{"id":3151,"date":"2013-02-04T00:19:39","date_gmt":"2013-02-03T17:19:39","guid":{"rendered":"http:\/\/stainsalatiga.ac.id\/?p=3151"},"modified":"2013-02-04T00:23:08","modified_gmt":"2013-02-03T17:23:08","slug":"model-kerukunan-antar-umat-beragama-studi-kasus-di-kota-salatiga-kab-magelang-dan-kab-semarang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/iainsalatiga.ac.id\/web\/2013\/02\/model-kerukunan-antar-umat-beragama-studi-kasus-di-kota-salatiga-kab-magelang-dan-kab-semarang\/","title":{"rendered":"Model Kerukunan Antar Umat Beragama (Studi Kasus di Kota Salatiga, Kab. Magelang, dan Kab. Semarang)"},"content":{"rendered":"<div>\n<h1>A. Latar Belakang Masalah<\/h1>\n<p style=\"padding-left: 30px;\">Potret lokasi Salatiga, Magelang dan Semarang memperlihatkan eksistensi kampung-kampung muslim dan area-area non muslim. Sebut saja Kauman, adalah nama kampung-kampung dekat masjid tertentu di sebagian besar Jawa Tengah sebagai\u00a0 tempat tinggal orang-orang Islam\u00a0 yang\u00a0 melaksanakan agama secara sungguh-sungguh (Hurgronje (1988: 24)\u00a0\u00a0 Adapun Pastoran adalah nama\u00a0 tempat di Jawa Tengah sebagai pusat kedudukan\u00a0 pastor sebagai pemimpin agama Kristen Katolik. Kauman dan Pastoran sebagai sebuah kampung mempunyai ciri khas\u00a0 yang\u00a0 membedakan dengan kampung-kampung lain.<\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\">Kedekatan lokasi kauman dan pastoran\u00a0 di\u00a0 Muntilan, misalnya yang tergolong unik secara morfologis, karena keduanya berdampingan langsung. Hal ini berbeda dengan kauman dan kampung \u201cindo-Belanda\u201d di Yogyakarta dan Surakarta yang sering menjadi rujukan kota di Jawa. Pasalnya, kampung\u00a0 kauman di Yogyakarta berjauhan jarak dengan kampung \u201cindo-Belanda\u201d.\u00a0 Kampung \u201cindo-Belanda\u201d\u00a0 berada di\u00a0 Loji Kecil dan Kota Baru. Begitu pula perkampungan \u201cIndo-Belanda\u201d di Surakarta berjauhan jarak\u00a0 dengan kauman, sebab kampung ini berada di daerah Babarsari. Kauman dan Pastoran di\u00a0 Muntilan juga berbeda secara morfologis dengan kota-kota pantai, seperti\u00a0 Semarang, Kendal, Tegal, dan Jepara yang tidak memiliki kraton (Daldjoeni, 1998: 19-20).<\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\">Di wilayah Magelang, khususnya Muntilan merupakan tonggak\u00a0 kekuatan historis bagi perkembangan Kristen-Katolik\u00a0 pribumi. Vriens ( 1972: 207-209)\u00a0 mencatat Muntilan sebagai tempat <i>Kweeschool<\/i> pertama di Indonesia (1904) untuk guru-guru asli Indonesia. F.v. Lith, S.J. (1863-1926)\u00a0 sebagai misionaris paling terkenal di antara bangsa Jawa akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 memilih Muntilan sebagai tempat karya misinya. Bagi umat Islam, terutama kalangan <i>tarekat<\/i>, Muntilan juga mempunyai gaung spesifik, karena kedudukan para ulamanya.<\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\">Salatiga, sebagai sebuah kota kecil sarat dengan kaum pendatang yang kemudian membentuk kelompok, berkembang umat di Wilayah Salib Putih, sementara kaum Muslim berdiam di Kauman juga senada sebagaimana terjadi pada kasus daerah Muntilan sebagaimana tersebut di atas. Menyimak posisi Kauman dan \u00a0Pasturan secara morfologis tersebut, maka ada beberapa pertanyaan historis, antropologis,\u00a0 sosiologis, dan politis\u00a0 yang layak diteliti secara serius. Pertanyaan-pertanyaan yang terumuskan dalam pokok masalah proposal ini berkait kelindan dengan beberapa kondisi\u00a0 aktual berikut ini. <b>Pertama<\/b>,\u00a0 dialog antaragama sedang terus mencari bentuk yang tepat untuk kasus-kasus Indonesia. Adat masyarakat seperti <i>Pela Gangong<\/i>\u00a0 di Ambon dan Maluku Tengah\u00a0 ternyata telah mengalami degradasi fungsional (Sihbudi, et.al, 2001). Konflik antarkampung berdampingan yang berbeda agama\u00a0 pun terjadi dan menorehkan sejarah pahit di Indonesia. (Triyono, 2001).