IAIN Salatiga Akan Menjadi Rujukan Islam Indonesia

SALATIGA – – Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di Indonesia belum menjadi rujukan mahasiswa di dunia seperti di Al Azhar Mesir atau perguruan tinggi di Madinah. Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Prof. Dr. Phil. Kamaruddin, M.A. mengatakan, sebenarnya penataan akademik perguruan tinggi di Indonesia tidak kalah dengan di luar negeri. Tapi Al Azhar atau Madinah berpengaruh bagi dunia Islam sehingga banyak yang memilih belajar di sana.

“Salah satu penyebabnya yakni dengan biaya yang murah. Artinya orang belajar ke Madinah, Al Azhar ataupun lainnya, di samping berkualitas dan mempunyai sejarah panjang, selain itu karena kuliah di sana itu gratis,” jelas Prof. Kamaruddin dalam International Conference on Indonesian Islam, Education and Science yang digelar IAIN Salatiga, di Laras Asri, Kamis (9/11).

Menurut Kamaruddin, sudah saatnya ada beasiswa bagi mahasiswa asing yang belajar di perguruan tinggi Islam di Indonesia. Dengan adanya beasiswa dari masing-masing perguruan tinggi Islam, maka akan menarik minat mahasiswa asing belajar Islam di Indonesia. “Saya kira IAIN Salatiga mampu untuk memberikan beasiswa kepada mahasiswa asing. Turki saja yang kuotanya hampir sama dengan Indonesia, bisa memberikan beasiswa 150.000 mahasiswa asing,” terang Kamaruddin.

Ia juga menyoroti minimnya publikasi akademisi Indonesia. Sebenarnya banyak akademisi tanah air yang memiliki karya, tapi tidak dipublikasikan secara luas. Prof. Kamaruddin sendiri mengapresiasi publikasi IAIN Salatiga yang telah menembus Scopus, dan menempati peringkat ke empat pada perguruan tinggi Islam se-Indonesia. “Saya berterimakasih kepada IAIN Salatiga, karena salah satu jurnal ilmiahnya dapat terindeks di Scopus menempati peringkat ke empat,” jelas   alumni Rheinische Friedrich-Wilhelms-Universitat Bonn.


Rektor IAIN Salatiga Rahmat Hariyadi dalam sambutannya menuturkan, IAIN Salatiga ingin menjadi rujukan Islam Indonesia bagi masyarakat dunia. Di mana ada Islam yang toleran, Islam yang bisa dikenalkan dan menjadi kebanggaan Indonesia. “Kami harapkan ada pemikiran-pemikiran yang bisa saling memahami dan mengerti perkembangan ilmu bagi kemajuan peradaban dunia,” papar Rahmat.

Sementara Ketua Panitia Konferensi Internasional Hammam, Ph.D. mengatakan untuk mengupas tema konferensi, panitia telah menghadirkan para pakar KeIslaman, Pendidikan dan Sains baik dari Timur dan Barat. Selain menghadirkan Prof. Dr. Phil. Kamaruddin, M.A.  Direktur (Jendral Pendidikan Islam Kementerian Agama RI) sebagai keynote speaker, panitia juga mendatangkan pembicara utama yakni Prof. Dr. Mohd Roslan Bin Mohd Nor (Department of Islamic History & Civilization, Academy of Islamic Studies, University of Malaya), Prof. Dr. Rizwanur Rahman (School of Arabic and African Studies, Jawaharlal Nehru University), Prof. Muhamad Ali, Ph.D (Department of Religious Studies, University of California Riverside, USA), Prof. Dr. Bunyamin Maftuh (Indonesian University of Education, Bandung & Director of Career and Human Resources Competence, Ministry of Research and Higher Education, Indonesia), Prof. Muhammad Alinor Bin Abdul Kadir (Universitas Kebangsaan Malaysia), Dr. Syafiq Hasyim, Director of International Centre for Islam and Pluralism, Jakarta), Agus Purwanto, D.Sc., Departement of Physics, Sepuluh Nopember Institute of Technology), dan Norwanto, Ph.D. (English Education Department IAIN Salatiga).

“Selain peserta dari manca negara, terdapat 125 peserta sebagai penyaji dari berbagai perguruan di Indonesia dan 40 peserta biasa. Konferensi ini mengangkat tema Islam di Indonesia, Pendidikan dan Sains: Prospekdan Tantangannya di Timurdan Barat,” ujar Hamam. (zid/humas)