Category Archives: Kolom Pimpinan

PERAYAAN IDUL FITRI DALAM TRADISI ISLAM INDONESIA

PERAYAAN IDUL FITRI

DALAM TRADISI ISLAM INDONESIA

 

Hari raya Idul Fitri merupakan salah satu hari raya umat Islam yang diperingati secara luas di berbagai negara, khususnya yang berpenduduk mayoritas muslim. Di Indonesia, perayaan hari raya ini sangatlah semarak. Paling tidak terdapat tiga tradisi yang membuat perayaan Idul Fitri di negeri ini menjadi begitu masif, yaitu tradisi sungkeman, halal-bihalal, dan mudik.

 

HAKIKAT IDUL FITRI

Terdapat dua pendapat yang berbeda mengenai maka idul fitri. Pendapat pertama, memaknainya sebagai “kembali pada fitrah/kesucian. Sedangkan pendapat kedua mengartikan idul fitri sebagai “hari raya untuk kembali makan/berbuka”. Pendapat pertama mendasarkan pada kata “ied” yang berarti kembali, dan fitri berarti kesucian. Selain itu, pendapat ini juga didukung oleh pemahaman bahwa orang yang selesai melaksanakan ibadah puasa dengan sempurna, dosa-dosanya telah diampuni oleh Allah SWT, sehingga ia laksana terlahir kembali bersih dari noda dan dosa. Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah SAW yang artinya “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (Muttafaq ‘alayh)”. Selain itu juga: “Barangsiapa yang shalat malam di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu(Muttafaq ‘alayh)” . Manakala seseorang telah diampuni semua dosa-dosanya, maka ia dapat dikatakan kembali kepada kesucian sebagaimana saat dilahirkan.

Adapun pendapat kedua didasarkan pada kata Ied dalam hari raya, dan bentuk jamaknya adalah a’yad. Adapun kata fithr (فطر) yang berarti makan/berbuka (ifthar (إفطار), tidaklah sama dengan kata fithrah yang berarti kesucian. Selain itu, pendapat ini juga mengaitkan dengan hari raya Idul Adha, yang berarti “hari raya penyembelihan hewan qurban”, bukan “kembali kepada adha”. Oleh karena itu, maka pendapat kedua mengartikan idul fitri sebagai hari raya untuk kembali berbuka/makan.

Dari dua pemaknaan di atas, nampaknya selama ini kebanyakan masyarakat Indonesia cenderung pada pemaknaan yang pertama. Selain itu, terlepas dari perbedaan pemaknaan di atas, realitasnya Idul Fitri telah menjadi bagian dari tradisi dan budaya masyarakat Indonesia yang khas, yang tidak ditemukan di negara-negara muslim lainnya.

Dalam melihat setiap tradisi, tentu yang paling penting untuk dilihat adalah dari segi kebaikan dan manfaatnya, selain tidak bertentangan dengan pokok-pokok aqidah. Berikut akan kita kupas tradisi yang menyerati perayaan Idul Fitri di Indonesia, yaitu sungkeman, halal bi halal, dan mudik.

TRADISI SUNGKEMAN

Tradisi sungkeman pada awalnya berasal dari tradisi pisowanan di lingkungan kerajaan, khususnya di Jawa. Pada kesempatan ini, para pembantu raja menghadap (sowan– Bahasa Jawa), pada acara-acara resmi yang diselenggarakan oleh raja. Kata “sungkem” sendiri bermakna “menjabat tangan sambil menciumnya” (raja/orang tua/atau orang yang sangat dihormati). Biasanya orang yang dihormati tersebut dalam posisi duduk di kursi, sementara orang yang menjabat tangannya dalam posisi berjongkok, sambil memegang dan mencium tangan di atas lutut orang yang dihormati. Tradisi ini sampai saat ini masih dilakukan oleh pengantin dalam upacara pernikahan adat Jawa.

Sungkeman mengandung makna bahwa orang yang mencium tangan itu (anak/yang lebih muda/bawahan): menyatakan pengakuan atas kemuliaan orang tersebut, mengungkapkan terima kasih yang dalam, mengakui kerendahan diri dan memohon maaf, serta mengharap do’a dan restu dari orang tersebut. Sementara itu, orang yang lebih tua/terhormat biasanya akan memandang dengan penuh rasa kasih sayang, memberikan doa restu, serta semakin memiliki rasa tanggung jawab untuk berbuat/berdoa bagi kebaikan kehidupan orang tersebut.

Dalam konteks Idul Fitri dewasa ini, tradisi sungkeman biasanya lebih banyak ditemukan pada keluarga, yaitu antara anak dengan ayah ibu, cucu dengan kakek, keponakan dengan paman atau bibinya, dan seterusnya. Tradisi sungkeman sejalan dengan pola relasi sosial dalam masyarakat di mana setiap orang itu harus andhap ashor dan mengerti unggah-ungguh. Maksudnya, setiap orang hendaknya selalu bersikap rendah hati, dan bisa menempatkan/menghormati orang lain sesuai dengan kedudukan atau statusnya. Konsep ini adalah salah satu manifestasi konsep rukun (harmoni) dalam relasi sosial pada masyarakat Jawa. Apabila setiap orang bersikap andhap ashor dan menerapkan unggah-ungguh, maka hubungan kekerabatan/sosial akan berjalan harmonis, terhindar dari segala konflik.

Pada masyarakat modern dewasa ini, di mana kebanyakan keluarga besar hidup terpencar di berbagai daerah sesuai dengan pekerjaannya, maka acara sungkeman itu kemudian biasanya dikemas dalam pertemuan keluarga besar yang biasa juga disebut dengan halal bi halal. Untuk dapat hadir dan berjumpa keluarga besar tersebut, maka mereka yang bekerja di daerah-daerah lain pulang ke kampung halaman, yang dikenal dengan mudik (menuju ke Udik-tempat asal di pedalaman).

Sementara itu, dewasa ini di kalangan pejabat tinggi tradisi sungkeman ini dinamakan open house, di mana pejabat menerima staf dan karyawan serta masyarakat umum untuk berkunjung dan mengucapkan selamat hari raya idul fitri. Tentu saja yang dilakukan tidak lagi berjongkok sambil sungkem, namun cukup berjabat tangan.

TRADISI HALAL BIHALAL

Dalam perspektif ajaran Islam, setiap manusia selalu terlibat dalam dua hubungan, yaitu hubungan dengan Tuhan (habl min-Allah), dan hubungan dengan sesama manusia (habl min an-naas). Dalam kedua hubungan tersebut, maka setiap individu hampir dipastikan memiliki kesalahan, baik kepada Allah maupun terhadap sesama.

Selama ramadhan, ada satu doa yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk dibaca, yaitu:

اللهم إنك عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pema’af, Engkau suka memaafkan (hamba-Mu), maka maafkanlah aku”.

