Tag Archives: kementerian agama

Tingkatkan Komitmen dalam Lingkungan Kerja, IAIN Adakan Workshop

YOGYAKARTA-Institut Agama Islam Negeri Salatiga mengadakan Workshop Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM). Acara yang bertujuan untuk meningkatkan komitmen dalam menciptakan lingkungan kerja yang baik tersebut dilaksanakan di Hotel Merapi Merbabu, Yogyakarta, Jumat-Sabtu (8-9/11/2019) dan diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari staf dan karyawan IAIN Salatiga.

Rektor IAIN Salatiga, Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M. Ag menyampaikan bahwa secara umum kegiatan workshop itu ditujukan untuk mendukung visi pemerintah yaitu menjadikan SDM unggul untuk kemajuan Indonesia. “Indonesia harus siap menghadapi tantangan era 4.0. Semua bidang harus berkembang. Sebagai salah satu institusi pendidikan, IAIN harus bisa memenuhi tuntutan dan permintaan pasar, baik pasar keilmuan maupun pasar inovasi,” ujarnya.

Menurutnya, kunci untuk dapat menghadapi tantangan era 4.0 adalah dengan menguasai perkembangan teknologi, network/jaringan, dan big data.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Zakiyuddin mengatakan bahwa IAIN Salatiga siap menunjang visi Kota Salatiga sebagai Kota Pendidikan. “Mahasiswa IAIN makin lama makin banyak. Banyaknya jumlah mahasiswa inilah yang akan membantu gerak perekonomian di Kota Salatiga,” tambahnya.

Selanjutnya, Kepala Biro Administrasi Umum, Akademik dan Kemahasiswaan (AUAK), Khaeroni, M. Si menyampaikan evaluasi e-SMS (electronic system management stategy) . Khaeroni juga mengatakan bahwa dengan adanya kemajuan teknologi, kekurangan data dukung untuk melengkapi e-SMS bisa diselesaikan dengan memanfaatkan penyimpanan data di dunia maya.

Sedangkan Wakil Rektor bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan, Dr. Agus Waluyo, M. Ag mengatakan bahwa pegawai adalah kontributor terbesar dalam usaha memajukan institusi. Dirinya berpesan agar para pegawai mengenali diri agar bisa bekerja dengan profesional.

“Kerja profesional bisa dicapai dengan mengenali diri dan peran masing-masing. Selain itu penting juga untuk selalu menumbuhkan dan memperbaiki keikhlasan,” tutupnya.

Setelah materi yang disampaikan oleh rektor, kepala biro AUAK, dan wakil rektor itu, acara dilanjutkan dengan character building yang disampaikan oleh Rhythm of Empowerment Indonesia. IAINSalatiga-#AKSI

 

 

Penulis : Lala
Editor : Ilman
Sumber : Kepegawaian

Rektor IAIN Salatiga Imbau Mahasiswa Tidak Silau Peradaban Luar

SALATIGA-Rektor IAIN Salatiga, Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M. Ag mengimbau mahasiswa tidak silau dengan peradaban dari luar. Hal tersebut disampaikan dalam pembukaan Seminar Nasional “Dinamika Nilai Kepahlawanan di Era Milenial sebagai Strategi Dakwah dalam Keberagaman” di Auditorium Kampus III IAIN Salatiga, Selasa (5/11/2019).

Pada kesempatan itu, Prof. Zaki menyampaikan bahwa salah satu ciri yang muncul setelah masa kolonialisme adalah gejala imitasi. Sebagai bangsa merdeka seharusnya masyarakat Indonesia tidak terlalu banyak melakukan imitasi apalagi meniru hal-hal yang negatif. Kebanggaan menjadi bangsa Indonesia harus dipupuk tetapi jangan sampai memunculkan chauvinisme.

“Kemajuan teknologi tidak perlu dipandang sebagai ancaman. Meski banyak tantangan, masih ada harapan,” lanjutnya.

Menurut Rektor IAIN kunci untuk bisa bertahan di era kemajuan teknologi saat ini adalah dengan memperbaiki akhlak dalam bermedia sosial. Selain itu, Prof. Zakiyuddin juga menyampaikan bahwa Pancasila yang menjembatani antara budaya dan agama juga merupakan kunci penting dalam menjaga nasionalisme.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Fakultas Dakwah IAIN Salatiga tersebut juga menghadirkan Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan-Indoneaia (PSIK), Yudi Latif, Ph. D sebagai pembicara. Dalam uraiannya, Yudi menyampaikan bahwa militansi dalam beragama tidak selalu membawa dampak negatif. Misalnya ketika zaman penjajahan jaringan keagamaan berhasil membangkitkan nasionalisme di Indonesia dengan adanya Revolusi Jihad.

