Daily Archives: May 3, 2018

Mahasiswa Bidikmisi Presentasi di USIM Malaysia

SALATIGA – Mahasiswa Bidikmisi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga presentasi paper pada National Conference on The Sciences and Social Sciences (Nacoss) ke III yang digelar di Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Rabu-Kamis (2/05).

Konferensi tersebut digagas oleh Academic International Dialogue (AID) Conference dan diikuti dari berbagai negara dengan total mencapai 111 peserta. Mahasiswa Bidikmisi IAIN Salatiga yang terdaftar dalam konfrensi tersebut yakni Ikfi Rizqia Jurusan Tadris IPA, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan; dan Tio Famor Gunawan dari Jurusan Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.

Paper Ikfi Rizqia yang dipresentasikan yakni dengan judul “Problem Solving Sain di Era Digital”. Sedangkan paper dari Tio Famor Gunawan yakni dengan judul “Pengaruh Pembiayaan Mudharobah Masyarakat dan Non Performing Financing Terhadap Tingkat Profitabilitas (Studi Pada Bank Umum Syariah yang Terdapar di Bank Indonesia Periode 2012-2016)”.

Menurut Ikfi Rizqia, Nacoss III merupakan agenda seminar Nasional conference yang dilaksanakan di Malaysia. Saya merasa beryukur merupakan salah satu peserta dari  IAIN Salatiga untuk mewakili acara tersebut. “Event ini bagi saya sangat menarik, peserta berlomba-lomba dalam membuat jurnal, paper dan lain sebagainya untuk dipresentasikan,” ujar Ikfi.

Selain itu, Acara ini sangat mendukung kompetensi dari peserta untuk mengembangkan bakat dalam penelitian-penelitian. Dengan berpartisipasi dalam event tersebut banyak sekali manfaat yang didapat, salah satunya dapat memberikan kontribusi untuk diri sendiri,  jurusan, dan khususnya untuk IAIN Salatiga.

“Dengan mengikuti event tersebut Saya bisa mendapatkan manfaat melalui sharing gagasan dan pengetahuan dari perserta berbagai negara. Tentunya Saya berharap akan ada mahasiswa lain khususnya mahasiswa bidikmisi yang akan mengikuti acara bertaraf internasional di berbagai negara,” tukas Ikfi.

Salah seorang panitia asal Indonesia, Dr. Budi Saputro mengatakan konferensi tersebut membahas berbagai permasalahan di antaranya teaching methods, culture & religion, wisdom of change, banking & finance, earning & expenses, Trust building, satisfaction & performance , education as industry, Arabic, society & neighbourhood, science & digital, undergraduate, leadership & management, industry variaties, teaching & learning.

“Acara konferensi terdapat beberapa sesi antara lain keynote sessions, video presentations, paralel session, poster presentation dan awarding bagi presentasi terbaik,” ujar dia melalui pesan tertulisnya. (zid/hms)

 

Mahasiswa IAIN Salatiga Peserta Nacoss III di Malaysia

SALATIGA – Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga menjadi peserta pada National Conference on The Sciences and Social Sciences (Nacoss) ke-III yang digelar di Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Rabu-Kamis (2-3/05/ 2018).

Konferensi tersebut diikuti 111 peserta dari berbagai negara ini digagas  Academic International Dialogue (AID) Conference. Mahasiswa yang mewakili IAIN Salatiga dan Indonesia dalam konfrensi tersebut yakni Ikfi Rizqia, Wawan Kurniawan dan Muhammad Abdau Yazid dari Jurusan Tadris IPA, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan; Umi Kulsum dan Dennis Ossy January dari Program Pascasarjana S2 PGMI; serta Tio Famor Gunawan dari Jurusan Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Selain itu ada juga satu dosen yakni Prof. Mansur, M.Ag. yang juga menjadi presenter dalam konferensi tersebut.

Salah seorang panitia asal Indonesia, Dr. Budi Saputro mengatakan konferensi tersebut membahas berbagai permasalahan di antaranya teaching methods, culture & religion, wisdom of change, banking & finance, earning & expenses, Trust building, satisfaction & performance , education as industry, Arabic, society & neighbourhood, science & digital, undergraduate, leadership & management, industry variaties, teaching & learning.