\u00a0 Negara tentu berkehendak agar terhindar dari konflik-konflik seperti itu, sehingga\u00a0 memerlukan masukan dini secara akademis. <b>Kedua<\/b>, Sinyal Huntington tentang\u00a0 <i>the Clash of Civilization<\/i> awal tahun 1990-an (Tamara dan Taher, 1995: 3-34) memang tidak benar\u00a0 secara menyeluruh, tetapi Nurcholish Madjid\u00a0 (1995: 42) berpendapat agar bangsa Indonesia tetap memperhatikannya secara serius. Hal ini didasarkan atas kondisi empirik Indoensia yang plural agama. <b>Ketiga<\/b>, Arus pluralisme di tengah umat manusia adalah tantangan serius bagi agama-agama dunia (Coward, 1994: 5). Agama-agama subyek pluralisme itu ada dan berkembang di Indonesia. Di antaranya disebut Komarudin Hidayat (1995: 125) adalah Yahudi, Nasrani, Islam, dan Hindu-Budha.<\/p>\n<p style=\"padding-left: 30px;\">Atas dasar pertimbangan teoretik dan empirik tersebut di atas, maka penelitiAN model kerukunan antar umat beragama di wilayah Salatiga, Magelang dan Semarang perlu dilakukan. Hal ini dimaksudkan agar diharapkan temuan penelitian dapat sebagai \u201csample\u201d yang layak diteliti sebagai pijakan untuk\u00a0 mengembangkan model yang lebih tepat di Indonesia.<\/p>\n<h1>B. Rumusan\u00a0 Masalah<\/h1>\n<p style=\"padding-left: 30px;\">Berkaitan dengan fokus penelitian di komunitas nelayan, industri, dan petani, maka ada beberapa\u00a0 pertanyaan mendasar\u00a0 yang akan dicari jawabnya.<\/p>\n<blockquote>\n<ol>\n<li>Seperti apakah kultur dominan kelompok-kelompok agama di Salatiga, Magelang dan Semarang?<\/li>\n<li>Kontak sosial apasajakah yang dikembangkan dalam menjalin kerukunan antaragama di Salatiga, Magelang dan Semarang?<\/li>\n<li>Problem sosial apakah yang sering muncul dalam kontak sosial antarpemeluk agama di Salatiga, Magelang dan Semarang?<\/li>\n<li>Model dialog\u00a0 keagamaan bagaimanakah yang relevan dikembangkan\u00a0 oleh pemeluk agama di Salatiga, Magelang dan Semarang?<\/li>\n<\/ol>\n<\/blockquote>\n<h1>C.\u00a0 Tujuan Penelitian<\/h1>\n<blockquote>\n<ol>\n<li>Menemukan model kultur dominan kelompok-kelompok agama di Salatiga, Magelang dan Semarang.<\/li>\n<li>Menemukan model kontak sosial yang dikembangkan dalam mejalin kerukunan antaragama di Salatiga, Magelang dan Semarang.<\/li>\n<li>Menemukan jenis problem sosial yang sering muncul dalam kontak sosial antarpemeluk agama di Salatiga, Magelang dan Semarang.<\/li>\n<li>Menemukan model dialog\u00a0 keagamaan yang relevan dikembangkan\u00a0 oleh pemeluk agama di Salatiga, Magelang dan Semarang.<\/li>\n<\/ol>\n<\/blockquote>\n<h1>D.\u00a0 Manfaat Penelitian<\/h1>\n<p style=\"padding-left: 30px;\">Penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi teoretik dalam wacana tentang relasi sosial keagamaan. Adapun secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi kepada\u00a0 pemerintah dalam mengelola iklim pluralitas secara tepat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi pula kepada masyarakat dalam melakukan dialog\u00a0 keagamaan antarmereka.<\/p>\n<h1>E.\u00a0 Metodologi<\/h1>\n<h2 style=\"padding-left: 30px;\">1. Penentuan Subyek Penelitian<\/h2>\n<p style=\"padding-left: 60px;\">Penelitian ini adalah mengkaji dialog agama antara\u00a0 antara\u00a0 warga kampung Kauman dan Pastoran. Oleh karena itu, data dan informasi akan digali dari para warga kampung Kauman dan Pastoran. Penentuan subyek penelitian ini dilakukan secara <i>purpossive <\/i>dan dikembangkan melalui teknik <i>snow ball.