Category Archives: Berita

Penganugrahan October For Library Literacy 2017

Perpustakaan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga baru-baru ini menyelenggarakan October For Library Literacy. Puncak acara itu, yakni memberikan penganugrahan kepada visitor dan lomba selfie yang berlangsung di Perpustakaan Kampus III Jalan Lingkar Salatiga Km. 2, Kamis (12/10/2017) lalu.

Rangkaian dimulai dengan lomba selfie (1-10 Oktober 2017), pengunjung teraktif dengan kategori dosen, karyawan, dan mahasiswa. Kegiatan terkahir 12 Oktober 2017, yakni panggung literasi yang menggandeng komunitas literasi mahasiswa dengan menampilkan beberapa performance apik berupa baca puisi, baca pantun, talk show penulisan buku dan penganugrahan  October For Library Literacy.

Kepala Unit Pelayanan Teknik (UPT) Perpustakaan IAIN Salatiga Wiji Suwarno, S.PdI, S.IPI, M.Hum. saat diwawancari mengatakan, alas an membuat kegiatan tersebut pertama pada bulan September merupakan hari literasi atau hari aksara internasional. Kedua pada Oktober bangsa Indonesia memperingati hari Sumpah Pemuda yang yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928.

Dijelaskan, latarbelakang kegiatan ini sebagai penghargaan kepada pengguna perpustakaan, khususnya bagi sivitas akademika IAIN Salatiga. Selain itu, dengan diselenggarakannya kegiatan ini dapat mendekatkan perpustakaan pada mahasiswa, perpustakaan tidak lagi menjenuhkan.

Dengan demikian,  tujuan terselenggarkannya kegiatan ini yaitu “membumikan” perpustakaan kepada masyarakat pengguna (mahasiswa), khususnya Perpustakaan IAIN Salatiga. Selain itu, memberikan apresiasi dan mewadahi bakat minat terhadap pengguna perpustakaan.


October For Library Literacy mempunyai tujuan pertama membumikan perpustakaan, kedua memberikan apresiasi dan mewadahi bakat serta minat para pengguna Perpustaakan IAIN Salatiga,” kata Wiji Suwarno yang juga ketua FPPT Jateng.

Wiji Suwarno menambahkan, bahwa ada lebih dari 100 foto selfie terkirim ke panitia. Hal tersebut sebagai wujud apresiasi, bahwa perpustakaan semakin dekat dengan mahasiswa maupun sivitas akademika. ”Dengan perpustakaan – aku bisa, dengan literasi – aku jaya, dengan perpustakaan literasi – aku bisa jaya,” imbuhnya.

Berdasarkan hasil lomba October For Library Literacy, pemenang lomba selfie Juara 1 Apriliawati (Mahasiswa Ekonomi Syariah), Juara 2  Ayu Tutik Setyowati (dari unsur sekuriti), dan Juara 3  diraih oleh Suethi Maharani (dari Dosen FUADAH). Sebagai pengunjung teraktif tahun 2017 adalah dari kategori mahasiswa  Devye Andari (dari mahasiswa TBI), kategori karyawan dimenangkan oleh Tri Nuri Handayani, S.E., dan dari kategori Dosen diraih oleh Endah Nur Fitriyani, M.E.

Wakil Rektor BIdang Akademik dan Pengembangan Lembaga Dr. Agus Waluyo, M.Ag., dalam sambutannya mewakil Rektor IAIN Salatiga mengatakan sangat mengapresiasi terhadap kegiatan yang diselenggarakan perpustakaan. Kegiatan yang ringan, namun mengena dikalangan mahasiswa maupun sivitas akademika.

“Sudah saatnya mahasiswa menjadikan perpustakaan sumber pencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dosen, bukan lagi mengandalkan internet karena falisitas informasi yang diberikan tidak selamanya ter-up date,” kata Wakil Rektor.

 

DWP IAIN Salatiga Bakti Sosial di Pantia Asuhan

Dharma Wanita Persatuan (DWP) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, melakukan bakti sosial di panti asuhan. Bakti sosial itu diselenggarakan di panti asuhan Aisyiyah (Jl. Imam Bonjol, Salatiga) dan Darul Hadlanah (Blotongan, Salatiga), akhir pecan lalu.

Bakti sosial tahun ini DWP memberikan berupa sembako kepada dua pantia asuhan. Ketua DWP IAIN Salatiga Mardjuatil Mahmudah (Istri Rektor IAIN Salatiga), mengatakan bahwa bakti sosial ini merupakan kegiatan rutin DWP.
“Semoga yang diberikan DWP IAIN Salatiga pada kesempatan ini dapat bermanfaat bagi panti asuhan,” kata ketua DWP.


Sementara, pengasuh Panti Asuhan Puteri Aisyiyah Pursini, mengatakan sangat berterimakasih atas bantuan dari DWP IAIN Salatiga. “Tentunya bantuan ini sangat bermanfaat dan terima kasih atas bantuan yang diberikan kepada kami,” ujar pengasuh.

