama mendasarkan pada kata “ied” yang berarti kembali, dan fitri berarti kesucian. Selain itu, pendapat ini juga didukung oleh pemahaman bahwa orang yang selesai melaksanakan ibadah puasa dengan sempurna, dosa-dosanya telah diampuni oleh Allah SWT, sehingga ia laksana terlahir kembali bersih dari noda dan dosa. Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah SAW yang artinya “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (Muttafaq ‘alayh)”. Selain itu juga: “Barangsiapa yang shalat malam di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu(Muttafaq ‘alayh)” . Manakala seseorang telah diampuni semua dosa-dosanya, maka ia dapat dikatakan kembali kepada kesucian sebagaimana saat dilahirkan.

Adapun pendapat kedua didasarkan pada kata Ied dalam hari raya, dan bentuk jamaknya adalah a’yad. Adapun kata fithr (فطر) yang berarti makan/berbuka (ifthar (إفطار), tidaklah sama dengan kata fithrah yang berarti kesucian. Selain itu, pendapat ini juga mengaitkan dengan hari raya Idul Adha, yang berarti “hari raya penyembelihan hewan qurban”, bukan “kembali kepada adha”. Oleh karena itu, maka pendapat kedua mengartikan idul fitri sebagai hari raya untuk kembali berbuka/makan.

Dari dua pemaknaan di atas, nampaknya selama ini kebanyakan masyarakat Indonesia cenderung pada pemaknaan yang pertama. Selain itu, terlepas dari perbedaan pemaknaan di atas, realitasnya Idul Fitri telah menjadi bagian dari tradisi dan budaya masyarakat Indonesia yang khas, yang tidak ditemukan di negara-negara muslim lainnya.

Dalam melihat setiap tradisi, tentu yang paling penting untuk dilihat adalah dari segi kebaikan dan manfaatnya, selain tidak bertentangan dengan pokok-pokok aqidah. Berikut akan kita kupas tradisi yang menyerati perayaan Idul Fitri di Indonesia, yaitu sungkeman, halal bi halal, dan mudik.

TRADISI SUNGKEMAN

Tradisi sungkeman pada awalnya berasal dari tradisi pisowanan di lingkungan kerajaan, khususnya di Jawa. Pada kesempatan ini, para pembantu raja menghadap (sowan– Bahasa Jawa), pada acara-acara resmi yang diselenggarakan oleh raja. Kata “sungkem” sendiri bermakna “menjabat tangan sambil menciumnya” (raja/orang tua/atau orang yang sangat dihormati). Biasanya orang yang dihormati tersebut dalam posisi duduk di kursi, sementara orang yang menjabat tangannya dalam posisi berjongkok, sambil memegang dan mencium tangan di atas lutut orang yang dihormati. Tradisi ini sampai saat ini masih dilakukan oleh pengantin dalam upacara pernikahan adat Jawa.

Sungkeman mengandung makna bahwa orang yang mencium tangan itu (anak/yang lebih muda/bawahan): menyatakan pengakuan atas kemuliaan orang tersebut, mengungkapkan terima kasih yang dalam, mengakui kerendahan diri dan memohon maaf, serta mengharap do’a dan restu dari orang tersebut. Sementara itu, orang yang lebih tua/terhormat biasanya akan memandang dengan penuh rasa kasih sayang, memberikan doa restu, serta semakin memiliki rasa tanggung jawab untuk berbuat/berdoa bagi kebaikan kehidupan orang tersebut.

Dalam konteks Idul Fitri dewasa ini, tradisi sungkeman biasanya lebih banyak ditemukan pada keluarga, yaitu antara anak dengan ayah ibu, cucu dengan kakek, keponakan dengan paman atau bibinya, dan seterusnya. Tradisi sungkeman sejalan dengan pola relasi sosial dalam masyarakat di mana setiap orang itu harus andhap ashor dan mengerti unggah-ungguh. Maksudnya, setiap orang hendaknya selalu bersikap rendah hati, dan bisa menempatkan/menghormati orang lain sesuai dengan kedudukan atau statusnya. Konsep ini adalah salah satu manifestasi konsep rukun (harmoni) dalam relasi sosial pada masyarakat Jawa. Apabila setiap orang bersikap andhap ashor dan menerapkan unggah-ungguh, maka hubungan kekerabatan/sosial akan berjalan harmonis, terhindar dari segala konflik.

