Category Archives: Berita Akademi

Peserta Seleksi Mandiri PMB 2018 Mencapai 1.100

SALATIGA-Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga menyelenggarakan ujian seleksi mandiri dalam Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) 2018. Peserta ujian seleksi mandiri sendiri mencapai 1.100 calon mahasiswa baru.

Ujian seleksi mandiri dilaksanakan di gedung K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asy’ari Kampus 3, Selasa (17/07). Pelaksanaan pendaftaran jalur seleksi mendiri dilaksanakan pada tanggal 09 Mei-17 Juli 2018. Sedangkan pengumuman seleksi mandiri tersebut akan dilaknakan pada 20 Juli (mendatang).

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan, Dr. Agus Waluyo, M.Ag. ditemui saat meninjau pelaksanaan ujian seleksi mandiri mengatakan, jumlah peserta tahun ini lebih banyak dibandingkan tahun lalu. Dengan semakin banyaknya pendaftar, maka peserta ujian seleksi mandiri harus bersaing kompetitif.

“Peserta ujian seleksi mandiri tahun ini lebih banyak, itu artinya peserta harus bersaing secara kompetitif dalam mengerjakan soal-soal ujian (kemarin)”, ujarnya.

Dr. Agus Waluyo juga menambahkan, pada pelaksanaan ujian seleksi mandiri tahun ini mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut diantaranya, terpusatnya akses informasi ujian seleksi mandiri. Sehingga peserta ujian dapat segera mengetahui informasi yang dibutuhkan.

Hal senada juga disampaikan Ketua panitia pelaksanaan ujian seleksi mandiri Dr. Anton Bawono, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam saat mendampingi monitoring pelaksanaan ujian, mengatakan bahwa jalur pendaftaran seleksi mandiri ditahun ini mengalami peningkatan. Ia juga mengapresiasi kinerja panitia yang telah membantu terlaksananya pelaksanaan ujian seleksi mandiri IAIN Salatiga 2018.

“Saya mengapresiasi seluruh panitia yang telah bekerja dengan baik, sehingga pelaksanaan ujian seleksi mandiri dapat berjalan dengan lancar,” terangnya. (zid/hms)

Peranan Pendidik Dalam Era Disrupsi Tak Tergantikan

SALATIGA – Meski era disrupsi dan revolusi industri 4.0 memberikan sejumlah dampak terhadap dunia pendidikan, namun peran pendidik tidak pernah tergantikan oleh kecerdasan buatan. Untuk itu, pendidik mesti terus meningkatkan kompetensi dan melihat tantangan sebagai peluang dalam meningkatkan mutu.

Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga Dr. Agus Waluyo, M.Ag. mengungkapkan kecanggihan teknologi memudahkan siapa pun memperoleh ilmu pengetahuan secara mudah dan cuma-cuma. Namun, peran mendidik hanya bisa dilakukan oleh pendidik yang tidak hanya meningkatkan kompetensi peserta didik, namun juga mengajarkan nilai-nilai yang sejalan dengan prinsip kemanusiaan.

”Para dosen, mahasiswa, dan lulusan dituntut dapat beradaptasi dengan perubahan. Namun proses pendidikan harus menyentuh pada taraf kenyataan sosial yang sebenarnya,” ujar dia dalam upacara Hari Pendidikan Nasional di kampus III, Sidorejo, Salatiga, Rabu (2/5).

Sejalan dengan itu, dalam sambutan tertulis Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menyampaikan bahwa kebutuhan pada era kemajuan teknologi, antara lain rencana pembangunan universitas siber (Cyber University) yang dipersiapkan untuk pembelajaran dalam jaringan. Ke depan, pengembangan pendidikan jarak jauh diharapkan mampu meningkatkan akses masyarakat dalam menempuh pendidikan tinggi berkualitas.

