Category Archives: Berita Akademi

LP2M Menargetkan Peneliti Sesuai Target Waktu

SALATIGA-Wakil Rektor Bidang Akdemik dan Pengembangan Kelembagaan, Dr. Agus Waluyo, M.Ag. dalam sambutannya menekankan kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Salatiga agar dapat menyelesaikan penelitian yang sesuai dengan target waktu.

Melalui penyelenggaraan Workshop Peningkatan Mutu Penelitian Dosen IAIN Salatiga di Hotel Laras Asri, Rabu-Kamis (14-15/11/2018) mengajak para peneliti untuk mengevaluasi hasil-hasil penelitian yang ada selama ini dan sehingga penelitian tahun 2019 dapat rampung sesuai waktu yang ditargetkan.

“Sehingga dalam penelitian yang akan datang diharapkan lebih maksimal dan kredibel dalam laporan hasil akhirnya. Ketercapain baik output atau outcome penelitiannya sesuai target waktu dan sasaran yang lebih tepat,” kata Wakil Rektor 1.

Sementara itu, ketua LP2M, Dr. Adang Kuswaya, M.Ag, mengatakan bahwa penelitian yang diselenggarakan oleh LP2M tahun 2018 melibatkan 110 peneliti. Mereka terbagi kepada kluster-kluster penelitian yang disediakan oleh lembaga yang mengacu kepada aturan DIKTIS Kemenag RI.

Penelitian yang diawali dari sosialisasi pada akhir bulan November tahun 2017, lalu pengajuan dan seleksi proposal dilakukan bulan februari 2018 dan mulai bulan April mereka melaksanakan penelitian. Dalam pelaksanaanya mereka dipantau oleh LP2M dengan kegiatan progress repot yang dilakukan sebanyak dua kali yang kemudian mereka menyerahkan hasil akhir berupa laporan akademik dalam bentuk dummy book, laporan keuangan, log book dan executive summary.

“Diseminasi hasil penelitian juga dilakukan sebagai bagian dari pertanggung jawaban kepada publik atas hasil penelitian yang diperoleh,” ujar Dr. Adang.

Ketua LP2M menambahkan, melalui workshop ini juga sebagai evaluasi penelitian yang merupakan salah satu kerja dari LP2M dan hasilnya sebagai acuan untuk peningkatan pelaksanaan pada penelitian tahun berikutnya. Dalam acara ini juga dijadikan sarana sosialisasi penelitian untuk tahun 2019.

“Saya berharap, calon peneliti sudah memiliki gambaran proposal penelitian untuk tahun 2019 yang mengambil tema Kajian Pengembangan Perguruan Tinggi dan Pembelajaran Unggul,” terang Ketua LP2M. IAINSalatiga-#AKSI (zid_hms)

Studi Islam Indonesia Harus Berubah Menuju Era Revolusi Industri 4.0

SALATIGA-Studi Islam Indonesia harus berubah dari kultur keagamaan menuju kultur akademik. Hal ini menjadi tantangan yang dihadapi perguruan tinggi Islam di era revolusi industri 4.0.

Demikian diutarakan Guru Besar Bidang Pemikiran Islam IAIN Salatiga, Prof Asfa Widiyanto sebagai salah satu narasumber dalam seminar nasional bertajuk Islam Indonesia: Epistemologi dan Implementasi dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yang digelar di Hotel Laras Asri Salatiga, Selasa (13/11/2018).

“Islam Indonesia bukan ideologi yang tertutup tetapi terbuka, menjadi inspirasi pengembangan budaya keilmuan,” paparnya.

Menurutnya budaya keagamaan di sebuah masyarakat muslim mempengaruhi karakteristik dan budaya keilmuan di negara tersebut. Di Indonesia idealnya dikembangkan pemikiran Islam yang tidak sekadar mengikuti kepercayaan tetapi didukung fakta.