“Militansi agama harus disalurkan untuk melakukan sesuatu yang produktif-inovatif. Jangan sampai militansi agama jadi bahan bakar untuk melakukan hal-hal destruktif seperti pertentangan dan permusuhan,” katanya.
Ia juga berpesan kepada para peserta agar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta tidak melupakan agama. “Karena iman adalah benteng terakhir sebuah peradaban,” tutupnya.

Dosen Fakultas Dakwah IAIN Salatiga, Kastolani, Ph. D sebagai pembicara terakhir menyampaikan bahwa nasionalisme era milenial harus melampaui perbedaan agama, etnis, dan golongan.

Lebih lanjut, Kastolani mengatakan bahwa aksi nasionalisme pada masa ini bisa dilakukan dengan cara menolak tersebarnya berita bohong/hoaks dan membudayakan diskusi produktif. Acara yang dihadiri ratusan peserta itu ditutup dengan sesi tanya-jawab.

 

 

Penulis : Lala
Editor : Ilman
Sumber : Fakultas Dakwah

Empat Mahasiswa IAIN Salatiga Ikuti Seleksi OSKI 2019

SALATIGA – Empat mahasiswa dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga mengikuti seleksi tahap penyisihan Olimpiade Sains dan Karya Inovasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (OSKI) tahun 2019 pada Rabu (30/10/2019) di Ruang Jurnal IAIN Salatiga Kampus III. Keempat mahasiswa tersebut berasal dari Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK); Zulfah Khasanah untuk bidang matematika, Istiqomah untuk bidang biologi, Shakhikha Satoto dari untuk bidang Fisika, dan Ikfi Rizqiya untuk bidang Kimia. Tahap penyisihan OSKI yang dibagi menjadi empat sesi itu diikuti oleh 471 mahasiswa dan dilaksanakan serentak secara nasional di masing-masing PTKI.

Ujian seleksi tahap penyisihan tersebut dilaksanakan selama 60 menit secara online dengan jumlah soal yang berbeda untuk masing-masing bidang ilmu. Ujian berlangsung ketat dengan satu orang pengawas dan satu orang teknisi jaringan komputer. Peserta yang lolos tahap seleksi akan maju ke tahap final yang akan diselenggarakan pada 14-16 November 2019 di UIN Allaudin, Makassar, Sulawesi Selatan.

OSKI dimaksudkan sebagai  wahana mahasiswa dan dosen PTKI dalam mengaktualisasikan temuannya di bidang sains dan karya inovasi, sekaligus menjadi ruang pembuktian bahwa PTKI tidak hanya memiliki kehandalan di bidang keislaman tetapi juga sains dan karya inovasi. Demikian pernyataan Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Kamaruddin Amin, seperti yang dikutip dari laman Kementerian Agama. Menurut Kamaruddin,  kehadiran OSKI menjadi salah satu jawaban atas pertanyaan mengapa PTKI menghadirkan program-program studi sains atau prodi umum, “Di antaranya adalah memberikan afirmasi secara akademik tentang integrasi keilmuan dan inovasi-inovasi yang dilahirkan oleh perguruan tinggi keagamaan Islam.”

Hal itu ditegaskan oleh Dirktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis), Arskal Salim, bahwa OSKI adalah ajang kompetisi sekaligus apreasiasi Kementerian Agama terhadap karya inovasi dosen dan mahasiswa dan temuan-temuan sains dan teknologi dari dosen dan mahasiswa PTKI. Kelahiran  OSKI, dilatarbelakangi tuntutan integrasi keilmuan yang menjadi inti PTKI. Sedangkan Kepala Subid Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Diktis, Suwendi, menilai PTKI sudah saatnya tidak hanya handal pada aspek keagamaan, tetapi juga bidang sains dan inovasi pengetahuan harus diperkuat. “OSKI diharapkan akan melahirkan penemu-penemu bidang sains dan inovasi dari kalangan mahasiswa dan dosen PTKI untuk menjawab tantangan kekinian dan kedisinian,” katanya.

 

 

Penulis : Lala
Editor : Ilman
Sumber : LPM IAIN Salatiga

Prof Yudian: Mahasantri Harus Mampu Mengambil di Masyarakat

SALATIGA-Prof. Drs. Yudian Wahyudi, M.A., Ph. D. menegaskan bahwa seorang santri atau mahasantri harus mampu mengambil peran dalam masyarakat serta terus berinovasi, berkreasi, mengembangkan potensi yang ada untuk menghadapi perubahan dan perkembangan zaman secara bijak.