Dengan menghayati doa ini, serta dengan memahami hadits di atas, maka dapat diasumsikan bahwa seusai ramadhan, dosa seorang muslim yang sungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah puasa, telah diampuni olah Allah SWT. Selanjutnya untuk menyempurnakan hal ini, maka perlu menghapus dosa terhadap sesama, baik itu keluarga, tetangga, rekan-rekan kerja, maupun orang lain yang memiliki relasi selama ini. Untuk itu maka masyarakat Indonesia memanfaatkan momentum idul fitri untuk saling meminta dan memberi memaafkan.

Memang, menurut al-Qur’an Surat Ali Imran, ayat 134 yang diperintahkan adalah memberi ma’af kepada orang lain. Namun sesuai dengan nilai budaya lembah manah dan andhap ashor, maka kita harus menyatakannya untuk orang lain adalah meminta maaf, dengan terkandung maksud dalam hati bahwa kita pun siap memaafkan kesalahan orang tersebut kedapa diri kita. Sebaliknya, orang yang dimintai maaf, akan menyatakan hal yang sama. Inilah suatu bentuk kehalusan tata krama dalam tradisi Indonesia, khususnya di Jawa.

Terhadap keluarga inti dan tetangga sekitar, biasanya prosesi saling memaafkan tersebut dapat dilakukan secara langsung, individu per individu. Namun ketika relasi itu telah melebar pada suatu lingkungan tempat tinggal yang lebih luas, rekan kerja dalam satu kantor, atau relasi lainnya, kegiatan saling memaafkan ini tidak dapat dilakukan per individu. Dari sinilah kemudian, muncul upacara halal bi halal, yang tujuan utamanya sebenarnya adalah untuk kepraktisan. Kegiatan ini kemudian menjadi tradisi di lingkngan tempat tinggal, kantor-kantor, instansi pemerintah, organisasi dan sebagainya. Dalam halal bi halal ini bahkan biasa diikuti oleh pemeluk agama selain Islam yang menjadi bagian dari komunitas tersebut.

Dalam bingkai budaya yang demikian, kiranya tradisi halal bi halal memiliki nilai positif dan tidak melanggar pokok-pokok aqidah maupun syariat agama Islam.

 

TRADISI MUDIK

Tradisi mudik di hari raya Idul Fitri, mulai marak tentunya sejalan dengan era urbanisasi. Dengan pertumbuhan pembangunan yang pesat di perkotaan, maka banyak tenaga kerja dari berbagai pelosok daerah datang ke kota untuk bekerja pada berbagai profesi maupun strata. Mereka ini meninggalkan kampung halaman dan sanak saudaranya. Bagi mereka ini, ikatan dengan keluarga dan tanah tumpah darah masih sangat kuat. Oleh karena itu, maka momentum yang paling tepat untuk bertemu dengan keluarga, sanak kerabat, serta teman-teman di masa kecil adalah pada saat perayaan Idul Fitri. Dari sinilah maka peristiwa kepulangan para perantau ke kampung halaman untuk bersama-sama merayakan Idul Fitri ini dari waktu ke waktu semakin meluas, seiring dengan pertumbuhan kota-kota besar di Indonesia.

Peristiwa mudik, dapat dianggap menjadi pengganti jargon “mangan ora mangan anggere kumpul”. Jargon ini tentu sudah tidak bisa dilakukan, karena lapangan kerja yang tersedia memaksa orang harus meinggalkan kampung halaman. Namun demikian, semangat “kumpul” itu tidak bisa dihilangkan sama sekali. Oleh karena itu, masyarakat masih bisa memenuhinya dengan melakukan mudik pada waktu yang sama, yaitu pada hari raya Idul Fitri.

Peristiwa mudik, kemudian memiliki dimensi yang sangat luas, dan memaksa pemerintah untuk melayani para pemudik ini. Peristiwa mudik dalam rangka Idul Fitri yang melibatkan jutaan manusia di Indonesia, memiliki dimensi sosial, budaya, ekonomi, politik, keamanan dan sebagainya. Secara sosial, mudik melibatkan pergerakan manusia yang luar biasa, dan menjadi wahana interaksi sosial, pencerminan strata sosial dan sebagainya. Secara budaya, mudik menjadi tradisi khas Indonesia. Secara ekonomi, mudik melibatkan perputaran uang yang sangat besar dengan multiplyer effect yang luar biasa bagi penyebaran ekonomi. Secara politik, mudik juga dapat dimanfaatkan para politisi maupun kandidat kepala daerah untuk kepentingan sosialisasi. Dari sisi keamanan, tentunya diperlukan kerja ekstra dari aparat keamanan untuk menjaga stabilitas baik di kota-kota yang ditinggalkan, di perjalanan, maupun di daerah tujuan para pemudik.

Dalam kaitannya dengan pelaksanaan ibadah puasa, tradisi mudik ini sering dipandang sebagai pemicu hilangnya kekhusyukan di akhir ramadhan, justeru saat-saat di mana umat muslim disuruh bersungguh-sungguh meningkatkan intensitas ibadahnya. Dalam konteks ini, menurut hemat kami adalah terpulang kepada masing-masing individu, bukan pada tradisi mudik itu sendiri. Selama tradisi mudik itu diniatkan sebagai upaya menyambung silaturrahim, birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) serta keinginan untuk berbagi dengan sanak keluarga dan tatangga, maka mudik sungguh merupakan suatu tradisi yang bernilai positif.

 

PENUTUP

Berdasarkan uraian di atas, maka perayaan Idul Fitri dalam tradisi Islam Indonesia, memang tidak bisa dilepaskan dari budaya. Idul Fitri bukan hanya “peristiwa agama”, namun telah menjadi “aktivitas budaya”. Tradisi sungkeman, halal bi halal, dan mudik, secara kasat mata lebih merupakan “wadah budaya” dengan isi dari agama. Isi inilah yang harus dipertahankan dan diteguhkan, bukan dengan menghilangkan wadah.

Akhirnya kami ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H. Mohon maaf atas segala salah dan khilaf.

 

 

PERAYAAN IDUL FITRI

DALAM TRADISI ISLAM INDONESIA

 

Hari raya Idul Fitri merupakan salah satu hari raya umat Islam yang diperingati secara luas di berbagai negara, khususnya yang berpenduduk mayoritas muslim. Di Indonesia, perayaan hari raya ini sangatlah semarak. Paling tidak terdapat tiga tradisi yang membuat perayaan Idul Fitri di negeri ini menjadi begitu masif, yaitu tradisi sungkeman, halal-bihalal, dan mudik.