“Kultur ilmu mempengaruhi produk ilmu. Tugas kita mengembangkan epistemologi yang sesuai dengan Islam Indonesia,” tambahnya.

Hal senada diungkapkan Staf Ahli Kementerian Agama RI, Prof Oman Fathurrahman. Menurutnya studi Islam Indonesia mengubah tradisi keagamaan menuju keilmuan. Contohnya, kata dia, dari sudut pandang teologis atau keagamaan bencana biasa dimaknai sebagai kemarahan, hukuman, takdir dan peringatan Tuhan.

Selain itu dari kaca mata mitologis di masyarakat  muncul mitos-mitos tentang penyebab terjadinya bencana. “Secara keilmuan bencana merupakan mekanisme alam. Hal ini bisa dipelajari dari manuskrip yang ada,” ungkapnya.

Lebih lanjut Prof Oman dalam pemaparannya mengatakan studi Islam Indonesia belum terlalu dikenal di dunia internasional. “Publikasi masih sangat kurang. Karena itu kompetensi dosen dan mahasiswa perlu ditingkatkan terutama di bidang bahasa,” papar pakar filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Pembicara lain, Rektor UIN Antasari Banjarmasin Prof Mujiburrahman mengatakan kajian Islam tradisional saat ini tidaklah cukup, perlu ada tambahan ilmu sosial humaniora. “Pembuat Apple menjelaskan teknologi saja tidak cukup perlu dikawinkan dengan humaniora yang menghasilkan teknologi lebih baik,” terang dia.

Artinya, dalam sudut pandang studi Islam Indonesia diperlukan integrasi antara sains dengan ilmu keislaman dan humaniora. Perguruan tinggi dituntut untuk tidak terkungkung pada bidang ilmu tertentu semata.

Mengenai tantangan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) saat ini adalah menghasilkan sarjana kompeten yang mencerminkan nilai-nilai Islam. Pasalnya sejak pintu demokrasi dibuka aktivis mahasiswa lebih banyak mendekat kepada politisi ketimbang akademisi.

Semakin jarang mahasiswa yang rajin membaca buku dalam pemikiran keislaman yang mendalam. “Perkembangan sosial politik dan budaya Tanah Air ini mempengaruhi mengapa semakin banyak dosen PTKIN yang tampil sebagai pengamat ketimbang pemain,” ujar dia.

Ini sejalan dengan pendapat Rektor UIN Raden Fatah Palembang, Prof Sirozi yang mengatakan PTKIN seharusnya menjadi kiblat studi Islam Indonesia bukan mencari kiblat.  Menurut Sirozi, PTKIN sebagai pusat studi Islam masih belum optimal.

Padahal dukungan khasanah keislaman sangat kaya. Dipaparkan dia, paradoks ilmu pengetahuan yang tidak termanfaatkan karena lemahnya bahasa dan teknologi informasi. “Jika tidak disupport dengan jaringan IT yang bagus PTKI tidak bisa berkembang,” ujar dia.

Di sisi lain, seminar nasional Islam Indonesia digelar IAIN Salatiga dalam rangka penyusunan naskah akademik studi Islam Indonesia. Selanjutnya naskah akademik yang tersusun akan menjadi acuan institusi dalam menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan dihadiri 200 peserta dari unsur dosen dan mahasiswa. IAINSalatiga-#AKSI (cka/zid_hms)

Rektor: Islam Indonesia menjadi roh institusi

SALATIGA-Rektor IAIN Salatiga, Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd. mengatakan, sejak beralih status dari Sekolah Tinggi Islam Negeri menjadi Institut Agama Islam Negeri telah memilih Islam Indonesia sebagai pembeda.

“Karena itu Islam Indonesia menjadi roh institusi,” ujar dia.

Dr. Rahmat melanjutkan, sejauh ini IAIN Salatiga telah mengembangkan budaya akademik yang merujuk pada Islam Indonesia.

