Kuatkan Rencana Alih Status UIN, IAIN Salatiga Adakan FGD Pembangunan Zona Integritas Menuju WBK

SALATIGA-Institut Agama Islam Negeri Salatiga mengadakan Forum Group Discussion Pembangunan Zona Integritas IAIN Salatiga Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi Melalui Kualitas Pelayanan dan Pengawasan di Auditorium Gedung KH. Hasyim Asy’ari Kampus III IAIN Salatiga pada Rabu (29/7). Acara itu diadakan guna mempersiapkan IAIN Salatiga sebagai pilot project Zona Integritas dan menguatkan rencana alih status menuju universitas.

Rektor IAIN Salatiga, Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawi, M.Ag dalam sambutannya mengatakan bahwa IAIN Salatiga akan meningkatkan pelayanan publik agar stakeholder merasa puas. “IAIN Salatiga sudah dua kali maju sebagai pilot project ZI. Tahun ini, kami mencoba lagi agar bisa sampai WBK (Wilayah Bebas dari Korupsi). Hal ini tidak akan tercapai tanpa kerja sama semua pihak,” tuturnya.

Selanjutnya, Prof. Zakiyuddin mengatakan bahwa inti dari institusi kampus adalah memberikan layanan sesuai strategi yang sudah ditetapkan, “Intinya adalah bagaimana kita memberi pelayanan terbaik kepada stakeholder, dalam hal ini adalah mahasiswa. IAIN Salatiga selalu mencoba untuk membuat inovasi-inovasi agar pelayanan yang diberikan kepada stakeholder tetap prima.” Menurutnya IAIN Salatiga telah melahirkan 55 inovasi baik berupa aplikasi, sistem manajemen, dan layanan publik.

Beberapa inovasi unggulan di IAIN Salatiga antara lain: Kantin Kumis Aki yang bertujuan untuk memberi solusi pendidikan kewirausahaan bagi mahasiswa kurang mampu, SIMPIS (Sistem Informasi Manajemen Pegawai IAIN Salatiga) yang berhasil menjadi pemenang dalam penghargaan Agen Perubahan Inspiratif Kementerian Agama, Green Campus, dan Smart Library of IAIN Salatiga.

“Untuk green campus, kami sudah bekerja sama dengan pemerintah daerah Kota Salatiga dan USAID IUWASH guna mengonservasi air dengan membangun sumur resapan di lingkungan kampus. Perpustakaan kami juga membuat inovasi Smart Library of IAIN Salatiga yang mengantarkan pada akreditasi A,” jelas Rektor IAIN Salatiga.

Selain itu IAIN Salatiga juga sudah banyak memiliki prestasi di tingkat nasional maupun internasional seperti jurnal IJIMS yang berhasil masuk Q1 Scimago dan menjadi Top 30 jurnal terbaik dunia bidang kajian keagamaan, kursus online terbuka dan masif/massive open online course yang dicetuskan Kepala UPTPB IAIN Salatiga, Hanung Triyoko, M.Hum., M.Ed., dua tahun berturut-turut menduduki peringkat pertama dalam pengisian dashboard e-SMS kluster IAIN, serta berbagai penghargaan peneliti terbaik oleh dosen, dan prestasi lain oleh mahasiswa.

Menurut Prof. Zakiyuddin, strategi menuju Wilayah Bebas dari Korupsi sejatinya terdiri dari membangun budaya melayani, menyediakan sarana dan prasarana yang diperlukan, menyediakan layanan berbasis e-office, mengadakan survei kepuasan dan penguatan akuntabilitas, serta memberikan akses informasi kepada publik.

Sedangkan menurut Inspektur Wilayah IV Inspektorat Jenderal Kementerian Agama, Drs. H. Suhersi, untuk mereformasi birokrasi dan membangun zona integritas menuju wilayah bebas dari korupsi diperlukan regulasi yang jelas dan kerja sama antar semua komponen, “Harus ada sistem yang dibangun untuk mencapai predikat zona integrasi menuju wilayah bebas dari korupsi.”

“Ketika membuat inovasi, yang harus diperhatikan adalah manfaat apa yang akan didapat masyarakat dari inovasi yang kita buat. Jadi bukan hanya buat inovasi yang berbeda tapi bagaimana inovasi itu bermanfaat, efektif, dan efisien. Contoh nyatanya Kantin Kumis Aki dari IAIN Salatiga. Kantin Kumis Aki, berbeda, jadi cukup menjadi distingsi dari yang lainnya. Tapi selain itu, Kantin Kumis Aki juga bermanfaat bagi masyarakat kampus, khususnya mahasiswa,” tegasnya.

Drs. Suhersi mengatakan bahwa salah satu indikator dari sistem yang tidak berjalan dengan baik adalah ketidakpuasan yang dilayangkan masyarakat, “Jika ada masyarakat yang kurang puas, itu artinya sistem yang berjalan tidak baik dan tidak sesuai. Dari situ akan kita ketahui pentingnya survei/eveluasi pelayanan, agar kita bisa berbenah jika ada yang kurang baik.”

Setelah itu, dirinya menjelaskan bahwa regulasi akan jadi substansi atau ruh untuk membangun ZI. “Membangun ZI adalah kerja besar. Diperlukan koordinasi dan komunikasi, karena semua bagian dalam satuan kerja berperan dalam pembentukan ZI.”

“Setiap kegiatan harus ada laporan yang lengkap. Pengelolaan lembaga harus baik. Setelah itu harus saling menguatkan komitmen untuk mewujudkan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi. Semoga IAIN Salatiga yang akan segera alih status menjadi UIN Salatiga ini bisa,” pungkasnya.