Sedangkan pengasuh Panti Asuhan Darul Hadlanah Muizzatul Azizah menyambut baik kedatagan DWP IAIN Salatiga dan sangat senang dengan bantuan yang diberikan. “Semoga amal baik ini dapat diterima Allah, kami memohon maaf apabila dapat menerima rombongan DWP terdapat kekurangan,” kata Azizah pengasuh panti.

Tadris IPA Gelar SSO 2017

Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Alam (TIPA) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, menggelar Salatiga Science Olympiad (SSO) 2017 di Kampus III IAIN Salatiga Jl. Lingkar Salatiga, Sabtu (7/10/2017). Kegiatan tersebut diikuti ratusan pelajar SMP/MTs dari beberapa daerah di Jateng.

SSO merupakan ajang kompetisi dalam bidang sains (IPA) bagi siswa SMP/MTs se-Jawa Tengah. Ketua Program Studi Tadris IPA, Dr. Budiyono Saputro, M.Pd., mengatakan tujuan utama penyelenggaraan SSO, untuk menumbuhkembangkan kecintaan siswa dalam bidang sains dan membentuk mental juara.

”Kami berharap agar SSO dapat mengajarkan siswa pada semangat berpikir dan bersikap ilmiah dan menumbuhkan sikap sportif pada kompetisi Olimpiade IPA,” kata Budiono Saputro, kemarin.

Tahun ini merupakan penyelenggaraan kedua SSO, yang merupakan salah satu program unggulan Program Studi Tadris IPA FTIK IAIN Salatiga yang berdiri sejak 2015 lalu. Program Studi Tadris IPA FTIK pada 2017 ini telah terakreditasi oleh BAN-PT dengan status akreditasi B.

Ada tiga tahapan kompetisi olimpiade (SSO) tersebut, yakni tes tertulis berupa pilihan ganda, tes tertulis essay, dan lomba cerdas cermat (LCC). LCC terdiri atas tiga babak, yakni babak wajib, babak praktikum, dan babak ketiga berupa soal rebutan.

Keluar sebagai juara 1 Salatiga Science Olympiad (SSO) II IAIN Salatiga Irsyad Haqqi AL Mukarimy (SMP Al-Firdaus Kartasura), juara 2 diraih Nur Khulasoh Anandhifah (MTs N Model Brebes), juara 3 diraih Athfiana Primarhanda Prameswary (MTs N Salatiga). Sedangkan juara harapan I diraih Muhammad Sulistyo Jati (SMP N 1 Salatiga), juara harapan 2 diraih Umi Farida (MTs Al Uswah Bergas), dan juara harapan 3 diraih Nectarinia Mahmuda (MTs N Surakarta 1). Para peserta berhak mendapat hadiah trofi, medali, dan uang pembinaan.

 

Siswa Gymnasium Ohlstedt Berkunjung di IAIN Salatiga

Sebanyak 19 siswa Gymnasium Ohlstedt, Hamburg, Jerman didampingi dua guru berkunjung di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Mereka berkunjung ke Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Bahasa (UPTPB) IAIN Salatiga, Kamis (5/10/2017).

Kepala UPTPB Hanung Triyoko, M.Hum., M.Ed., mewakili lembaga mengatakan bahwa baru pertama kalinya IAIN Salatiga menerima kunjungan dari siswa Gymnasium Oshlsedt, Hamburg, Jerman. “Kami merasa bangga mendapat kunjungan ini dan itu artinya IAIN Salatiga bisa menjadi rujukan studi Islam,” kata Hanung.     

Hanung Triyoko menambahkan, kunjungan siswa Ohlstedt di IAIN Salatiga dalam rangka berdiskusi dan belajar tentang Islam di Indonesia. Hal itu terkait latarbelakang kehidupan mereka yang sangat berbeda dengan kehidupan muslim di Indonesia.

Dalam diskusi dan belajar Islam hampir semua siswa Ohlstedt mengajukan pertanyaan. Seperti pertanyaan dari Julius Velinkanje, bagaimana tanggapan tentang ISIS atau Islam radikal?, dan pertanyan dari Kristina Dreier, mengapa perempuan muslim berjilbab?.


Menurut Hanung, di Indonesia bukan Islam radikal atau bahkan ISIS. Islam di Indonesia adalah muslim yang damai. “Keberagaman umat Islam di Indonesia yang berasal dari Sabang hingga Merauke, dengan beragam budaya, dan bahasa membuat masyarakat dapat menghargai antara satu dan lainnya,” ujarnya.

Lebih lanjut Hanung menambahkan, bahwa muslimah berjilbab karena mereka menghormati diri mereka sendiri yang mendapatkan status terhormat dalam Islam. “Berjilbab tidak hanya dianggap sebagai ajaran dan kewajiban dalam Islam, tetapi juga kebutuhan muslimah sendiri untuk menjaga kehormatannya,” pungkasnya.

Sementara Michael Semmler mewakili Gymnasium Oshlsedt, Hamburg, Jerman mengatakan, sangat berterimakasih dapat menerima mereka dan menjawab pertanyaan tentang Islam. Michael sendiri mengiyakan bahwa Islam di Indonesia berbeda dengan di negara lain.   