<\/i> Penentuan subyek dilakukan secara <i>purpossive<\/i> kepada para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga masyarakat yang dipandang mampu menjawab berbagai pertanyaan. Personal-personal tersebut yang selanjutnya ditetapkan sebagai informan kunci. Teknik <i>snow ball<\/i> diterapkan untuk mencari informan lain yang dirujuk dari para <i>key informan<\/i>. Teknik ini dipakai dengan maksud agar data dan informasi penelitian dikumpulkan dapat mendalam dan komphrehensif.<\/p>\n<h2 style=\"padding-left: 30px;\"><b>2. <\/b><b>Lokasi dan Waktu Penelitian<\/b><\/h2>\n<p style=\"padding-left: 60px;\">Lokasi penelitian ini dilakukan di Salatiga, Magelang dan Semarang Jawaq Tengah. Waktu Penlitian sampai dengan akhir Desember 2011.<\/p>\n<h2 style=\"padding-left: 30px;\">\u00a03. Teknik\u00a0 Pengumpulan Data<\/h2>\n<p style=\"padding-left: 60px;\">Peneliti akan menggunakan 3 (tiga) teknik pengumpulan data sebagaimana lazim digunakan dalam penelitian kualitiatif, yakni:<\/p>\n<h3 style=\"padding-left: 60px;\">1. Wawancara mendalam (<i>in-depth interview<\/i>).<\/h3>\n<p style=\"padding-left: 90px;\">Wawancara ini dilakukan dalam bentuk <i>unstructured <\/i>dan terbuka tetapi tetap terfokus pada masalah yang menjadi topik pembicaraan. Oleh karena itu, teknik pengumpulan data ini tidak membutuhkan instrumen yang berupa sekumpulan pertanyaan yang lengkap dengan redaksi kalimatnya. Hasil dari <i>in-depth interview<\/i> ini akan berupa <i>interview transcript<\/i> yang merupakan data mentah yang akan dianalisis.<\/p>\n<h3 style=\"padding-left: 60px;\">2. Observasi partisipasi (<i>Participant Observation<\/i>).<\/h3>\n<p style=\"padding-left: 90px;\">Teknik obeservasi ini mengharuskan peneliti terlibat langsung dengan subjek\/objek yang diamati. Dalam hal ini, peneliti akan mengamati berbagai aktifitas keagamaan dan sosial dari masjid dan gereja yang berdekatan lokasi. Hasil dari kegiatan observasi ini akan dituliskan dalam bentuk <i>field notes, <\/i>yangselanjutnya akan dianalisis.<\/p>\n<h3 style=\"padding-left: 60px;\">3. Studi dokumentasi.<\/h3>\n<p style=\"padding-left: 90px;\">Teknik ini digunakan untuk melengkapi data yang diperoleh melalui wawancara dan observasi. Adapun dokumen-dokumen yang akan dipelajari adalah segala sumber tertulis yang memuat informasi tentang objek penelitian Dilihat dari tahapan-tahapan yang akan dilalui dalam pengumpulan data dapat diuraikan dalam 4 (empat) tahapan, yakni:<\/p>\n<h4 style=\"padding-left: 90px;\">1) Tahap Orientasi.<\/h4>\n<p style=\"padding-left: 90px;\">Dalam tahap ini peneliti melakukan survey awal dan studi pendahuluan guna menyusun rancangan penelitian, memilih lapangan, mengurus perizinan, membangun kerjasasama dan saling percaya dengan semua sumber data (subjek penelitian) dan lain-lain.<\/p>\n<h4 style=\"padding-left: 90px;\">2) Tahap Eksplorasi.<\/h4>\n<p style=\"padding-left: 90px;\">Setelah terbina hubungan yang baik antara peneliti dengan subjek penelitian, maka tahap selanjutnya adalah tahap eksplorasi data. Dalam tahap ini peneliti akan menentukan sumber data yang bisa dipercaya; menggalai data dan informasi yang diperlukan; dan mendokumentasikan data dan informasi ke dalam bentuk <i>field notes,<\/i> maupun <i>interview transcript.<\/i><\/p>\n<h4 style=\"padding-left: 90px;\">3) Tahap Member Check.<\/h4>\n<p style=\"padding-left: 90px;\">Tahap ini sebenarnya merupakan tahap pengujian atas kebenaran data yang telah diperoleh pada tahap eksplorasi. Caranya dengan meminta tanggapan subjek penelitian untuk mengecek kebenaran data yang telah diperoleh serta dengan cara mengkoreksi atau melengkapi data yang belum sesuai tau kurang lengkap.<\/p>\n<h4 style=\"padding-left: 90px;\">4) Tahap Trianggulasi.<\/h4>\n<p style=\"padding-left: 90px;\">Yakni kegiatan pengecekan terhadap kebenaran data yang telah diperoleh melalui cara atau instrumen yang\u00a0 berbeda. Langkah ini digunakan sebagai pengujian atas kebenaran data atau sebagai pembanding atas data yang telah diperoleh. Misalnya,\u00a0 membandingkan hasil wawancara mengenai beberapa hal yang sama terhadap dua orang subjek atau lebih; membandingkan data yang sama yang diperoleh melalui wawancara dengan yang diperoleh melalui observasi maupun studi dokumentasi.