 

HAKIKAT IDUL FITRI

Terdapat dua pendapat yang berbeda mengenai maka idul fitri. Pendapat pertama, memaknainya sebagai “kembali pada fitrah/kesucian. Sedangkan pendapat kedua mengartikan idul fitri sebagai “hari raya untuk kembali makan/berbuka”. Pendapat pertama mendasarkan pada kata “ied” yang berarti kembali, dan fitri berarti kesucian. Selain itu, pendapat ini juga didukung oleh pemahaman bahwa orang yang selesai melaksanakan ibadah puasa dengan sempurna, dosa-dosanya telah diampuni oleh Allah SWT, sehingga ia laksana terlahir kembali bersih dari noda dan dosa. Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah SAW yang artinya “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (Muttafaq ‘alayh)”. Selain itu juga: “Barangsiapa yang shalat malam di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu(Muttafaq ‘alayh)” . Manakala seseorang telah diampuni semua dosa-dosanya, maka ia dapat dikatakan kembali kepada kesucian sebagaimana saat dilahirkan.

Adapun pendapat kedua didasarkan pada kata Ied dalam hari raya, dan bentuk jamaknya adalah a’yad. Adapun kata fithr (فطر) yang berarti makan/berbuka (ifthar (إفطار), tidaklah sama dengan kata fithrah yang berarti kesucian. Selain itu, pendapat ini juga mengaitkan dengan hari raya Idul Adha, yang berarti “hari raya penyembelihan hewan qurban”, bukan “kembali kepada adha”. Oleh karena itu, maka pendapat kedua mengartikan idul fitri sebagai hari raya untuk kembali berbuka/makan.

Dari dua pemaknaan di atas, nampaknya selama ini kebanyakan masyarakat Indonesia cenderung pada pemaknaan yang pertama. Selain itu, terlepas dari perbedaan pemaknaan di atas, realitasnya Idul Fitri telah menjadi bagian dari tradisi dan budaya masyarakat Indonesia yang khas, yang tidak ditemukan di negara-negara muslim lainnya.

Dalam melihat setiap tradisi, tentu yang paling penting untuk dilihat adalah dari segi kebaikan dan manfaatnya, selain tidak bertentangan dengan pokok-pokok aqidah. Berikut akan kita kupas tradisi yang menyerati perayaan Idul Fitri di Indonesia, yaitu sungkeman, halal bi halal, dan mudik.

TRADISI SUNGKEMAN

Tradisi sungkeman pada awalnya berasal dari tradisi pisowanan di lingkungan kerajaan, khususnya di Jawa. Pada kesempatan ini, para pembantu raja menghadap (sowan– Bahasa Jawa), pada acara-acara resmi yang diselenggarakan oleh raja. Kata “sungkem” sendiri bermakna “menjabat tangan sambil menciumnya” (raja/orang tua/atau orang yang sangat dihormati). Biasanya orang yang dihormati tersebut dalam posisi duduk di kursi, sementara orang yang menjabat tangannya dalam posisi berjongkok, sambil memegang dan mencium tangan di atas lutut orang yang dihormati. Tradisi ini sampai saat ini masih dilakukan oleh pengantin dalam upacara pernikahan adat Jawa.

Sungkeman mengandung makna bahwa orang yang mencium tangan itu (anak/yang lebih muda/bawahan): menyatakan pengakuan atas kemuliaan orang tersebut, mengungkapkan terima kasih yang dalam, mengakui kerendahan diri dan memohon maaf, serta mengharap do’a dan restu dari orang tersebut. Sementara itu, orang yang lebih tua/terhormat biasanya akan memandang dengan penuh rasa kasih sayang, memberikan doa restu, serta semakin memiliki rasa tanggung jawab untuk berbuat/berdoa bagi kebaikan kehidupan orang tersebut.

Dalam konteks Idul Fitri dewasa ini, tradisi sungkeman biasanya lebih banyak ditemukan pada keluarga, yaitu antara anak dengan ayah ibu, cucu dengan kakek, keponakan dengan paman atau bibinya, dan seterusnya. Tradisi sungkeman sejalan dengan pola relasi sosial dalam masyarakat di mana setiap orang itu harus andhap ashor dan mengerti unggah-ungguh. Maksudnya, setiap orang hendaknya selalu bersikap rendah hati, dan bisa menempatkan/menghormati orang lain sesuai dengan kedudukan atau statusnya. Konsep ini adalah salah satu manifestasi konsep rukun (harmoni) dalam relasi sosial pada masyarakat Jawa. Apabila setiap orang bersikap andhap ashor dan menerapkan unggah-ungguh, maka hubungan kekerabatan/sosial akan berjalan harmonis, terhindar dari segala konflik.

Pada masyarakat modern dewasa ini, di mana kebanyakan keluarga besar hidup terpencar di berbagai daerah sesuai dengan pekerjaannya, maka acara sungkeman itu kemudian biasanya dikemas dalam pertemuan keluarga besar yang biasa juga disebut dengan halal bi halal. Untuk dapat hadir dan berjumpa keluarga besar tersebut, maka mereka yang bekerja di daerah-daerah lain pulang ke kampung halaman, yang dikenal dengan mudik (menuju ke Udik-tempat asal di pedalaman).

Sementara itu, dewasa ini di kalangan pejabat tinggi tradisi sungkeman ini dinamakan open house, di mana pejabat menerima staf dan karyawan serta masyarakat umum untuk berkunjung dan mengucapkan selamat hari raya idul fitri. Tentu saja yang dilakukan tidak lagi berjongkok sambil sungkem, namun cukup berjabat tangan.

TRADISI HALAL BIHALAL

Dalam perspektif ajaran Islam, setiap manusia selalu terlibat dalam dua hubungan, yaitu hubungan dengan Tuhan (habl min-Allah), dan hubungan dengan sesama manusia (habl min an-naas). Dalam kedua hubungan tersebut, maka setiap individu hampir dipastikan memiliki kesalahan, baik kepada Allah maupun terhadap sesama.

Selama ramadhan, ada satu doa yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk dibaca, yaitu:

اللهم إنك عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pema’af, Engkau suka memaafkan (hamba-Mu), maka maafkanlah aku”.

Dengan menghayati doa ini, serta dengan memahami hadits di atas, maka dapat diasumsikan bahwa seusai ramadhan, dosa seorang muslim yang sungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah puasa, telah diampuni olah Allah SWT. Selanjutnya untuk menyempurnakan hal ini, maka perlu menghapus dosa terhadap sesama, baik itu keluarga, tetangga, rekan-rekan kerja, maupun orang lain yang memiliki relasi selama ini. Untuk itu maka masyarakat Indonesia memanfaatkan momentum idul fitri untuk saling meminta dan memberi memaafkan.