“Acara konferensi terdapat beberapa sesi antara lain keynote sessions, video presentations, paralel session, poster presentation dan awarding bagi presentasi terbaik,” ujar dia melalui pesan tertulisnya.

Sementara itu, Moh. Khusen, M.Ag., M.A., Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama saat ditanya tentang mahasiswa yang menjadi peserta dalam Nacoss III di Universiti Sains Islam Malaysia mengakatan, merasa bangga dan bersyukur IAIN Salatiga dapat berpartipasi dalam kegiatan tersebut. “Kami bersyukur dan bangga kepada para mahasiswa yang telah lolos seleksi serta dapat menyampaikan gagasanya melalui paper,” kata Moh. Khusen.

Beliau juga menambahkan, dengan para mahasiswa mengikuti kegiatan tersebut harapannya dapat menambah pengetahuan mereka. “Kedepannya gagasan dari para mahasiswa tersebut dapat bermanfaat bagi masyarakat serta pengembangan ilmu di IAIN Salatiga,” tambahnya. (zid/hms)

Peranan Pendidik Dalam Era Disrupsi Tak Tergantikan

SALATIGA – Meski era disrupsi dan revolusi industri 4.0 memberikan sejumlah dampak terhadap dunia pendidikan, namun peran pendidik tidak pernah tergantikan oleh kecerdasan buatan. Untuk itu, pendidik mesti terus meningkatkan kompetensi dan melihat tantangan sebagai peluang dalam meningkatkan mutu.

Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga Dr. Agus Waluyo, M.Ag. mengungkapkan kecanggihan teknologi memudahkan siapa pun memperoleh ilmu pengetahuan secara mudah dan cuma-cuma. Namun, peran mendidik hanya bisa dilakukan oleh pendidik yang tidak hanya meningkatkan kompetensi peserta didik, namun juga mengajarkan nilai-nilai yang sejalan dengan prinsip kemanusiaan.

”Para dosen, mahasiswa, dan lulusan dituntut dapat beradaptasi dengan perubahan. Namun proses pendidikan harus menyentuh pada taraf kenyataan sosial yang sebenarnya,” ujar dia dalam upacara Hari Pendidikan Nasional di kampus III, Sidorejo, Salatiga, Rabu (2/5).

Sejalan dengan itu, dalam sambutan tertulis Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menyampaikan bahwa kebutuhan pada era kemajuan teknologi, antara lain rencana pembangunan universitas siber (Cyber University) yang dipersiapkan untuk pembelajaran dalam jaringan. Ke depan, pengembangan pendidikan jarak jauh diharapkan mampu meningkatkan akses masyarakat dalam menempuh pendidikan tinggi berkualitas.

Saat ini, lanjut dia, angka partisipasi kasar atau APK pendidikan tinggi baru 31,5 persen. Dengan terobosan ini, diharapkan mampu mencapai 40 persen pada tahun 2022-2023.

Di sisi lain, peningkatan kompetensi dosen dan mahasiswa menjadi hal yang mutlak dilakukan, di samping peran untuk membumikan keilmuan. Ilmu bertujuan untuk memajukan harkat dan martabat manusia dan bukan sebaliknya.

Untuk itu, pendidik mesti menguasai, bukan dikuasai oleh kemajuan. Dengan itu, tema yang diambil oleh Kemristek dan Dikti dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional 2018 adalah ”Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan”.

Rektor IAIN Salatiga Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd. secara terpisah mengatakan perguruan tinggi bukan hanya menjadi pendukung melainkan sebagai motor penggerak untuk memfasilitasi perubahan masyarakat. Untuk itu, perguruan tinggi perlu meningkatkan peran bagi perubahan dan inovasi-inovasi sosial dalam era disruptif ini. “Semua itu mesti dilandasi dengan semangat mencintai bangsa dan negara, dengan mengikuti perkembangan tanpa meniggalkan peran utama,” ujarnya.* (zid/hms)