Saat ini, lanjut dia, angka partisipasi kasar atau APK pendidikan tinggi baru 31,5 persen. Dengan terobosan ini, diharapkan mampu mencapai 40 persen pada tahun 2022-2023.

Di sisi lain, peningkatan kompetensi dosen dan mahasiswa menjadi hal yang mutlak dilakukan, di samping peran untuk membumikan keilmuan. Ilmu bertujuan untuk memajukan harkat dan martabat manusia dan bukan sebaliknya.

Untuk itu, pendidik mesti menguasai, bukan dikuasai oleh kemajuan. Dengan itu, tema yang diambil oleh Kemristek dan Dikti dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional 2018 adalah ”Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan”.

Rektor IAIN Salatiga Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd. secara terpisah mengatakan perguruan tinggi bukan hanya menjadi pendukung melainkan sebagai motor penggerak untuk memfasilitasi perubahan masyarakat. Untuk itu, perguruan tinggi perlu meningkatkan peran bagi perubahan dan inovasi-inovasi sosial dalam era disruptif ini. “Semua itu mesti dilandasi dengan semangat mencintai bangsa dan negara, dengan mengikuti perkembangan tanpa meniggalkan peran utama,” ujarnya.* (zid/hms)

Wisudawan Mendapat Bekal Tiga Hal

SALATIGA-Dalam memasuki dunia kerja wisudawan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga mendapat bekal tiga. Bekal tiga tersebut yakni karakter yang baik, kompetensi yang jelas, dan kesanggupan untuk terus belajar.

Hal tersebut disampaikan Rektor IAIN Salatiga Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd. pada sidang terbuka dalam rangka Wisuda VII 2018, di kampus 3 Jalan Lingkar Salatiga, Sabtu (21/04) kemarin.

Rektor menjelaskan karakter yang baik meliputi dua sisi. Pertama adalah akhlak dan sifat-sifat pribadi yang baik. Sisi yang kedua, adalah etos kerja yang baik. “Sisi pertama antara lain: jujur, rendah hati, sopan-santun, memiliki ketaqwaan, mampu berkomunikasi dengan baik, dan seterusnya,” kata beliau.

Kemudian syarat kedua untuk memasuki dunia kerja adalah memiliki kompetensi yang jelas. Setelah orang tahu ijasah Anda, maka pertanyaan orang kepada Anda adalah: “Anda bisa apa?”.

Terakhir setelah memasuki dunia kerja Anda harus sanggup untuk terus belajar. Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat cepat. Apa yang kita peroleh kemarin bisa jadi telah menjadi usang karena adanya temuan-temuan baru.

Oleh karena itu, setelah sarjana, bukan berarti saaatnya berhenti belajar. Anda harus memiliki daya literasi, memahami banyak hal, mengetahui berbagai informasi, dan memiliki wawasan yang luas. Jangan sampai kita dikatakan sebagai orang yang “kurang up date”.

“Inilah yang harus Anda persiapkan dan Saya percaya, selama studi di kampus ini para wisudawan telah mendapatkan bekal dasar keahlian yang dibutuhkan,” terang beliau.

Sementara Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangaan Kelembagaan Dr. Agus Waluyo, M.Ag. saat menyampaikan laporan menerangkan bahwa pada wisuda VI ini akan diwisuda sebanyak 286 (tiga ratus delapan puluh enam) orang. Jumlah tersebut diri dari wisudawan program Dlipoma 1 orang, Sarjana Strata 1 sebanyak 279 orang, dan program Pascasarjana Strata 2 sebanyak 6 orang.

Dr. Agus Waluyo juga menyampaikan bahwa sampai dengan wisuda VII IAIN Salatiga ini, sejak statusnya masih sebagai Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo di Salatiga sampai sekarang telah mewisuda 10981 (sepuluh ribu sembilan ratus delapan puluh satu) orang. (zid/hms)

Al Qur’an Secara Riil Telah Menjiwai

SALATIGA-Al Qur’an secara riil telah menjiwai banyak karya sastra di Tanah Air. Ragam metode penyebaran Islam yang dilakukan para pendakwah ke Nusantara sudah terjadi sejak lama. Prolog ini disampaikan TGB Dr. H. M. Zainul Majdi, L.c., M.A berkolaborasi dengan Habiburrahman El Shirazy alias Kang Abik.