Memang, menurut al-Qur’an Surat Ali Imran, ayat 134 yang diperintahkan adalah memberi ma’af kepada orang lain. Namun sesuai dengan nilai budaya lembah manah dan andhap ashor, maka kita harus menyatakannya untuk orang lain adalah meminta maaf, dengan terkandung maksud dalam hati bahwa kita pun siap memaafkan kesalahan orang tersebut kedapa diri kita. Sebaliknya, orang yang dimintai maaf, akan menyatakan hal yang sama. Inilah suatu bentuk kehalusan tata krama dalam tradisi Indonesia, khususnya di Jawa.

Terhadap keluarga inti dan tetangga sekitar, biasanya prosesi saling memaafkan tersebut dapat dilakukan secara langsung, individu per individu. Namun ketika relasi itu telah melebar pada suatu lingkungan tempat tinggal yang lebih luas, rekan kerja dalam satu kantor, atau relasi lainnya, kegiatan saling memaafkan ini tidak dapat dilakukan per individu. Dari sinilah kemudian, muncul upacara halal bi halal, yang tujuan utamanya sebenarnya adalah untuk kepraktisan. Kegiatan ini kemudian menjadi tradisi di lingkngan tempat tinggal, kantor-kantor, instansi pemerintah, organisasi dan sebagainya. Dalam halal bi halal ini bahkan biasa diikuti oleh pemeluk agama selain Islam yang menjadi bagian dari komunitas tersebut.

Dalam bingkai budaya yang demikian, kiranya tradisi halal bi halal memiliki nilai positif dan tidak melanggar pokok-pokok aqidah maupun syariat agama Islam.

 

TRADISI MUDIK

Tradisi mudik di hari raya Idul Fitri, mulai marak tentunya sejalan dengan era urbanisasi. Dengan pertumbuhan pembangunan yang pesat di perkotaan, maka banyak tenaga kerja dari berbagai pelosok daerah datang ke kota untuk bekerja pada berbagai profesi maupun strata. Mereka ini meninggalkan kampung halaman dan sanak saudaranya. Bagi mereka ini, ikatan dengan keluarga dan tanah tumpah darah masih sangat kuat. Oleh karena itu, maka momentum yang paling tepat untuk bertemu dengan keluarga, sanak kerabat, serta teman-teman di masa kecil adalah pada saat perayaan Idul Fitri. Dari sinilah maka peristiwa kepulangan para perantau ke kampung halaman untuk bersama-sama merayakan Idul Fitri ini dari waktu ke waktu semakin meluas, seiring dengan pertumbuhan kota-kota besar di Indonesia.

Peristiwa mudik, dapat dianggap menjadi pengganti jargon “mangan ora mangan anggere kumpul”. Jargon ini tentu sudah tidak bisa dilakukan, karena lapangan kerja yang tersedia memaksa orang harus meinggalkan kampung halaman. Namun demikian, semangat “kumpul” itu tidak bisa dihilangkan sama sekali. Oleh karena itu, masyarakat masih bisa memenuhinya dengan melakukan mudik pada waktu yang sama, yaitu pada hari raya Idul Fitri.

Peristiwa mudik, kemudian memiliki dimensi yang sangat luas, dan memaksa pemerintah untuk melayani para pemudik ini. Peristiwa mudik dalam rangka Idul Fitri yang melibatkan jutaan manusia di Indonesia, memiliki dimensi sosial, budaya, ekonomi, politik, keamanan dan sebagainya. Secara sosial, mudik melibatkan pergerakan manusia yang luar biasa, dan menjadi wahana interaksi sosial, pencerminan strata sosial dan sebagainya. Secara budaya, mudik menjadi tradisi khas Indonesia. Secara ekonomi, mudik melibatkan perputaran uang yang sangat besar dengan multiplyer effect yang luar biasa bagi penyebaran ekonomi. Secara politik, mudik juga dapat dimanfaatkan para politisi maupun kandidat kepala daerah untuk kepentingan sosialisasi. Dari sisi keamanan, tentunya diperlukan kerja ekstra dari aparat keamanan untuk menjaga stabilitas baik di kota-kota yang ditinggalkan, di perjalanan, maupun di daerah tujuan para pemudik.

Dalam kaitannya dengan pelaksanaan ibadah puasa, tradisi mudik ini sering dipandang sebagai pemicu hilangnya kekhusyukan di akhir ramadhan, justeru saat-saat di mana umat muslim disuruh bersungguh-sungguh meningkatkan intensitas ibadahnya. Dalam konteks ini, menurut hemat kami adalah terpulang kepada masing-masing individu, bukan pada tradisi mudik itu sendiri. Selama tradisi mudik itu diniatkan sebagai upaya menyambung silaturrahim, birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) serta keinginan untuk berbagi dengan sanak keluarga dan tatangga, maka mudik sungguh merupakan suatu tradisi yang bernilai positif.

 

PENUTUP

Berdasarkan uraian di atas, maka perayaan Idul Fitri dalam tradisi Islam Indonesia, memang tidak bisa dilepaskan dari budaya. Idul Fitri bukan hanya “peristiwa agama”, namun telah menjadi “aktivitas budaya”. Tradisi sungkeman, halal bi halal, dan mudik, secara kasat mata lebih merupakan “wadah budaya” dengan isi dari agama. Isi inilah yang harus dipertahankan dan diteguhkan, bukan dengan menghilangkan wadah.

Akhirnya kami ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H. Mohon maaf atas segala salah dan khilaf.

 

تَقَبَلَ اللهُ مِنَّاوَمِنْكُمْ. جَعَلَنَااللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ الْعَا ئِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ كُلُّ عَامٍ وَاَنْتُمْ بِخَيْرٍ

 

 

Rektor-Jas

SAMBUTAN REKTOR PADA WISUDA I IAIN SALATIGA

بسم الله الرحمان الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته –   الحمد لله –

و الشكر لله – والصلاه والسلام على رسول الله

ولا حول ولا قوة الا بالله

 

Yth. Dirjen Pendidikan Islam, Kemenag. RI, Bp. Prof. Dr. Phill. Kamaruddin Amin, MA

Ykh. Anggota Senat IAIN Salatiga

 

  • Para dosen, karyawan, dan segenap panitia,
  • Orang tua wisudawan dan wisudawati
  • Para tamu undangan
  • Dan para wisudawan-wisudawati yang berbahagia

 

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Swt., yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga pada Hari ini, Sabtu tanggal 20 Rajab 1436 H bertepatan dengan tanggal 9 Mei 2015 M, IAIN Salatiga dapat menyelenggarakan Sidang Terbuka Senat dalam rangka Wisuda I (pertama). Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Baginda Rasulullah Muhammad Saw., yang telah membawa ajaran kebenaran sebagai penuntun bagi kebahagiaan dan keberhasilan hidup setiap manusia.