<\/p>\n<h3 style=\"padding-left: 30px;\">4. Analisis Data<\/h3>\n<p style=\"padding-left: 60px;\">Analisis data merupakan kegiatan yang berkaitan dengan data yang meliputi pengorganisasian data, pengklasifikasian data, mensintesakannya, mencari pola-pola hubungan, menemukan apa yang dianggap penting dan apa yang telah dipelajari serta pengambilan keputusan yang akan disampaikan kepada orang lain. Analisis data dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data maupun sesudahnya.<\/p>\n<p style=\"padding-left: 60px;\">Sesuai dengan obyek studi yang sarat dengan fenomena keagamaan, maka penelitian ini menerapkan sistesis pendekatan sejarah, antopologi, dan sosiologi. Pendekatan sejarah digunakan sebagai sarana untuk menemukan proses terjadinya perkembangan kelompok agamawan. Hal yang\u00a0 akan dijelaskan dalam proses itu adalah awal kejadian dan faktor-faktor yang ikut berperan di dalamnya. Pendekatan antropologi digunakan untuk menjelaskan pola\u00a0 interaksi\u00a0 antarumat beragama dalam kegiatan sosial keagamaan sesuai tatanan nilai yang dianut masing-masing. Adapun Pendekatan sosiologi digunakan untuk menjelaskan posisi dan peranan\u00a0 subyek-subyek\u00a0 yang terlibat dalam proses terbentuknya\u00a0 kelompok umat beragama yang berdekatan lokasi dan pola dialog agama yang terbentuk antara mereka. Misalnya, peran tokoh-tokoh agama, tokoh politik, penyandang dana, dan pemerintah.<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>A. Latar Belakang Masalah Potret lokasi Salatiga, Magelang dan Semarang memperlihatkan eksistensi kampung-kampung muslim dan area-area non muslim. Sebut saja Kauman, adalah nama kampung-kampung dekat masjid tertentu di sebagian besar Jawa Tengah sebagai\u00a0 tempat tinggal orang-orang Islam\u00a0 yang\u00a0 melaksanakan agama secara sungguh-sungguh (Hurgronje (1988: 24)\u00a0\u00a0 Adapun Pastoran adalah nama\u00a0 tempat di Jawa Tengah sebagai pusat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3154,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[32],"tags":[181,179,182,180],"class_list":["post-3151","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-penelitian","tag-boyolali","tag-kerukunan-umat-beragama","tag-magelang","tag-salatiga"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/iainsalatiga.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3151","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/iainsalatiga.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/iainsalatiga.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/iainsalatiga.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/iainsalatiga.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3151"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/iainsalatiga.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3151\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3153,"href":"https:\/\/iainsalatiga.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3151\/revisions\/3153"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/iainsalatiga.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3154"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/iainsalatiga.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3151"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/iainsalatiga.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3151"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/iainsalatiga.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3151"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}