Kedua pembicara tersebut diundang oleh Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga dalam acara seminar nasional dengan tema “Arah Baru Penafsiran Al Qur’an di Indonesia” di Auditorium Kampus I, Rabu (28/03/2018).

Lebih lanjut, TGB Zainul menyampaikan ketika para dai dan wali (Wali Songo) berdakwah di berbagai sudut wilayah Nusantara, selalu menggunakan pendekatan yang persuasif, damai namun tetap substantif. Para ulama cerdas bermetode dakwah dengan tidak langsung frontal menyampaikan ajaran dengan menghapus nilai-nilai kebaikan yang sudah ada, melainkan dengan menyerap budaya dan kearifan masyarakat lokal. Dengan catatan, tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan ajaran Islam itu sendiri.

“Pelajaran paling penting dari dakwah Wali Songo bukan sebagai orang paling tahu atau sok tahu. Tapi mereka hadir dengan semangat menyerap nilai-nilai yang baik itu, lalu menitipkan substansi keIslaman sehingga tanah nusantara ini menerima Islam dengan damai,” ujar TGB Zainul.

TGB Zainul jujga menambahkan, literatur sejarah pun mencatat bahwa masuknya Islam hingga ke pojok-pojok wilayah Indonesia yang luas, terjadi dalam suasana kedamaian. Tidak meninggalkan jejak sejarah perang atau konflik yang tebal, melainkan mewariskan sistem percampuran maupun pembauran budaya dan nilai-nilai yang kaya kebaikan.

Firman Allah dalam QS. Al Maidah ayat 3 berbunyi, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu dan telah Aku cukupkan untukmu nikmat-Ku dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu…”

Dari semua atribut Al Quran yang Allah sebutkan, yang terpenting dan paling utama adalah bahwa Al Quran sebagai petunjuk. Al Quran sebagai petunjuk ini mengarahkan bagaimana cara membangun perekonomian yang baik, bersosialisasi dan berbudaya yang baik, serta menciptakan demokrasi yang berkeadaban mulia.

Sementara Habiburrahman El Shirazy alias Kang Abik mengatakan, bahwa salah satu sastrawan yang menggunakan tafsir Al Qur’an yakni Taufiq Ismail. Melalui karya sastranya, Taufiq Ismail lebih banyak menggunakan tafsir Al Qur’an dan contohnya yang berjudul Sejadah Pandang.

“Karya Taufik Ismail sarat nilai religius,dalam perspektif religiositas karya astra Taufik Ismail berada pada posisi signifikan dalam khazanah kesusasteraan bagian dari al-fannal-islami,” kata Kang Abik.

Sedangkan Rektor IAIN Salatiga Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd. dalam sambutan pembukaan seminar nasional tersebut menyampaikan terima kasih atas kehadiran TGB Dr. H. M. Zainul Majdi, L.c., M.A (Gubernur NTB) dan Habiburrahman El Shirazy alias Kang Abik (Penulis Novel). Kedua narasumber pada seminar nasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora (FUAH) ini semoga dapat bermanfaat bagi para mahasiswa IAIN Salatiga dan umumnya bagi masyarakat Kota Salatiga dalam menjaga toleransi umat beragama.