Bapak Dirjen dan hadirin sekalian yang saya hormati, wisudawan-wisudawati yang berbahagia.. Wisuda kali ini memiliki makna penting dalam perjalanan sejarah lembaga. Sejak berdiri di tahun 1970 sebagai Fakultas Tarbiyah cabang dari IAIN Walisongo Semarang di Salatiga, kemudian berubah menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga di tahun 1997, maka hari ini merupakan wisuda pertama dalam bentuk lembaga sebagai Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Perubahan bentuk lembaga ini tertuang dalam Peraturan Presiden RI Nomor 143, Tanggal 17 Oktober 2014, yang dijabarkan dalam Peraturan Menteri Agama RI Nomor 7, Tanggal 12 Februari 2015. Secara resmi Menteri Agama RI, Bapak Lukman Hakim Saifudin telah meresmikan perubahan bentuk ini pada tanggal 6 April 2015.

Perubahan bentuk dari STAIN menjadi IAIN, diharapkan dapat memberikan kebanggaan dan rasa percaya bagi segenap sivitas akademika maupun alumni. Selain itu, melalui perubahan bentuk, maka lembaga ini mendapatkan perluasan mandat dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengembangan disiplin ilmu, sehingga meningkatkan kepercayaan masyarakat serta seluruh stake holder lainnya.

Atas nama pribadi dan segenap pimpinan IAIN Salatiga, kami mengucapkan selamat kepada para wisudawan/ wisudawati yang telah menyelesaikan studinya sesuai dengan program studi masing-masing. Kepada para orang tua, kami sampaikan terima kasih telah memberikan amanat dan mempercayakan pendidikan putra-putrinya di IAIN Salatiga. Pada hari ini kami serahkan kembali putra-putri Bapak/Ibu, dengan iringan doa yang tulus, semoga mereka membawa bekal ilmu yang bermanfaat untuk menjalani kehidupan di masyarakat dan meraih keberhasilan hidup di dunia dan akhirat.

Kepada para dosen, karyawan serta para pejabat akademik maupun struktural kami sampaikan terima kasih atas kerja keras dan dedikasinya sehingga berhasil mengantarkan para mahasiswa menyelesaikan studi dan mengikuti wisuda pada hari ini. Terima kasih juga kami sampaikan kepada Pemerintah, melalui kementerian AgamaRI, pemerintah daerah, para donatur yang memberikan beasiswa, serta semua pihak yang telah membantu penyelenggaraan pendidikan di IAIN Salatiga.

Bapak Dirjen dan hadirin sekalian yang saya hormati..     Khususnya kepada wisudawan-wisudawati..

Dapat saya sampaikan bahwa apabila kita tengok kembali hakikat fungsi pendidikan dalam perspektif sosiologis yang bersifat preparatoris-antisipatoris. Pendidikan hakikatnya berfungsi sebagai upaya menyiapkan generasi muda untuk menduduki peran sosial di masa datang, dengan mengantisipasi perubahan dan keadaan yang akan terjadi. Sebagaimana diketahui bahwa dewasa ini perubahan dalam berbagai bidang terjadi sangat cepat, sehingga dapat dikatakan bahwa pendidikan selalu tertinggal di belakang perubahan. Oleh karena itu, maka pendidikan yang telah saudara terima di IAIN ini harus dipandang sebagai dasar untuk terus belajar. Apabila Anda berhenti belajar setelah lulus, maka Anda benar-benar akan tertinggal di belakang perubahan.

Selain itu, terkait dengan peran sosial yang hendak dimasuki, pendidikan di IAIN ini telah berusaha meletakkan kerangka dasar dan mencetak lulusan yang memiliki kualifikasi 4 (empat) B, yaitu: Bertaqwa, Berilmu, Bijak, dan Berguna.

Bertaqwa adalah manifestasi keyakinan akan kedudukan kita sebagai hamba Allah, serta satu-satunya jalan untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Berilmu berarti memiliki seperangkat pengetahuan dan teori-teori sesuai bidang kajiannya, serta memiliki kesiapan untuk terus belajar mengikuti perkembangan keilmuan. Dengan ilmu ini maka sesuai janji Allah, insya-Allah setiap alumni akan mendapatkan derajat yang tinggi.

Bijak, maksudnya setiap alumni IAIN tidak terjebak pada paham dan aliran yang sempit, namun dapat melihat segala perbedaan pemikiran, aliran, maupun kelompok dengan penuh kearifan dan toleransi. Alumni IAIN Salatiga hendaklah melaksanakan misi dakwah dengan senantiasa mengede-pankan kebijaksanaan (bi al-hikmah wa al-mauidhati al-hasanah). Sedangkan berguna, artinya setiap lulusan hendaknya siap berkiprah di masyarakat, baik sesuai dengan disiplin ilmunya, maupun dalam pembangunan masyarakat secara luas. Lulusan IAIN Salatiga hendaknya mampu meraih predikat sebagai khairunnaas an fa’uhum linnaas, karena kehadirannya yang memberikan manfaat bagi lingkungan di mana pun berada.

Bapak Dirjen dan hadirin sekalian yang saya hormati, wisudawan-wisudawati yang berbahagia..

Pada kesempatan wisuda pertama IAIN Salatiga ini, rasanya penting pula untuk kami melaporkan secara singkat kondisi dan potensi lembaga ini, kepada Bapak Dirjen, Anggota Senat, Para Wali Wisudawan, tamu undangan serta hadirin sekalian. Pada tanggal 6 s.d. 8 Mei 2015 kemarin, Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), telah menugaskan tiga orang asesor untuk melakukan asesmen lapangan Akreditasi Institusi IAIN Salatiga. Ketiga asesor tersebut adalah: Prof. Kamanto Sunarto, SH., Ph.D (Mantan Ketua BAN-PT), Prof. Dr. Ahmad Qadir Gassing (Mantan Rektor UIN Alaudin Makasar), dan Prof.Dr. Ir. Sari Bahagiarti Kusumayudha, M.Sc (Rektor UPN “Veteran”, Yogyakarta). Ada satu ungkapan yang secara pribadi saya minta kepada ketiga asesor tersebut tentang keadaan IAIN Salatiga. Beliau menyatakan: IAIN Salatiga telah memiliki cukup modal untuk take off menjadi perguruan tinggi yang maju.