Pada masyarakat modern dewasa ini, di mana kebanyakan keluarga besar hidup terpencar di berbagai daerah sesuai dengan pekerjaannya, maka acara sungkeman itu kemudian biasanya dikemas dalam pertemuan keluarga besar yang biasa juga disebut dengan halal bi halal. Untuk dapat hadir dan berjumpa keluarga besar tersebut, maka mereka yang bekerja di daerah-daerah lain pulang ke kampung halaman, yang dikenal dengan mudik (menuju ke Udik-tempat asal di pedalaman).

Sementara itu, dewasa ini di kalangan pejabat tinggi tradisi sungkeman ini dinamakan open house, di mana pejabat menerima staf dan karyawan serta masyarakat umum untuk berkunjung dan mengucapkan selamat hari raya idul fitri. Tentu saja yang dilakukan tidak lagi berjongkok sambil sungkem, namun cukup berjabat tangan.

TRADISI HALAL BIHALAL

Dalam perspektif ajaran Islam, setiap manusia selalu terlibat dalam dua hubungan, yaitu hubungan dengan Tuhan (habl min-Allah), dan hubungan dengan sesama manusia (habl min an-naas). Dalam kedua hubungan tersebut, maka setiap individu hampir dipastikan memiliki kesalahan, baik kepada Allah maupun terhadap sesama.

Selama ramadhan, ada satu doa yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk dibaca, yaitu:

اللهم إنك عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pema’af, Engkau suka memaafkan (hamba-Mu), maka maafkanlah aku”.

Dengan menghayati doa ini, serta dengan memahami hadits di atas, maka dapat diasumsikan bahwa seusai ramadhan, dosa seorang muslim yang sungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah puasa, telah diampuni olah Allah SWT. Selanjutnya untuk menyempurnakan hal ini, maka perlu menghapus dosa terhadap sesama, baik itu keluarga, tetangga, rekan-rekan kerja, maupun orang lain yang memiliki relasi selama ini. Untuk itu maka masyarakat Indonesia memanfaatkan momentum idul fitri untuk saling meminta dan memberi memaafkan.

Memang, menurut al-Qur’an Surat Ali Imran, ayat 134 yang diperintahkan adalah memberi ma’af kepada orang lain. Namun sesuai dengan nilai budaya lembah manah dan andhap ashor, maka kita harus menyatakannya untuk orang lain adalah meminta maaf, dengan terkandung maksud dalam hati bahwa kita pun siap memaafkan kesalahan orang tersebut kedapa diri kita. Sebaliknya, orang yang dimintai maaf, akan menyatakan hal yang sama. Inilah suatu bentuk kehalusan tata krama dalam tradisi Indonesia, khususnya di Jawa.

Terhadap keluarga inti dan tetangga sekitar, biasanya prosesi saling memaafkan tersebut dapat dilakukan secara langsung, individu per individu. Namun ketika relasi itu telah melebar pada suatu lingkungan tempat tinggal yang lebih luas, rekan kerja dalam satu kantor, atau relasi lainnya, kegiatan saling memaafkan ini tidak dapat dilakukan per individu. Dari sinilah kemudian, muncul upacara halal bi halal, yang tujuan utamanya sebenarnya adalah untuk kepraktisan. Kegiatan ini kemudian menjadi tradisi di lingkngan tempat tinggal, kantor-kantor, instansi pemerintah, organisasi dan sebagainya. Dalam halal bi halal ini bahkan biasa diikuti oleh pemeluk agama selain Islam yang menjadi bagian dari komunitas tersebut.

Dalam bingkai budaya yang demikian, kiranya tradisi halal bi halal memiliki nilai positif dan tidak melanggar pokok-pokok aqidah maupun syariat agama Islam.