“Tentunya kehadiran Gubernur Nusa Tenggara Barat TGB Dr. H. Zainul Majdi, Lc. M.A. dan Kang Abik dapat memberikan inspirasi kepada semua mahasiswa. Selain itu dengan kehadiran dua pembicara tersebut maka IAIN Salatiga semakin yakin dalam mewujudkan kampus yang menjadi Islam Indonesia di dunia,” kata Rektor. (zid_hms) IAINSalatiga-#AKSI

IAIN SalatigaTambah Guru Besar Bidang Pemikiran Islam

SALATIGA – Prof. Dr. Phil. Asfa Widiyanto, M.Ag. M.A. dikukuhkan menjadi guru besar bidang ilmu pemikiran Islam di IAIN Salatiga dalam sidang senat terbuka, Kamis (29/3/2018). Dengan tambahan ini, kini IAIN Salatiga memiliki delapan guru besar.

Prof. Asfa dalam orasi pengukuhan guru besar yang dilangsungkan di Auditorium Kampus I IAIN Salatiga mengungkapkan pentingnya multikultural (keberagaman) di era saat ini. Pasalnya negara sekuler sekalipun tidak lepas dari tata aturan moral dalam masyarakatnya. Ia mengatakan masyarakat Indonesia patut bangga lantaran memiliki kekayaan agama dan suku. Hal ini bahkan, kata dia, telah diapresiasi banyak Negara.

“Kita ini bukan saja Bhineka Tunggal Ika tetapi Gen Tunggal Ika. Jadi gen kita itu beragam,” kata Prof. Asfa dalam orasi ilmiah yang mengambil judul Islam, Multi kulturalisme dan Nation-Building di Era “Pasca-Kebenaran”.

Lebih lanjut diutarakan dia, kadang ada yang membandingkan perkembangan Indonesia dengan negara lain. Negara-negara Eropa, misalnya, terlihat lebih cepat maju lantaran cenderung memiliki keseragaman. “Misalnya Belanda dan Jerman di sana ada keseragaman. Negara Eropa yang agak beragama adalah Belgia dan itu sudah terancam pecah…Kita Alhamdulillah dari Sabang hingga Merauke bisa bergabung menjadi satu Negara,” ungkap Prof Asfa.

Sementara itu dalam era digital saat ini atau yang sering disebut sebagai era matinya kepakaran lantaran terciptanya system egaliter yang memungkinkan semua orang menyuarakan pemikirannya di ruang publik. “Ini juga merambah keranah agama…semua orang bisa mengeluarkan fatwanya masing-masing. Sekalipun, misalnya, orang tersebut baru belajar agama beberapa bulan yang lalu,” tambah dia.

Era digital, kata Prof. Asfa juga sering dianggap sebagai era pasca-kebenaran lantaran fakta objektif menjadi kurang berpengaruh dalam membentuk opini public disbanding daya tarik emosi dan kepercayaan personal. “Di medsos (media sosial) orang mudah menyebar informasi provokatif atau hoax yang sekiranya bisa diterima oleh sebagian besar masyarakat, bukan karena informasi itu benar tetapi karena informasi itu berpotensi menarik sentiment dan kepercayaan personal sebagian masyarakat,” terangnya.

Terkait kondisi itu, menurut Prof. Asfa peran organisasi masyarakat sipil Islam Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah mempunyai peran kuat dalam proses pembangunan bangsa dan multikulturalisme. “Hanya saja mereka harus menyadari ada transformasi otoritas di era digital…kedua organisasi ini harus mempunyai kemampuan untuk mengadaptasi dan aktif di media sosial,” tutur dia.

Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd. didalam sambutanya dengan tambahan guru besar Prof. Asfa sebagai guru besar di bidang pemikiran Islam diharapkan visi IAIN Salatiga tahun 2030 menjadi rujukan studi  Islam-Indonesia bagi terwujudnya masyarakat damai bermartabat bisa terwujud.

Di usianya yang masih terbilang muda, semoga Prof. Asfa bisa membawa berkah bagi keluarga, IAIN Salatiga serta masyarakat Indonesia. “Kami berharap melalui karya-karyanya bisa menjadi corong kita untuk menyebarkan kepada dunia mengenai keindahan Islam Indonesia,” ujar Rektor. (zid_hms) IAINSalatiga-#AKSI