“Apalagi di era reformasi industri 4.0 yang sangat kompleks ini. Perubahan informasi sekecil apapun akan cepat sampai pada masyarakat,” lugas Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta saat menyampaikan dalam Seminar Nasional dengan tema “Eskalasi Mental Spiritual Aktivis Santri Nusantara dalam Mengimplentasikan Nilai-Nilai Kebangsaan di Era Making Indonesia 4.0” yang UKM Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Fathir Ar Rasyid di Auditorium Kampus 1, Sabtu (26/10/2019) .

Sebelumnya, Rektor IAIN Salatiga, Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag. dalam sambutan pembukaan seminar nasional tersebut mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan oleh UKM LDK IAIN Salatiga. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menjadikan hubungan baik antar sesama UKM khususnya UKM Dakwah dalam menjalin relasi.

“Tentunya kegiatan ini diharapkan dapat mendukung moderasi di kampus yang sudah dicanangkan pada seluruh PTKIN khususnya IAIN Salatiga,” kata Rektor IAIN Salatiga.

Sementara itu, Walik Gubernur Jawa Tengah, di wakili  Kepala Biro Kesra Jawa Tengah Drs. Imam Masykur, M. Si. mengatakan, peran santri baik pondok pesantren maupun mahasantri di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) sangatlah diharapkan untuk menjaga keutuhan NKRI dan stabilitas keamanan dan keberagaman.

“Karena itu seorang santri dan mahasantri harus menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, moderat, pluralisme dan humanisme. Melalui nilai tersebut para santri dan mahasantri dapat berperan aktif di masyarakat dalam menjaga keutuhan NKRI,” ujarnya.

Rangkaian memperingati hari Santri Tahun 2019 tersebut diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Fathir Ar Rasyid IAIN Salatiga dengan menghadirkan Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, M.A., Ph. D. (Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Kepala Biro Kesra Pemprov Jateng Drs. Imam Masykur, M. Si. Kegiatan tersebut juga dihadiri perwakilan  UKM Dakwah Perguruan Tinggi di Jawa Tengah dan DIY seperti Unnes, Undip, IAIN Kudus, IIQ Yogyakarta, STAISPA Kaliurang, UIN Walisongo, UIN Sunan Kalijaga dan sebagainya dengan total mencapai 400 peserta.

Selain itu, LDK Fathir Ar Rasyid juga menyelenggarakan Workshop Nasional yang diselenggarakan di Hotel Le Beringin Salatiga tanggal 26-27 Oktober 2019. Pada kegiatan tersebut panitia mengundang tiga pemateri yakni Prof. Dr. Syamsul Maarif, M. Ag. Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Kesehatan UIN Walisongo, Yassir Alimi, Ph. D. Dosen UNNES-UNDIP, dan Dr. Ilya Muhsin, M. Si. Dosen IAIN Salatiga sekaligus pembina LDK IAIN Salatiga. Kegiatan Workshop diikuti oleh 120 orang perwakilan lembaga dan pengurus LDK IAIN Salatiga.

 

 

Penulis : Ilman
Editor : Lala
Sumber : LDK Fathir Ar Rasyid

Mahasiswa Peraih IPK Tertinggi: Berprestasi Melejit dan Berjiwa Sosial Tinggi

SALATIGA – Mahasiswa berprestasi banyak dan sangat mudah ditemukan, tetapi hanya sedikit dari mahasiswa-mahasiswa berprestasi tersebut yang juga memiliki jiwa sosial. Salah satu dari sedikit mahasiswa berprestasi yang memiliki jiwa sosial tersebut adalah Wildan Nur Hidayat, wisudawan peraih IPK tertinggi (3,95) pada wisuda ke-10 IAIN Salatiga.

Kegiatan sosial yang dikerjakan oleh putra pasangan (Alm) Abdul Majid, S.Pd dan Iyas Karmayas tersebut sama banyaknya dengan prestasi yang ia raih. “Saya biasa mengajar ibu-ibu di sekitar rumah mengaji. Terkadang juga mengajar anak-anak. Sesekali berbagi ilmu dan pengalaman bersama teman-teman mahasiswa,” jawabnya ketika ditanya soal kegiatan yang dilakukan selain kuliah. Wildan adalah founder Al-Birr, sebuah wadah pelatihan bahasa Inggris dan hafalan Al-quran untuk anak-anak sekolah.

Pemilik skor TOEFL (Test Of English as Foreign Languange) 520 itu senang membantu teman-teman mahasiswa belajar bahasa Inggris, terutama pada aspek berbicara (speaking) dan mendengar (listening).

