Kebinekaan Bangsa Indonesia Dimasa Sekarang Perlu Dirawat

Kebinekaan dimasa sekarang perlu dirawat sebagai ideologi kebangsaan Indonesia. Sebab dengan kebinekaan ini mampu mempersatukan rakyat di 17.504 pulau, 1.360 suku, 726 bahasa daerah, serta beragam budaya adiluhung yang memanusiakan manusia.

Hal itu disampaikan Deputi V kantor Staf Presiden, Jaleswari Pramodhawardani saat memberikan sambutan dihadapan pemateri dan pakar tata negara Mahfud MD, Imam B. Prasodjo (dosen FISIP UI), dan Sekda Jateng, Sri Puryono. Acara dibuka Rektor IAIN salatiga Dr. Rahmad Hariyadi, M.Pd. dan diikuti segenap civitas akademika di kampus 3 IAIN Salatiga, Rabu (20/9).

Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd. sendiri merasa bangga karena kampus IAIN Salatiga menjadi bagian penting dalam merawat kebinekaan di Indonesia. Kampus yang berada diantara Kota Semarang dan Surakarta mempunyai peran menyeimbang dalam mewujudkan kebinekaan bangsa Indonesia. “Selain mewujudkan visi di tahun 2030, IAIN Salatiga juga berkewajiban ikut andil dalam merawat kebinekaan di kota toleran dan bangsa Indonesia,” ujar Rektor.

Disisi lain, Mahfud MD saat menjadi pembicara dalam seminar kerja sama antara Kantor Staf Kepresidenan dengan IAIN Salatiga mengatakan “Negara ini dibangun bersama dan gotong -royong menjadi negara merdeka. Berkat kemerdekaan itu, kita bisa mencita-citakan apa saja dan meraihnya. Kita tidak bisa menjadi seperti saat ini kalau Indonesia tidak merdeka,” kata pria asli madura ini.

Karena itu, lanjut Mahfud, kita harus menjaga nilai-nilai kebangsaan, agar kemerdekaan benar-benar bermanfaat dan kuat. Nilai-nilai kebangsaan yang menonjol dan selalu menjadi kesadaran hidup berbangsa adalah bineka tunggal ika, toleransi beragama, gotong-royong, permusyawaratan dan keadilan.

“Oleh karena itu, kita harus menerima paham pluralisme yakni paham bahwa manusia itu diciptakan secara plural atau berbeda-beda. Dalam perbedaan itu, kita bisa saling menerima dan bekerja sama untuk membangun kemajuan dan mencapai tujuan bersama,” jelas mantan Menhankam ini.  


Dikatakan, nilai kebangsaan generasi muda sekarang ini boleh dibilang mengkhawatirkan. Contohnya, di salah satu universitas di Surakarta, dari hasil penelitian, setidaknya ada 50 persen mahasiswa menginginkan Indonesia menjadi negara Islam. Karenanya perlu pemahaman kebangsaan ini kepada para mahasiswa.

Sekda Jateng, Sri Puryono berpendapat, Indonesia memiliki bonus demografi yang cukup besar. Ini perlu disikapi dengan menyiapkan sumber daya manusia. Jika tidak akan menjadi bencana peran daya saing bisa kalah dengan negara tetangga.

Bonus demografi yang dimaksud yaitu pada tahun 2015-2035 jumlah penduduk usia kerja mencapai 70 persen. Sisanya 30 persen penduduk tidak produktif. Bonus demografi ini bisa menjadi jendela kesempatan bagi kualitas hidup masyarakat. Namun bila tidak dikelola dengan bak bisa menjadi jendela malapetaka.

“Kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan dapat kita capai, karena beban penduduk tidak produktif yang ditanggung semakin kecil. Saya menyoroti dampak teknologi sekarang ini seperti maraknya penggunaan gawai yang melanda anak-anak. Orang tua harus mengawasi penggunaan parangkat elektronik ini pada anak-anak. Jangan sampai penggunaan gawai ini malah merusak generasi muda,” tandasnya. 

Imam B. Prasodjo saat memberikan materi terakhir mengatakan Indonesia adalah sebuah negara-bangsa dengan “B” (besar), yang didalamnya terdapat bangsa-bangsa dengan “b” (kecil). Kemudian peran pemerintah adalah memberikan dukungan birokrasi yang dibutuhkan masyarakat. Dengan memberikan dukuran birokrasi seperti pertahanan, pelayan adminitrasi, dan pembangunan jiwa-raga, maka masyarakat akan sejahtera.

“Membangun dan merawat Indonesia sebagai tugas bersama, pemerintah sebagai sentral yang dikelingingi oleh masyarakat bisnis, masyarakat madani, dan masyarakat politik,” ujar dosen FISIP UI.