Dapat kami laporkan di sini bahwa di antara modal yang saat ini dimiliki IAIN Salatiga adalah:

  • Semangat kerja semua warga kampus dan suasana kebersamaan yang sangat kondusif.
  • 5 Fakultas: FTIK, Syariah, Dakwah, Ushuluddin, Adab dan Humaniora, serta FEBI
  • 18 Prodi S-1 (PAI, PBA, TBI, PGMI, PGRA, Tadris Mate-matika, Tadris IPA, Perdata Islam (al Akhwal al Syakhshi-yyah); Hukum Ekonomi Syariah (HES); Hukum Tatanegara Islam; Komunikasi & Penyiaran Islam (KPI); Sejarah Kebudayaan Islam (SKI); Ilmu Al Quran dan Tafsir (IAT); Bahasa dan Sastra Arab; Filsafat Agama; Ilmu Hadis; Perbankan Syariah (PS) S-1 dan D-3, serta Ekonomi Syariah
  • Program Khusus Kelas Internasional, untuk menyiapkan para penyebar Islam di berbagai negara, yang mampu mengajar dengan Bahas Inggris atau Arab.
  • 2 Program Studi Pascasarjana, S-2 PAI (terakreditasi B), dan S-2 Beasiswa Supervisi/Kepengawasan
  • Mahasiswa sejumlah 5158 orang
  • 110 Dosen Tetap, dan 21 dengan Calon Dosen (CPNS): 22 diantaranya Doktor, 4 Profesor, 40 Sedang S-3, sisanya sedang proses mendaftar S-3., Hampir 100 % dosen pernah mengikuti kursus, pelatihan atau penelitian di luar negeri berbagai negara. Selain itu juga memiliki 50 Tenaga Kependidikan PNS, dan 110 Dosen Non PNS, dan 51 Karyawan non PNS.
  • 3 lokasi kampus:

Kampus 1 = 1.3 Ha., kampus 2 = 2,4 Ha, dan kampus 3 = (rencana 20 Ha, dan akan terus dikembangkan sesuai master plan menjadi 45 ha), tahun ini mulai dibangun gedung kuliah 7.200m2

  • Perpustakaan yang representatif
  • 8 Jurnal ilmiah, 1 Terkareditasi A, 2 Terakreditasi B, dan 2 sedang diusulkan akreditasi.
  • Peringkat Webometrik: ke 7 dari semua PTKIN, 101 dari seluruth PT di Indonesia.
  • Program ma’had (pesantren) bagi mahasiswa/i
  • Program mengaji/menghafal surat/ayat al-Qur;an, setiap permulaan kuliah
  • Menjalin kerja sama dengan berbagai institusi serta PT di dalam dan luar negeri.
  • Prestasi Mahasiswa dalam berbagai kejuaraan, baik dalam bidang akadimik maupun pengembangan bakat-minat, antara lain:
  1. Dalam invitasi Pekan Pengembangan Bakat Minat Mahasiswa PTAIN se Jawa di IAIN Surakarta, dapat diraih Juara 1 dan 2 pidato bahasa Inggris; Juara 1 dan 3 MTQ putri; Juara 1 hifdzul qur’an putri dan Juara 2 menulis essai, Juara 1 catur dan juara 1 futsal.
  2. Juara 3 MTQ putri tingkat mahasiswa LPTQ Jawa Tengah
  3. Juara 3 lomba alat peraga PGMI di pekalongan
  4. Juara 1 panitera dalam lomba moot court (peradilan semu) di IAIN Purwokerto.
  5. Juara 2 wushu dalam olimpiade mahasiswa tingkat asean di Palembang.
  6. Juara 1 pencak silat dalam kejurnas pencak silat di UPN yogyakarta.
  7. Juara 1 favourite duta geerasi berencana (genre)tingkat nasional
  8. Juara 1 catur dan panjat tebing dalam Pekan Olah Raga dan Seni Mahasiswa PTAIN Se Indonesia (pionir) di Banten.

Dengan modal tersebut, kami berharap kepercayaan dan dukungan masyarakat, pemerintah daerah dan Kementerian Agama akan terus meningkat. Melalui Bapak Dirjen, kami mohon dukungan sepenuhnya dari Kementerian Agama, agar IAIN Salatiga ini benar-benar dapat mewujudkan harapan dan impian sivitas akademika, umat Islam, serta masyarakat Salatiga dan sekitarnya.

Bapak Dirjen dan hadirin sekalian yang saya hormati, wisudawan-wisudawati yang berbahagia..

Sebelum mengakhiri sambutan ini, saya sampaikan terima kasih kepada segenap panitia yang telah menyiapkan wisuda ini. Kepada hadirin sekalian saya mohonkan maaf apabila ada hal-hal yang kurang berkenan. Kepada para wisudawan saya ucapkan selamat jalan. Doa kami secara tulus menyertai Anda semua, semoga berhasil meraih kemuliaan hidup di dunia dan akhirat. Amiin.

 

Demikianlah sambutan saya. Wal’afwu minkum..

Wassalaamu’alaikum, w w.

 

 

 

 

                                                                        Salatiga, 9 Mei 2015

                                                                        Rektor,

 

                                                                        ttd

 

                                                                        RAHMAT HARIYADI

 

Saatnya IAIN Salatiga Beraksi

Dr. Rahmat hariyadi, M. Pd

Hari Sabtu, 14 Maret 2015, merupakan tonggak yang menandai babak baru dalam manajemen dan administrasi IAIN Salatiga. Pada hari itu telah dilantik 75 orang pejabat nonstruktural sebagai pengelola akademik, serta 22 orang pejabat struktural administrasi sebagai supporting team.

Banyaknya pejabat yang dilantik, adalah berkah dari alih bentuk/status dari STAIN menjadi IAIN. Peristiwa ini, adalah bagian dari mimpi yang pernah dibayangkan sekitar lima atau enam tahun silam, ketika pimpinan STAIN Salatiga kala itu, mulai merencanakan membeli tanah untuk perluasan kampus, mulai mengusulkan program-program studi baru, memperbanyak mahasiswa, dan kemudian mengusulkan proposal alih status menjadi IAIN. Hal ini relevan dengan ungkapan kata bijak: “So many of our dreams at first seem impossible, then they seem improbable, and then, when we summon the will, they soon become inevitable”(Christopher Reeve). Waktu itu lembaga IAIN Salatiga masih merupakan angan-angan. Saat ini dengan segenap usaha bersama, telah menjadi kenyataan. Oleh karena itu dalam kesyukuran ini, sebanyak mungkin personil diajak untuk bersama-sama dengan penuh keihlasan dan kebersamaan dalam suasana kekeluargaan melakukan (dalam bahasa Jawa) “sambatan” untuk mendirikan rumah baru yang megah dan membanggakan, rumah bersama yang bernama IAIN Salatiga.

Dalam penataan jabatan tentunya terdapat perubahan posisi atau kedudukan. Hal ini hendaknya dilihat dalam perspektif yang lebih luas. Konsep ini dalam birokrasi disebut dengan istilah mutasi dan rotasi. Rotasi adalah kebutuhan lembaga sekaligus individu. Lembaga butuh penyegaran dan pengkaderan untuk jabatan tertentu. Sementara individu, butuh pengalaman di berbagai bidang pekerjaan untuk meningkatkan karir. Kita yakin bahwa semua personil di IAIN Salatiga akan siap bekerja di mana saja serta dengan siapa saja. Selain itu, secara individu, masing-masing pejabat yang dilantik hendaknya mensyukuri jabatan baru yang dimanahkan. Dengan rasa syukur, maka segala sesuatu akan membawa kebaikan bagi kehidupan individu, keluarga mereka, serta keluarga besar IAIN Salatiga.