 

TRADISI MUDIK

Tradisi mudik di hari raya Idul Fitri, mulai marak tentunya sejalan dengan era urbanisasi. Dengan pertumbuhan pembangunan yang pesat di perkotaan, maka banyak tenaga kerja dari berbagai pelosok daerah datang ke kota untuk bekerja pada berbagai profesi maupun strata. Mereka ini meninggalkan kampung halaman dan sanak saudaranya. Bagi mereka ini, ikatan dengan keluarga dan tanah tumpah darah masih sangat kuat. Oleh karena itu, maka momentum yang paling tepat untuk bertemu dengan keluarga, sanak kerabat, serta teman-teman di masa kecil adalah pada saat perayaan Idul Fitri. Dari sinilah maka peristiwa kepulangan para perantau ke kampung halaman untuk bersama-sama merayakan Idul Fitri ini dari waktu ke waktu semakin meluas, seiring dengan pertumbuhan kota-kota besar di Indonesia.

Peristiwa mudik, dapat dianggap menjadi pengganti jargon “mangan ora mangan anggere kumpul”. Jargon ini tentu sudah tidak bisa dilakukan, karena lapangan kerja yang tersedia memaksa orang harus meinggalkan kampung halaman. Namun demikian, semangat “kumpul” itu tidak bisa dihilangkan sama sekali. Oleh karena itu, masyarakat masih bisa memenuhinya dengan melakukan mudik pada waktu yang sama, yaitu pada hari raya Idul Fitri.

Peristiwa mudik, kemudian memiliki dimensi yang sangat luas, dan memaksa pemerintah untuk melayani para pemudik ini. Peristiwa mudik dalam rangka Idul Fitri yang melibatkan jutaan manusia di Indonesia, memiliki dimensi sosial, budaya, ekonomi, politik, keamanan dan sebagainya. Secara sosial, mudik melibatkan pergerakan manusia yang luar biasa, dan menjadi wahana interaksi sosial, pencerminan strata sosial dan sebagainya. Secara budaya, mudik menjadi tradisi khas Indonesia. Secara ekonomi, mudik melibatkan perputaran uang yang sangat besar dengan multiplyer effect yang luar biasa bagi penyebaran ekonomi. Secara politik, mudik juga dapat dimanfaatkan para politisi maupun kandidat kepala daerah untuk kepentingan sosialisasi. Dari sisi keamanan, tentunya diperlukan kerja ekstra dari aparat keamanan untuk menjaga stabilitas baik di kota-kota yang ditinggalkan, di perjalanan, maupun di daerah tujuan para pemudik.

Dalam kaitannya dengan pelaksanaan ibadah puasa, tradisi mudik ini sering dipandang sebagai pemicu hilangnya kekhusyukan di akhir ramadhan, justeru saat-saat di mana umat muslim disuruh bersungguh-sungguh meningkatkan intensitas ibadahnya. Dalam konteks ini, menurut hemat kami adalah terpulang kepada masing-masing individu, bukan pada tradisi mudik itu sendiri. Selama tradisi mudik itu diniatkan sebagai upaya menyambung silaturrahim, birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) serta keinginan untuk berbagi dengan sanak keluarga dan tatangga, maka mudik sungguh merupakan suatu tradisi yang bernilai positif.

 

PENUTUP

Berdasarkan uraian di atas, maka perayaan Idul Fitri dalam tradisi Islam Indonesia, memang tidak bisa dilepaskan dari budaya. Idul Fitri bukan hanya “peristiwa agama”, namun telah menjadi “aktivitas budaya”. Tradisi sungkeman, halal bi halal, dan mudik, secara kasat mata lebih merupakan “wadah budaya” dengan isi dari agama. Isi inilah yang harus dipertahankan dan diteguhkan, bukan dengan menghilangkan wadah.

Akhirnya kami ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H. Mohon maaf atas segala salah dan khilaf.

 

 

PERAYAAN IDUL FITRI

DALAM TRADISI ISLAM INDONESIA

 

Hari raya Idul Fitri merupakan salah satu hari raya umat Islam yang diperingati secara luas di berbagai negara, khususnya yang berpenduduk mayoritas muslim. Di Indonesia, perayaan hari raya ini sangatlah semarak. Paling tidak terdapat tiga tradisi yang membuat perayaan Idul Fitri di negeri ini menjadi begitu masif, yaitu tradisi sungkeman, halal-bihalal, dan mudik.