“Misalnya interaksi dosen dan mahasiswa serta pengembangan sikap tawaduk. ke depan hal ini tidak hanya berbentuk konseptual tetapi lebih tangible (sesuatu yang terlihat, red) dan mencakup aspek behaviour (tingkah laku, red),” paparnya.

Hal tersebut disampaikan Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd. seminar nasional bertajuk Islam Indonesia ‘Epistemologi dan Implementasi dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi’ dan dilanjutkan penyusunan naskah akademik Islam Indonesia yang akan digunakan sebagai acuan institusi dalam menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, di Hotel Laras Asri Salatiga, Selasa (13/11/18).

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan IAIN Salatiga, Dr. Agus Waluyo, M.Ag. yang sekaligus ketua panitia acara tersebut, mengatakan kegiatan ini bertujuan memberikan masukan akademik demi terwujudnya visi misi institusi.

“Kita mempunyai visi di tahun 2030 menjadi pusat rujukan studi Islam Indonesia bagi terwujudnya masyarakat damai dan bermartabat,” paparnya.

Dr. Agus menjelaskan visi tersebut perlu didiskusikan implementasinya dalam pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat.

“Apalagi saat ini kita dihadapkan dengan revolusi industri 4.0, MEA (Masyarakat Ekonomi Asia, red) dan era disrupsi. Ini menjadi tantangan kita bersama,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Dr. Agus mengatakan, acara dihadiri 200 peserta dari unsur dosen dan mahasiswa.

Hadir sebagai pembicara dalam seminar ini Rektor UIN Banjarmasin Prof Mujiburrahman, Rektor UIN Raden Fatah Palembang Prof Sirozi, Staf Ahli Kementerian Agama Prof Oman Fathurrahman, Guru Besar IAIN SalatigaProf Asfa Widiyanto.

Acara diakhiri dengan diskusi penyusunan naskah akademik Islam Indonesia. (*) IAINSalatiga-#AKSI (zid_hms)

Wisudawan Dihadapkan Era Disrupsi Teknologi

SALATIGA-Saat ini dunia tengah memasuki era disrupsi teknologi yang bergeser pada era Revolusi Industri 4.0, yaitu revolusi berbasis Cyber Physical System yang secara garis besar merupakan gabungan tiga domain yaitu Digital, fisik, dan biologi. Ditandai dengan munculnya fungsi-fungsi kecerdasan buatan (artificial intelligence), mobile supercomputing, intelligent robot, self-driving cars, neuro-technological brain enhancements, era big data yang membutuhkan kemampuan cybersecurity, era pengembangan biotechnology dan genetic editing (manipulasi gen).

Menurut Rektor IAIN Salatiga, Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd., revolusi industri 4.0 akan memunculkan digitalisasi, optimalisasi dan kustomisasi produksi, otomasi, melalui penggunaan teknologi internet. Pola industri baru ini membawa dampak terciptanya jabatan dan keterampilan kerja baru serta hilangnya beberapa jenis pekerjaan atau jabatan.

Beliau juga menambahkan, oleh karena itu, setelah Anda sekalian menyelesaikan studi, Anda diharapkan terus mengembangkan diri dan mempraktikkan kemampuan Anda, terutama dalam lima hal, yaitu Kemampuan berpikir kritis,  Kreativitas dan inovasi, kemampuan atau keterampilan berkomunikasi, kerjasama  dan kolaborasi, serta  kepercayaan pada dir sendiri.

“Dengan lima karakteristik keperibadian tersebut, maka diharapkan para wisudawan akan memiliki jiwa entrepreneur, mampu melihat peluang dan berani memanfaatkannya, bukan hanya menanti sesuatu yang tak pasti,” tambah beliau.

Hal tersebut disampaikan Rektor saat memberikan sambutan Sidang Senat Terbuka IAIN Salatiga dalam rangka Wisuda VIII Program Diploman, Sarjana, dan Magister Tahun 2018, di Kampus III, Jalan Lingkar Salatiga, Sabtu (20/10/2018).