Untuk memasuki posisi dan jabatan baru ini, kiranya relevan bila kita semua berdoa dengan salah satu ayat dalam al-Qur’an, yaitu surat al-Isra’ ayat 80:

وَقُل رَبِّ أَدخِلنِي مُدخَلَ صِدق ٍ وَأَخرِجنِي مُخرَجَ صِدق ٍ وَاجعَل لِي مِن لَدُنكَ سُلطَانا ً نَصِيرا

Artinya: “Dan katakanlah (Muhammad), “Ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar[31] dan keluarkan (pula) aku[32] ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(ku)“

Keterbatasan dan Transisi

Dalam memasuki jabatan dan posisi baru kiranya semua pihak memaklumi keterbatasan kondisi fasilitas yang ada saat ini. Oleh karena itu, yang diharapkan adalah semua personil tetap dapat bekerja secara optimal di tengah keterbatasan yang ada. Pimpinan tentunya akan berusaha menyediakan dan melengkapi kebutuhan fasilitas kerja setiap pejabat, dalam waktu secepat mungkin sesuai dengan kondisi serta anggaran yang tersedia.

Selain itu, dalam waktu beberapa bulan ke depan kita masih akan akan melewati masa transisi. Sangat dimungkinkan akan ditemui banyak hal yang belum diatur dan disepakati dalam sistem administrasi, sehingga perlu juga pemahaman dan kesadaran bersama.

Tantangan Utama

Dalam masa transisi ini, terdapat dua pekerjaan besar yang harus disukseskan oleh seluruh pejabat di IAIN Salatiga. Pertama, adalah rekrutmen mahasiswa baru, dan kedua akreditasi institusi dan program studi. Dua hal ini selayaknya, tanpa menunda waktu lagi harus segera diupayakan langkah bersama untuk meraihnya.

IAIN Salatiga harus membuktikan, bahwa setelah mendapatkan alih bentuk dari STAIN menjadi IAIN, maka memang terbukti terdapat lonjakan peningkatan jumlah mahasiswa baru yang signifikan. Oleh karena itu, semua pejabat, mulai dari Dekan, Wakil Dekan, Ketua Jurusan, semuanya saja, hendaknya memfokuskan kinerja awal mereka pada rekrutmen mahasiswa. Peningkatan jumlah mahasiswa ini akan menjadi jawaban terhadap kepercayaan Kementerian Agama, yang telah memberikan perluasan mandat kepada IAIN Salatiga. Dalam bahasa iklan, bisa dikatakan dengan: Buktikan Merahmu! Dalam arti mampu merekrut sebanyak mungkin mahasiswa baru.

Tantangan yang kedua, terkait dengan akreditasi institusi maupun program studi. Lembaga Penjamin Mutu, bersama para Dekan dan jajarannya, harus bekerja dan berusaha, meningkatkan akreditasi program studi yang sang sudah terakreditasi, menjadikan terakreditasi bagi yang belum, serta meraih nilai minimal baik bagi akreditasi institusi.

Saatnya Ber-AKSI

Melihat dua tantangan di atas, maka setelah selesai penataan organisasi, yang dibutuhkan bukan lagi wacana dan diskusi, melainkan tindakan atau AKSI. Kata AKSI dapat dijadikan sebagai akronim bagi nilai-nilai utama (core values) kelembagaan IAIN Salatiga, yang menjadi jiwa dan landasan kerja semua warga kampus. AKSI, adalah singkatan dari:

A = AMANAH: Jujur, dapat dipercaya, dan mengutamakan kepentingan lembaga (negara) di atas kepentingan pribadi, orang lain atau golongan. Setiap orang yang diberi amanah meskipun kecil, kemudian ditunaikan dengan kesungguhan yang besar, maka berarti ia siap untuk mendapatkan amanah yang lebih besar. Dalam bahasa Jawa terdapat ungkapan: Sapa nandur bakal ngunduh, Sapa nggawe bakal nganggo, Sapa temen bakal tinemu, Sapa tekun bakal tekan. Gusti ora sare, tansah mirsane kabeh kawulane.

K = KOMITMEN: Bersungguh-sungguh dalam bekerja dan memberikan pelayanan prima sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah Swt.

S = SILATURRAHIM: Mengembangkan hubungan persaudaraan dan kekeluargaan, serta menebarkan kasih sayang kepada semua warga kampus. Sebagai lembaga keagamaan, maka pola hubungan atasan-bawahan, rekan sejawat, hubungan dengan mahasiswa, serta seluruh warga kampus, hendaknya dijiwai oleh nilai silaturrahim (hubungan kasih sayang), sehingga terhindar dari ketidakharmonisan dan konflik yang merugikan.

I = INISIATIF & INOVASI: Setiap individu, pejabat akademik, pejabat struktural, dosen, karyawan dan seluruh warga kampus, hendaknya dapat mengambil peran bagi kemajuan lembaga, dan melakukan inovasi berkelanjutan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya..

Pelayanan Prima

Perubahan menjadi IAIN harus diikuti dengan perubahan mindset atau pola pikir, bahwa birokrasi itu ada, birokrasi itu bekerja, hakikatnya adalah untuk melayani. Bagi perguruan tinggi, mahasiswa merupakan external customers yang pertama dan utama, yang harus mendapatkan satisfaction. Tanpa adanya customers satisfaction, maka sebuah lembaga tidak akan berkembang, karena akan dijauhi dan ditinggalkan. Untuk itu setiap dosen dan karyawan harus memiliki komitmen yang tinggi untuk melayani, yang disertai dengan semangat silaturrahim, menjalin hubungan kekeluargaan dan menebarkan kasih sayang. Semua pihak harus sadar, bahwa posisi kita menjadi ada, karena adanya mahasiswa. Peningkatan jumlah dan kenaikan posisi jabatan hanya dimungkinkan apabila jumlah mahasiswa semakin banyak. Oleh karena itu, setiap dosen dan karyawan IAIN Salatiga, hendaknya harus merasa diri sebagai pelayan bagi mahasiswa. Layani orang lain sebaik-baiknya, serta layani mahasiswa setulus-tulusnya. Tebarkan senyum, ulurkan kasih sayang kepada para mahasiswa. Pahami kesulitan mereka, yang kebanyakan berlatar belakang ekonomi menengah ke bawah.