Michael sudah kedua datang ke Indonesia dan melihat sendiri bagaimana muslim di Indonesia begitu damai. Islam di Indonesia bukanlah agama yang menyebarkan radikalisme. Agama Islam di Indonesia membuat semua bangsa mengagumi keberadaannya.

“Kami senang IAIN Salatiga ikut menyebarkan ajakan perdamaian dan ikut aktif dalam kampanye perdamaian antar agama,” pungkas Michael.

 

 

Kebinekaan Bangsa Indonesia Dimasa Sekarang Perlu Dirawat

Kebinekaan dimasa sekarang perlu dirawat sebagai ideologi kebangsaan Indonesia. Sebab dengan kebinekaan ini mampu mempersatukan rakyat di 17.504 pulau, 1.360 suku, 726 bahasa daerah, serta beragam budaya adiluhung yang memanusiakan manusia.

Hal itu disampaikan Deputi V kantor Staf Presiden, Jaleswari Pramodhawardani saat memberikan sambutan dihadapan pemateri dan pakar tata negara Mahfud MD, Imam B. Prasodjo (dosen FISIP UI), dan Sekda Jateng, Sri Puryono. Acara dibuka Rektor IAIN salatiga Dr. Rahmad Hariyadi, M.Pd. dan diikuti segenap civitas akademika di kampus 3 IAIN Salatiga, Rabu (20/9).

Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd. sendiri merasa bangga karena kampus IAIN Salatiga menjadi bagian penting dalam merawat kebinekaan di Indonesia. Kampus yang berada diantara Kota Semarang dan Surakarta mempunyai peran menyeimbang dalam mewujudkan kebinekaan bangsa Indonesia. “Selain mewujudkan visi di tahun 2030, IAIN Salatiga juga berkewajiban ikut andil dalam merawat kebinekaan di kota toleran dan bangsa Indonesia,” ujar Rektor.

Disisi lain, Mahfud MD saat menjadi pembicara dalam seminar kerja sama antara Kantor Staf Kepresidenan dengan IAIN Salatiga mengatakan “Negara ini dibangun bersama dan gotong -royong menjadi negara merdeka. Berkat kemerdekaan itu, kita bisa mencita-citakan apa saja dan meraihnya. Kita tidak bisa menjadi seperti saat ini kalau Indonesia tidak merdeka,” kata pria asli madura ini.

Karena itu, lanjut Mahfud, kita harus menjaga nilai-nilai kebangsaan, agar kemerdekaan benar-benar bermanfaat dan kuat. Nilai-nilai kebangsaan yang menonjol dan selalu menjadi kesadaran hidup berbangsa adalah bineka tunggal ika, toleransi beragama, gotong-royong, permusyawaratan dan keadilan.

“Oleh karena itu, kita harus menerima paham pluralisme yakni paham bahwa manusia itu diciptakan secara plural atau berbeda-beda. Dalam perbedaan itu, kita bisa saling menerima dan bekerja sama untuk membangun kemajuan dan mencapai tujuan bersama,” jelas mantan Menhankam ini.  


Dikatakan, nilai kebangsaan generasi muda sekarang ini boleh dibilang mengkhawatirkan. Contohnya, di salah satu universitas di Surakarta, dari hasil penelitian, setidaknya ada 50 persen mahasiswa menginginkan Indonesia menjadi negara Islam. Karenanya perlu pemahaman kebangsaan ini kepada para mahasiswa.

Sekda Jateng, Sri Puryono berpendapat, Indonesia memiliki bonus demografi yang cukup besar. Ini perlu disikapi dengan menyiapkan sumber daya manusia. Jika tidak akan menjadi bencana peran daya saing bisa kalah dengan negara tetangga.

Bonus demografi yang dimaksud yaitu pada tahun 2015-2035 jumlah penduduk usia kerja mencapai 70 persen. Sisanya 30 persen penduduk tidak produktif. Bonus demografi ini bisa menjadi jendela kesempatan bagi kualitas hidup masyarakat. Namun bila tidak dikelola dengan bak bisa menjadi jendela malapetaka.

“Kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan dapat kita capai, karena beban penduduk tidak produktif yang ditanggung semakin kecil. Saya menyoroti dampak teknologi sekarang ini seperti maraknya penggunaan gawai yang melanda anak-anak. Orang tua harus mengawasi penggunaan parangkat elektronik ini pada anak-anak. Jangan sampai penggunaan gawai ini malah merusak generasi muda,” tandasnya. 

Imam B. Prasodjo saat memberikan materi terakhir mengatakan Indonesia adalah sebuah negara-bangsa dengan “B” (besar), yang didalamnya terdapat bangsa-bangsa dengan “b” (kecil). Kemudian peran pemerintah adalah memberikan dukungan birokrasi yang dibutuhkan masyarakat. Dengan memberikan dukuran birokrasi seperti pertahanan, pelayan adminitrasi, dan pembangunan jiwa-raga, maka masyarakat akan sejahtera.

“Membangun dan merawat Indonesia sebagai tugas bersama, pemerintah sebagai sentral yang dikelingingi oleh masyarakat bisnis, masyarakat madani, dan masyarakat politik,” ujar dosen FISIP UI.