Sementara itu, ditemui secara terpisah, Ketua Panitia, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan, Dr. Agus Waluyo, M.Ag. mengatakan pada wisuda VIII periode Oktober 2018 ini kita mewisuda sebanyak 738 (tujuh ratus tiga puluh delapan) orang yang terdiri dari, Program Diploma Tiga Perbankan Syariah Faskultas Ekonomi dan Bisnis Islam sebanyak 44 (empat puluh empat) orang, Program Sarjana Strata 1 sebanyak 675 (enam ratus tujuh puluh lima) orang.

Program Pascasarjana Strata 2 sebanyak 19 (sembilan belas) orang yang terdiri dari, Program Studi Pendidikan Agama Islam sebanyak 14 (empat belas) orang, Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah sebanyak 2 (dua) orang, Program Studi Ekonomi Syariah sebanyak 3 (tiga) orang.

Program Diploma Tiga (D.3) dicapai oleh Lia Ni`matul Maula dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,85 (tiga koma delapan lima). Program sarjana Starta Satu (S1) dicapai oleh Sakbani dari Program Studi Pendidikan Agama Islam dengan Indeks Prestasi Akademik 3,94 (tiga koma sembilan empat). Program Pascasarjana Strata dua diraih oleh Diah Munfa’ati dengan Indeks Prastasi Kumulatif 3,82 (tiga koma delapan dua).

“Sampai dengan wisuda VIII IAIN Salatiga ini, sejak statusnya masih sebagai Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo di Salatiga sampai sekarang telah mewisuda11704 (sebelas ribu tujuh ratus empat) orang,” terang Dr. Agus. (zid/hms) IAIN Salatiga-#AKSI

IAIN Salatiga Melakukan Kerjasama dengan Saudi Electronic University

MALANG-Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga melakukan kerjasama dengan Saudi Electronic University (SEU). Kerjama tersebut ditandai dengan menandatanganan Memorandum of Agreement (MoA), di gedung rektorat UIN Malang, Jum’at (28/9) pekan lalu.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama., Moh. Khusen, M.Ag., M.A. usai penandatangan mengatakan, bahwa kerjasama tersebut sangat strategis bagi IAIN Salatiga, khususnya dalam rangka untuk pengembangan pembelajaran Bahasa Arab bagi sivitas akademika. Hasil kerjasama yang dilakukan IAIN Salatiga yaitu mendapat program dan aplikasi yang diberikan oleh SEU.

Program dan aplikasi ini juga dilengkapi dengan instrumen evaluasi serupa TOAFL sehingga perkembangan pembelajar Bahasa Arab dapat langsung diketahui dan diukur dengan skor tertentu.

Program dan aplikasi tersebut dapat bermanfaat bagi Jurusan Pendidikan Bahasa Arab di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) dan Bahasa dan Sastra Arab di Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora (FUAH) yang diharapkan dapat segera menindaklanjuti dan mengaplikasikan program ini dalam pembelajaran sehingga pada nantinya semua jurusan juga dapat mengambil manfaatnya.

“Sudah lama mahasiswa menunggu inovasi dalam pembelajaran Bahasa Arab sehingga dapat menghapus kesan bahwa Bahasa Arab itu sangat rumit dan membosankan,” kata Wakil Rektor III.

Sementara, Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz Al-Mosa, menyampaikan bahwa Saudi Electronic University (SEU) terus berusaha mengembangkan program-program untuk menunjang pembelajaran Bahasa Arab utamanya bagi non-Arab, salah satunya dengan mengembangkan pembelajaran Bahasa Arab online. Dengannya siapa saja bisa belajar bahasa Arab secara mandiri, dimanapun dan kapanpun.

“SEU telah bekerjasama dengan kurang lebih 6000 kampus dan pusat bahasa di seluruh dunia, utamanya yang paling diprioritaskan olehnya adalah kampus di Indonesia,” terang Prof. Abdullah. (zid/hms) IAIN Salatiga-#AKSI