Konsep pelayanan prima dalam sebuah lembaga agama, didasarkan kepada semangat dari Hadits Rasulullah, yang artinya: “Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba (apabila hamba itu) selalu menolong saudaranya.” (H.R. At-Tirmidzi)

Dengan upaya di atas, maka kita semua berharap, IAIN Salatiga akan dipercaya dan menjadi pilihan utama masyarakat bagi tempat pendidikan putra-putri mereka. Mandat dan kepercayaan pemerintah, pada akhirnya dapat dijawab dengan tindakan dan bukti nyata.

Harmoni Pejabat Akademik dan Administrasi

Hubungan pejabat akademik dengan pejabat administrasi, dapat diumpakan sebagai hubungan suami-isteri. Dosen dan pejabat akademik adalah laksana suami yang berjuang membuka program-program baru, merekrut mahasiswa, menjalin kerjasama, serta mengembangkan lembaga. Sementara pegawai administrasi, laksana isteri, yang harus mendukung, menyiapkan segala kebutuhan, dan menata rumah tangga. Selain itu, karyawan juga dituntut sigap dalam menyiapkan segala hal yang menjadi hak mereka, ketika sudah menunaikan pekerjaan.

Dengan perumpamaan sedemikian, maka pegawai administrasi harus menghargai dan melayani kepada pejabat akademik. Sebaliknya setiap pejabat akademik hendaknya bekerja sepenuh tenaga, dan mendedikasikan segala prestasi kerjanya bagi kebanggaan seluruh sivitas akademika (semua karyawan dan mahasiswa). Semua relasi ini akan menjadi indah dalam bingkai silaturrahmi.

Selamat bekerja, mari buktikan bahwa IAIN Salatiga bisa, melalui AKSI bersama.

Semoga Allah selalu meridloi dan memberikan hidayah serta kekuatan kepada kita sekalian. Amiin.

Dari Sekolah Tinggi menjadi Institut

Alhamdulillah upaya segenap sivitas akademika STAIN Salatiga untuk meningkatkan status kelembagaan telah membuahkan hasil. Legalitas perubahan bentuk dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga, menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga dituangkan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 143 Tahun 2014  tertanggal 17 Oktober 2014.

Dalam Pasal 3 peraturan ini, dinyatakan: “Ketentuan kebih lanjut yang diperlukan bagi pelaksanaan Peraturan Presiden ini, diatur oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan, oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agama, menteri yang menyelenggarakan urusan di bidang keuangan, menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang aparatur negara, dan/atau kepala BKN, baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ketentuan pasal ini nantinya akan dituangkan dalam Peraturan Menteri Agama (PMA) tentang Organisasi dan Tata Kerja IAIN Salatiga. Perubahan bentuk ini tentunya mengandung implikasi-implikasi, antara lain sebagai berikut.

Pertama, dari segi kewenangan. Sesuai dengan bunyi pasal Pasal 59, UU. Nomo 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, dinyatakan bahwa Bentuk Perguruan Tinggi terdiri atas: (a) universitas; (b) institut; (c) sekolah tinggi; (d) politeknik; (e) akademi; dan (f) akademi komunitas. Ayat (3) pasal ini berbunyi sebagai berikut. Institut merupakan Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah rumpun Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi tertentu dan jika memenuhi syarat, institut dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. Sedangkan ayat (4) berbunyi: Sekolah Tinggi merupakan Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu rumpun Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi tertentu dan jika memenuhi syarat, sekolah tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan profesi.
Kedua, dari segi size atau besaran organisasi, karena lingkup kewenangan yang lebih luas maka organisasi institut akan memiliki besaran organisasi yang lebih luas pula. Pada jabatan akademik, di sekolah tinggi nomenklatur pimpinan dimulai dari Ketua, Wakil Ketua, Ketua, Jurusan, dan Ketua Program Studi. Sedangkan pada institut nomenklaturnya mulai dari: Rektor, Wakil Rektor, Dekan, Wakil Dekan, Ketua Jurusan, dan Ketua Program Studi. Demikian juga pada jabatan struktural, institut memiliki pejabat setingkat eselon II, yaitu Kepala Biro, diikuti dengan Kepala Bagian, dan Kepala Sub bagian (Kasubbag). Selain itu juga jumlah lembaga dan pusat atau unit pelayanan teknis akan semakin bertambah.

Ketiga, dari segi dukungan man, money & material yang diberikan oleh pemerintah tentunya institut akan mendapat alokasi lebih banyak, karena keluasan kewenangan yang dimiliki. Hal ini akan berbanding lurus dengan jumlah mahasiswa yang masuk. Dengan demikian, peralihan bentuk ini akan membuka akses yang jauh lebih luas bagi masyarakat, sejalan dengan semangat pemerintah untuk menaikkan APK lulusan pendidikan menengah untuk memasuki jenjang pendidikan tinggi.

Perubahan pada aspek-aspek yang bersifat hard di atas, tentu harus diikuti perubahan pada dimensi soft, yaitu kerangka konseptual kelembagaan dan mentalitas atau mindset personalia yang ada di dalamnya. Secara konseptual, IAIN dituntut memiliki distinction atau keunikan kajian yang menjadi concernnya dibanding PTAIN lain. Dengan demikian ragam PTAIN yang ada Indonesia ini saling menopang dan melengkapi guna mewujudkan kajian yang komprehensif dan integral tentang Indonesian-Islam yang saat ini menjadi kiblat dunia, khususnya terkait Islam sebagai rahmatan lil alamin, demokrasi, pluralism, dan sebagainya.

Dalam konteks ini IAIN Salatiga akan mengambil kajian Islam Lokal dan Studi Lintas Agama sebagai distingsi akademik dalam rangka membangun mozaik Islam Indonesia. Lokalitas keislaman di Indonesia, khususnya Jawa, merupakan kajian yang menarik dari berbagai dimensinya, baik dari segi ajaran spiritual, ritual, budaya, maupun secara spesifik nilai-nilai yang mempengaruhi pola pikir dan pola tindak masysarakat.

Perubahan pada aspek mentalitas atau mindset personil diharapkan tumbuh pada dua sisi, yaitu pengembangan budaya akademik yang tinggi, dan semangat memberikan pelayanan prima baik secara internal maupun eksternal. Pengembangan iklim dan budaya akademik yang tinggi akan mengantarkan lembaga ini menjadi perguruan tinggi yang unggul baik pada aspek teaching maupun research. Hal ini akan ditandai dengan tingginya profesionalitas lulusan serta banyaknya karya monumental dan academic tower yang dihasilkan. Capaian ini akan dibarengi dengan peningkatan quality assurance pada semua aspek dan aktivitas penjabaran tri dharma perguruan tinggi, serta semangat memberikan pelayanan prima. Dimensi spiritualitas yang melandasi etos kerja setiap personil, menjadikan mereka bekerja dengan sepenuh hati, pikiran dan tanggung jawab untuk menampilkan dan memberikan yang terbaik di hadapan Tuhan melalui pelayanan terhadap mahluk-Nya.