 

HAKIKAT IDUL FITRI

Terdapat dua pendapat yang berbeda mengenai maka idul fitri. Pendapat pertama, memaknainya sebagai “kembali pada fitrah/kesucian. Sedangkan pendapat kedua mengartikan idul fitri sebagai “hari raya untuk kembali makan/berbuka”. Pendapat pertama mendasarkan pada kata “ied” yang berarti kembali, dan fitri berarti kesucian. Selain itu, pendapat ini juga didukung oleh pemahaman bahwa orang yang selesai melaksanakan ibadah puasa dengan sempurna, dosa-dosanya telah diampuni oleh Allah SWT, sehingga ia laksana terlahir kembali bersih dari noda dan dosa. Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah SAW yang artinya “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (Muttafaq ‘alayh)”. Selain itu juga: “Barangsiapa yang shalat malam di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu(Muttafaq ‘alayh)” . Manakala seseorang telah diampuni semua dosa-dosanya, maka ia dapat dikatakan kembali kepada kesucian sebagaimana saat dilahirkan.

Adapun pendapat kedua didasarkan pada kata Ied dalam hari raya, dan bentuk jamaknya adalah a’yad. Adapun kata fithr (فطر) yang berarti makan/berbuka (ifthar (إفطار), tidaklah sama dengan kata fithrah yang berarti kesucian. Selain itu, pendapat ini juga mengaitkan dengan hari raya Idul Adha, yang berarti “hari raya penyembelihan hewan qurban”, bukan “kembali kepada adha”. Oleh karena itu, maka pendapat kedua mengartikan idul fitri sebagai hari raya untuk kembali berbuka/makan.

Dari dua pemaknaan di atas, nampaknya selama ini kebanyakan masyarakat Indonesia cenderung pada pemaknaan yang pertama. Selain itu, terlepas dari perbedaan pemaknaan di atas, realitasnya Idul Fitri telah menjadi bagian dari tradisi dan budaya masyarakat Indonesia yang khas, yang tidak ditemukan di negara-negara muslim lainnya.

Dalam melihat setiap tradisi, tentu yang paling penting untuk dilihat adalah dari segi kebaikan dan manfaatnya, selain tidak bertentangan dengan pokok-pokok aqidah. Berikut akan kita kupas tradisi yang menyerati perayaan Idul Fitri di Indonesia, yaitu sungkeman, halal bi halal, dan mudik.

TRADISI SUNGKEMAN

Tradisi sungkeman pada awalnya berasal dari tradisi pisowanan di lingkungan kerajaan, khususnya di Jawa. Pada kesempatan ini, para pembantu raja menghadap (sowan– Bahasa Jawa), pada acara-acara resmi yang diselenggarakan oleh raja. Kata “sungkem” sendiri bermakna “menjabat tangan sambil menciumnya” (raja/orang tua/atau orang yang sangat dihormati). Biasanya orang yang dihormati tersebut dalam posisi duduk di kursi, sementara orang yang menjabat tangannya dalam posisi berjongkok, sambil memegang dan mencium tangan di atas lutut orang yang dihormati. Tradisi ini sampai saat ini masih dilakukan oleh pengantin dalam upacara pernikahan adat Jawa.

Sungkeman mengandung makna bahwa orang yang mencium tangan itu (anak/yang lebih muda/bawahan): menyatakan pengakuan atas kemuliaan orang tersebut, mengungkapkan terima kasih yang dalam, mengakui kerendahan diri dan memohon maaf, serta mengharap do’a dan restu dari orang tersebut. Sementara itu, orang yang lebih tua/terhormat biasanya akan memandang dengan penuh rasa kasih sayang, memberikan doa restu, serta semakin memiliki rasa tanggung jawab untuk berbuat/berdoa bagi kebaikan kehidupan orang tersebut.