Selain itu ia juga membuka kelas penulisan untuk teman-temannya. Ketika ditanya apa alasannya membuka kelas penulisan, Wildan menceritakan pengalamannya saat menjadi juri sebuah perlombaan menulis, “Pesertanya sedikit, saya jadi miris,” kata anak keempat dari lima bersaudara tersebut.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa tingkat baca masyarakat Indonesia, khususnya para mahasiswa sebenarnya tidak rendah. Hanya saja kualitas bacaannya perlu ditingkatkan, karena sejatinya kualitas bacaan akan memengaruhi kualitas tulisan yang dihasilkan.

Mahasiswa yang menjadi liaison officer program Talent Scouting tersebut juga aktif berbagi info tentang pelatihan, beasiswa, serta pertukaran pelajar bagi mahasiswa S1 sampai S2 lewat program Go Change dan Master Club. Semua kegiatan berbagi ilmu dan pengalaman tersebut Wildan jalankan dengan cuma-cuma.

Tidak hanya fokus di bidang pendidikan, Wildan juga mengikuti Dewan Masjid Indonesia (DMI) Tim Masjid Bersih dan Sehat Kota Salatiga. “Memastikan tempat ibadah umat Islam adalah hal yang penting. Setiap Sabtu saya dan tim dari DMI berkeliling Salatiga untuk menggerakkan masyarakat menjaga kebersihan dan kesucian masjid di sekitarnya,” jelasnya.

Selain memupuk jiwa sosial, pemuda yang ingin menjadi profesor di bidang Islamic Studies tersebut mengembangkan diri dengan mengikuti berbagai kegiatan. Wildan aktif mengikuti berbagai perlombaan menulis dan berbagai program pengembangan diri. Tulisannya yang berjudul “Generasi Milenial Islam Wasathiyah” berhasil masuk jurnal Nasional At-Tahdzib IAIN Purwokerto Vol. 7 No. 1. Tulisan lainnya yang berjudul “Generasi Pancasila dan Islam Rahmatan lil Alamin” masuk dalam Antologi Essai LYC 2018.

Selain menulis di berbagai jurnal, mahasiswa yang menulis skripsi berjudul “Eksistensi Masjid di Kompleks Hiburan Malam” tersebut juga menulis artikel di surat kabar. Tulisannya yang berjudul “Generasi Pemuda Milenial Pancasila” dimuat di harian nasional Republika sedangkan tulisan berjudul “Generasi Pancasila dan Rahmatan lil’alamin” dimuat di harian Tribun Jateng.

Sedangkan program pengembangan diri yang pernah diikuti Wildan antara lain adalah Lombok Youth Camp 2018 dan Wosfes Islamic Path di Tokyo pada 2018. “Paling berkesan ketika di Lombok. Di program itu saya dapat Best Participant,” ujarnya mengenang program yang diselenggarakan oleh Nusa Tenggara Center bekerja sama dengan PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan United Nations Development Program (UNDP).

Berbagai penelitian juga dilakukan oleh pemuda kelahiran Tasikmalaya, 5 November 1996 tersebut, diantaranya adalah penelitian kompetitif “Strategi Penanaman Nilai Agama Islam Orang Tua pada Anak (Studi Kasus Kompleks Hiburan Malam Sembir, Desa Sarirejo, Kecamatan Sidorejo, Salatiga)” pada 2017 dan penelitian kompetitif “Stategi Pendidikan Kerohanian Islam (Studi Kasus Orang Tua Eks Narapidana Rutan Kelas IIB Kota Salatiga)” pada 2018.

Sibuk dengan berbagai kegiatan, Wildan tetap menekuni hobinya bermain catur. Ia mulai menyukai permainan catur sejak kecil, tepatnya sejak usia lima tahun. Sejak saat itulah keahliannya bermain catur makin terasah. Hobi bermain catur itu mengantarkannya memenangi juara 1 cabor catur pada PORS Mahasiswa 2017 dan juara III cabor catur paada POM UKSW 2018.

Wildan mengaku masih banyak hal yang harus ia capai dan ia coba, “Perjalanan saya masih panjang. Kalau dipersenkan mungkin baru 20%. Kesempatan itu datangnya berkali-kali, tidak hanya sekali.

Hanya saja kesempatan datang dalam bentuk lain, di lain tempat, di lain waktu. “Belajar dan berdoa itu kewajiban, semua harus mengerjakan yang itu. Tapi jika punya keinginan dan mimpi, tidak salah untuk menulisnya. Tulis saja semua mimpi dan keinginan, dari yang kecil dan sepele sampai yang paling besar,” katanya ketika ditanya tips meraih kesuksesan.

 

 

Penulis : Lala
Editor : Elfikri
Sumber : Wildan Nurhidayat