{"id":8382,"date":"2018-06-02T11:15:37","date_gmt":"2018-06-02T04:15:37","guid":{"rendered":"http:\/\/iainsalatiga.ac.id\/web\/?p=8382"},"modified":"2018-06-08T11:19:39","modified_gmt":"2018-06-08T04:19:39","slug":"learning-outcomes-puasa-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/iainsalatiga.ac.id\/web\/2018\/06\/learning-outcomes-puasa-4\/","title":{"rendered":"LEARNING OUTCOMES PUASA #4"},"content":{"rendered":"<h3><strong>KESABARAN<\/strong><\/h3>\n<p>Puasa merupakan salah satu metode efektif untuk melatih kesabaran. Dinyatakan bahwa puasa itu tidak hanya menahan lapar dan haus.\u00a0<span class=\"text_exposed_show\">Tapi juga harus mampu mengendalikan emosi dan kemarahan. Bahkan, bila ada orang menyakiti dan menantang berkelahi, Orang yang sedang berpuasa tidak selayaknya membalas. Hendaknya ia mengatakan \u201cSaya ini sedang berpuasa\u201d. Ini berarti, sangat tabu bagi orang yang berpuasa untuk memulai pertengkaran<\/span><\/p>\n<p><span class=\"text_exposed_show\"><br \/>\nOrang yang benar-benar berpuasa, pasti adalah orang yang penyabar.<br \/>\nKata bijak menyatakan:<br \/>\n\u0627\u0644\u0635\u0628\u0631 \u0646\u0635\u0641 \u0627\u0644\u0625\u064a\u0645\u0627\u0646 \u0648\u0627\u0644\u0635\u0648\u0645 \u0646\u0635\u0641 \u0627\u0644\u0635\u0628\u0631<br \/>\n\u201cKesabaran adalah setengah dari iman dan puasa adalah setengah kesabaran\u201d<\/span><\/p>\n<div class=\"text_exposed_show\">\n<p>Kesabaran sangat dibutuhkan dalam kehidupan seseorang agar orang bisa melalui berbagai cobaan dan rintangan dan berhasil meraih kesuksesan dalam hidup. Di dalam sabar, paling tidak terkandung tiga kecerdasan.<\/p>\n<p><strong>Pertama,<\/strong> adalah kecerdasan spiritual (SQ). Untuk memahami bahwa dalam setiap peristiwa apa pun. Di sana pasti Tuhan hadir dan melakukan campur tangan. Karenanya, sikap sabar, ridlo dan pasrah, pada saatnya harus dilakukan. Ditambah lagi mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian<br \/>\n<strong>Kedua,<\/strong> kecerdasan emosional (EQ). Suatu saat orang memang boleh atau mungkin marah. Namun orang yang memiliki EQ, ia akan marah pada orang yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan cara yang tepat, dengan kadar yang tepat, serta dengan hasil yang tepat. Ia tidak akan asal marah, sehingga berdampak negatif atau kontra produktif.<br \/>\n<strong>Ketiga,<\/strong> kecerdasan adversity (AQ). Orang yang memiliki AQ tinggi, sabar dan bisa bertahan dalam menghadapai cobaan, kesulitan, tekanan, dan sebagainya. Sehingga akhirnya ia keluar sebagai pemenang dalam segala situasi sulit serta perjuangan yang dihadapi. Ia tidak gampang menyerah, juga tidak mudah puas sebelum mencapai yang terbaik.<\/p>\n<p>Ketika seseorang ingin sukses menjadi pemimpin pada level apa pun. Mulai dari kepala rumah tangga sampai kepala negara. Maka hal pertama yang harus dipelajarinya, adalah belajar bersabar. Karena, tanpa kesabaran seseorang tak akan berhasil dalam kepemimpinan<br \/>\nSebagaimana kata bijak menyatakan:<br \/>\n<strong>\u0627\u0644\u0635\u0628\u0631 \u0647\u0648 \u0627\u0644\u0641\u0636\u064a\u0644\u0629 \u0627\u0644\u0623\u0648\u0644\u0649 \u0627\u0644\u062a\u064a \u064a\u062a\u0639\u0644\u0651\u0645\u0647\u0627 \u0627\u0644\u0631\u0627\u0639\u064a<\/strong><br \/>\nDengan penjelasan di atas, maka ketika Allah memerintahkan<br \/>\n&#8220;Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat&#8221; (QS. Al Baqarah: 45), bisa jadi Allah memerintahkan kita untuk menggunakan segala kecerdasan SQ, EQ, AQ, dan tentu saja IQ. Dan puasa bisa menjadi pelatihan berbagai kecerdasan ini.<\/p>\n<p>Wallaahu a\u2019lam<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KESABARAN Puasa merupakan salah satu metode efektif untuk melatih kesabaran. Dinyatakan bahwa puasa itu tidak hanya menahan lapar dan haus.\u00a0Tapi juga harus mampu mengendalikan emosi dan kemarahan. Bahkan, bila ada orang menyakiti dan menantang berkelahi, Orang yang sedang berpuasa tidak selayaknya membalas. Hendaknya ia mengatakan \u201cSaya ini sedang berpuasa\u201d. Ini berarti, sangat tabu bagi orang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[223],"tags":[],"class_list":["post-8382","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kolom-pimpinan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/iainsalatiga.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8382","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/iainsalatiga.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/iainsalatiga.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/iainsalatiga.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/iainsalatiga.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8382"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/iainsalatiga.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8382\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8383,"href":"https:\/\/iainsalatiga.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8382\/revisions\/8383"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/iainsalatiga.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8382"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/iainsalatiga.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8382"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/iainsalatiga.ac.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8382"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}