Pengetahuan vs Pengetahuan Ilmiah

Tidak semua pengetahuan merupakan pengetahuan ilmiah. Orang awam sering memandang pengetahuan ilmiah sebagai pengetahuan semata, sebagai kata benda. Praktik pendidikan (di Indonesia) umumnya hanya mengutamakan unsur pertama, yakni pengetahuan atau kumpulan fakta, tetapi mengabaikan dua unsur lainnya, yakni keterampilan dan sikap.

Hal tersebut diungkapkan Prof. Iwan Pranoto, ketika kuliah tamu di Auditorium gedung K.H. Hasyim Asy’ari Kampus 3 IAIN Salatiga, Rabu (03/04). Kuliah tersebut diikuti tidak kurang 300 peserta mahasiswa dan dosen IAIN Salatiga dan dibuka oleh Rektor IAIN Salatiga Dr. Rahmat Haryadi.

Education dan Culture Attache KBRI New Delhi Prof. Iwan Pranoto mengatakan, di Indonesia, sains kerap diajarkan sebagai buku resep. Kebenaran tunggal Pengajaran dogmatis oleh Guru sebagai sumber kebenaran, menganggap tak ada kebenaran selain yang sudah diketahui.

[espro-slider id=6598]

“Kesalahan dalam penerapan metode pembelajaran dalam pendidikan utamanya bidang sains juga matematika, dapat menganggap diri selalu benar, orang lain selalu salah seperti yang dialami sekarang ini,” papar belaiu.

Prof. Iwan menambahkan, sekarang pemerintah kita terlalu intens dalam mengadakan pelatihan bagi guru ata tenaga pendidik di hotel berbintang dengan waktu cukup lama. Sebenarnya ini tidak salah, namun menyita waktu panjang dan tentunya berbiaya tidak sedikit. Belum lagi, kalau untuk wilayah pedalaman yang tentunya sulit terjangkau, lalu apakah pelatihan tersebut bisa diaplikasikan serta ditularkan kepada tenaga pendidikan yang lain.

“Di era teknologi pemerintah bisa saja memanfaatkan teknologi digital yang ada dan terjangkau, misal dengan mengvisualisasikan metode pengajaran dengan durasi singkat pada setiap sub bab sebagai tutorial. Hari ini misal di sebarkan, maka tidak butuh waktu lama medote pembelajaran guru sudah berubah,” tukasnya saat diwawancarai usai mengisi kuliah tamu.

#iainsalatigaAKSI