Dalam konteks Idul Fitri dewasa ini, tradisi sungkeman biasanya lebih banyak ditemukan pada keluarga, yaitu antara anak dengan ayah ibu, cucu dengan kakek, keponakan dengan paman atau bibinya, dan seterusnya. Tradisi sungkeman sejalan dengan pola relasi sosial dalam masyarakat di mana setiap orang itu harus andhap ashor dan mengerti unggah-ungguh. Maksudnya, setiap orang hendaknya selalu bersikap rendah hati, dan bisa menempatkan/menghormati orang lain sesuai dengan kedudukan atau statusnya. Konsep ini adalah salah satu manifestasi konsep rukun (harmoni) dalam relasi sosial pada masyarakat Jawa. Apabila setiap orang bersikap andhap ashor dan menerapkan unggah-ungguh, maka hubungan kekerabatan/sosial akan berjalan harmonis, terhindar dari segala konflik.

Pada masyarakat modern dewasa ini, di mana kebanyakan keluarga besar hidup terpencar di berbagai daerah sesuai dengan pekerjaannya, maka acara sungkeman itu kemudian biasanya dikemas dalam pertemuan keluarga besar yang biasa juga disebut dengan halal bi halal. Untuk dapat hadir dan berjumpa keluarga besar tersebut, maka mereka yang bekerja di daerah-daerah lain pulang ke kampung halaman, yang dikenal dengan mudik (menuju ke Udik-tempat asal di pedalaman).

Sementara itu, dewasa ini di kalangan pejabat tinggi tradisi sungkeman ini dinamakan open house, di mana pejabat menerima staf dan karyawan serta masyarakat umum untuk berkunjung dan mengucapkan selamat hari raya idul fitri. Tentu saja yang dilakukan tidak lagi berjongkok sambil sungkem, namun cukup berjabat tangan.

TRADISI HALAL BIHALAL

Dalam perspektif ajaran Islam, setiap manusia selalu terlibat dalam dua hubungan, yaitu hubungan dengan Tuhan (habl min-Allah), dan hubungan dengan sesama manusia (habl min an-naas). Dalam kedua hubungan tersebut, maka setiap individu hampir dipastikan memiliki kesalahan, baik kepada Allah maupun terhadap sesama.

Selama ramadhan, ada satu doa yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk dibaca, yaitu:

اللهم إنك عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pema’af, Engkau suka memaafkan (hamba-Mu), maka maafkanlah aku”.

Dengan menghayati doa ini, serta dengan memahami hadits di atas, maka dapat diasumsikan bahwa seusai ramadhan, dosa seorang muslim yang sungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah puasa, telah diampuni olah Allah SWT. Selanjutnya untuk menyempurnakan hal ini, maka perlu menghapus dosa terhadap sesama, baik itu keluarga, tetangga, rekan-rekan kerja, maupun orang lain yang memiliki relasi selama ini. Untuk itu maka masyarakat Indonesia memanfaatkan momentum idul fitri untuk saling meminta dan memberi memaafkan.

Memang, menurut al-Qur’an Surat Ali Imran, ayat 134 yang diperintahkan adalah memberi ma’af kepada orang lain. Namun sesuai dengan nilai budaya lembah manah dan andhap ashor, maka kita harus menyatakannya untuk orang lain adalah meminta maaf, dengan terkandung maksud dalam hati bahwa kita pun siap memaafkan kesalahan orang tersebut kedapa diri kita. Sebaliknya, orang yang dimintai maaf, akan menyatakan hal yang sama. Inilah suatu bentuk kehalusan tata krama dalam tradisi Indonesia, khususnya di Jawa.

Terhadap keluarga inti dan tetangga sekitar, biasanya prosesi saling memaafkan tersebut dapat dilakukan secara langsung, individu per individu. Namun ketika relasi itu telah melebar pada suatu lingkungan tempat tinggal yang lebih luas, rekan kerja dalam satu kantor, atau relasi lainnya, kegiatan saling memaafkan ini tidak dapat dilakukan per individu. Dari sinilah kemudian, muncul upacara halal bi halal, yang tujuan utamanya sebenarnya adalah untuk kepraktisan. Kegiatan ini kemudian menjadi tradisi di lingkngan tempat tinggal, kantor-kantor, instansi pemerintah, organisasi dan sebagainya. Dalam halal bi halal ini bahkan biasa diikuti oleh pemeluk agama selain Islam yang menjadi bagian dari komunitas tersebut.

Dalam bingkai budaya yang demikian, kiranya tradisi halal bi halal memiliki nilai positif dan tidak melanggar pokok-pokok aqidah maupun syariat agama Islam.

 

TRADISI MUDIK

Tradisi mudik di hari raya Idul Fitri, mulai marak tentunya sejalan dengan era urbanisasi. Dengan pertumbuhan pembangunan yang pesat di perkotaan, maka banyak tenaga kerja dari berbagai pelosok daerah datang ke kota untuk bekerja pada berbagai profesi maupun strata. Mereka ini meninggalkan kampung halaman dan sanak saudaranya. Bagi mereka ini, ikatan dengan keluarga dan tanah tumpah darah masih sangat kuat. Oleh karena itu, maka momentum yang paling tepat untuk bertemu dengan keluarga, sanak kerabat, serta teman-teman di masa kecil adalah pada saat perayaan Idul Fitri. Dari sinilah maka peristiwa kepulangan para perantau ke kampung halaman untuk bersama-sama merayakan Idul Fitri ini dari waktu ke waktu semakin meluas, seiring dengan pertumbuhan kota-kota besar di Indonesia.

Peristiwa mudik, dapat dianggap menjadi pengganti jargon “mangan ora mangan anggere kumpul”. Jargon ini tentu sudah tidak bisa dilakukan, karena lapangan kerja yang tersedia memaksa orang harus meinggalkan kampung halaman. Namun demikian, semangat “kumpul” itu tidak bisa dihilangkan sama sekali. Oleh karena itu, masyarakat masih bisa memenuhinya dengan melakukan mudik pada waktu yang sama, yaitu pada hari raya Idul Fitri.

Peristiwa mudik, kemudian memiliki dimensi yang sangat luas, dan memaksa pemerintah untuk melayani para pemudik ini. Peristiwa mudik dalam rangka Idul Fitri yang melibatkan jutaan manusia di Indonesia, memiliki dimensi sosial, budaya, ekonomi, politik, keamanan dan sebagainya. Secara sosial, mudik melibatkan pergerakan manusia yang luar biasa, dan menjadi wahana interaksi sosial, pencerminan strata sosial dan sebagainya. Secara budaya, mudik menjadi tradisi khas Indonesia. Secara ekonomi, mudik melibatkan perputaran uang yang sangat besar dengan multiplyer effect yang luar biasa bagi penyebaran ekonomi. Secara politik, mudik juga dapat dimanfaatkan para politisi maupun kandidat kepala daerah untuk kepentingan sosialisasi. Dari sisi keamanan, tentunya diperlukan kerja ekstra dari aparat keamanan untuk menjaga stabilitas baik di kota-kota yang ditinggalkan, di perjalanan, maupun di daerah tujuan para pemudik.

Dalam kaitannya dengan pelaksanaan ibadah puasa, tradisi mudik ini sering dipandang sebagai pemicu hilangnya kekhusyukan di akhir ramadhan, justeru saat-saat di mana umat muslim disuruh bersungguh-sungguh meningkatkan intensitas ibadahnya. Dalam konteks ini, menurut hemat kami adalah terpulang kepada masing-masing individu, bukan pada tradisi mudik itu sendiri. Selama tradisi mudik itu diniatkan sebagai upaya menyambung silaturrahim, birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) serta keinginan untuk berbagi dengan sanak keluarga dan tatangga, maka mudik sungguh merupakan suatu tradisi yang bernilai positif.

 

PENUTUP

Berdasarkan uraian di atas, maka perayaan Idul Fitri dalam tradisi Islam Indonesia, memang tidak bisa dilepaskan dari budaya. Idul Fitri bukan hanya “peristiwa agama”, namun telah menjadi “aktivitas budaya”. Tradisi sungkeman, halal bi halal, dan mudik, secara kasat mata lebih merupakan “wadah budaya” dengan isi dari agama. Isi inilah yang harus dipertahankan dan diteguhkan, bukan dengan menghilangkan wadah.

Akhirnya kami ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H. Mohon maaf atas segala salah dan khilaf.

 

تَقَبَلَ اللهُ مِنَّاوَمِنْكُمْ. جَعَلَنَااللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ الْعَا ئِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ كُلُّ عَامٍ وَاَنْتُمْ بِخَيْرٍ