Category Archives: Kolom Pimpinan

LOYALITAS

Loyalitas artinya kadar kesetiaan dan kepatuhan seseorang apakah itu terhadap organisasi atau pimpinannya, apakah itu terhadap negara atau pemerintahnya, apakah itu terhadap Tuhan atau ajaran agamanya.

Loyalitas itu memiliki dua dimensi. Ke dalam ia memiliki keyakinan penuh akan kesucian dan kebenaran misi atau tujuan organisasi, negara atau pun ajaran agamanya dan bersungguh-sungguh melaksanakan tugas dan fungsinya. Keluar ia selalu menjaga dan membela apa yang diyakini dan diikutinya agar jangan terkena cacat dan cela. Ada kalanya memang terjadi dilema antara loyal terhadap organisasi dengan loyal terhadap pimpinannya antara negara dengan pemerintahnya terlebih bila terindikasi pemimpinnya melenceng dari misi organisasi atau lebih mementingkan kepentingan diri atau pun kelompok yang tersembunyi.

Ada acuan yang bisa dipedomani. Kata-kata Khalifah Abu Bakar, saat dinobatkan menjadi khalifah setelah Rasulullah telah dipanggil menghadap ilahi, “Saudara-saudara, aku telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena aku yang terbaik diantara kalian semuanya, untuk itu jika aku berbuat baik bantulah aku, dan jika aku berbuat salah luruskanlah aku…, dst”. Atas dasar ini, maka loyalitas itu mestinya tidak tertuju pada pribadi atau organisasi tapi berdasar pada kebenaran dan konstitusi dan bersandar kepada kebenaran yang sejati yang murni bersumber pada Ilahi.

اللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه 
وارنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه
امين

 

ANTARA SIKAP DAN KEMAMPUAN

Bila seorang pimpinan lembaga atau perusahaan diminta memilih antara karyawan yang sikapnya baik, namun kemampuannya kurang dengan yang berkemampuan namun sikapnya kurang baik tentu akan memilih yang sikapnya baik. 

Ada beberapa alasan yang bisa menjelaskan pilihan ini.
Pertama, sikap adalah sesuatu yang fundamental jauh lebih berbahaya mempekerjakan orang yang sikapnya kurang baik dibanding yang kurang mampu karena kerusakan yang ditimbulkan oleh karyawan yang sikapnya kurang baik, bisa lebih besar dibanding yang kurang kemampuan.
Kedua, untuk membentuk atau meningkatkan kemampuan akan lebih mudah dibanding memperbaiki sikap.
Ketiga, kemampuan yang kurang baik tidak akan menular sebaliknya sikap yang kurang baik akan mudah menular pada karyawan lain.

Dari berbagai kasus, jauh lebih banyak karyawan yang diberhentikan karena sikap yang tidak baik, seperti tidak jujur, tidak bertanggung jawab, dan tidak bisa membina hubungan kerja yang baik. Sikap yang baik dalam bekerja antara lain jujur, profesional, terbuka, mau terus belajar, bisa bekerja sama, dan rendah hati dan semua itu mestinya bisa diusahakan selama ada niat dan kesungguhan.

MENANG TANPA NGASORAKE

Ada empat filosofi kehidupan orang Jawa yang sangat terkenal
Yaitu “Sugih tanpa bandha, 
Digdaya tanpa aji, 
Nglurug tanpa bala, dan 
Menang tanpa ngasorake”
Yang terakhir ini merupakan koridor
Dalam pola relasi dan penyelesaian konflik antarpribadi atau kelompok
Orang boleh (tidak harus) menang
Asal tidak dengan menjadikan pihak lain merasa direndahkan
Karena kemenangan dengan merendahkan lawan hakikatnya tidak berarti
Pertama, persaudaraan menjadi bubar. 
Padahal, kita diperintahkan menjaga persaudaraan dan menjalin silaturrahim (hubungan kasih sayang). Bila perlu harus bisa menghapus kesalahan untuk memelihara persaudaraan, bukan sebaliknya menghapus persaudaraan hanya karena satu kesalahan.
Kedua, pasti akan kehilangan kawan dan melahirkan musuh
Orang yang merasa direndahkan, pasti akan selalu mencari kesempatan untuk bisa membalas kekalahannya. 
Hal ini tentu tidak membuat tenteram, karena kawan seribu terlalu sedikit, musuh satu terlalu banyak.
Ketiga, kemenangan dengan merendahkan lawan tidak akan membawa kemuliaan
Tidak akan ada orang yang hormat kepada kita karena kemenangan itu
Karena nasihatnya adalah “Wani ngalah luhur wekasane” 
Berani mengalah (bukan kalah) akan mulia akhirnya

Hidup ini sangat singkat
Dan kita tak bisa hidup tanpa orang lain di sekitar kita
Akan sangat rugi bila harus memendam rasa tak suka
Apa lagi sampai menanam bibit permusuhan
Pasti kita tidak akan menuai kedamaian
Dan jauh dari rahmat-Nya

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. 
Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat (Q.S. Al-Hujurat (49): 10)

SELAMAT DATANG MAHASISWA BARU IAIN SALATIGA CALON-CALON PEMIMPIN UMAT DAN BANGSA

 

Alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin, Segala puji hanya milik Allah Swt. Sholawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad beserta seluruh keluarga, sahabat dan pengikutnya yang setia.

Pada tahun akademik 2017/2018 ini, mahasiswa baru IAIN Salatiga adalah sejumlah 3.165 (Tiga ribu seratus enam puluh lima) orang. Ini merupkan jumlah terbesar yang pernah diterima oleh IAIN Salatiga selama ini. Dengan hadirnya mahassiswa baru ini, maka total mahasiswa IAIN Salatiga saat ini berjumlah 10.589 (Sepuluh ribu lima ratus delapan puluh sembilan) orang, yang belajar pada program Sarjana (Strata 1) sejumlah 25 (dua puluh lima) program studi, dan program Pascasarjana (Strata2) 3 (tiga) program studi. Sesuai dengan arahan Kementerian Agama, IAIN Salatiga memang akan terus berusaha meningkatkan akses masyarakat untuk mendapatkan pendidikan tinggi, tanpa mengesampingkan mutu proses maupun lulusannya.

Berdasarkan data, Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Tinggi di Indonesia saat ini masih berkisar 30%. Hal ini berarti generasi muda usia kuliah, atau lulusan SLTA, hanya sekitar sepertiganya yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Selebihnya langsung terjun ke masyarakat dan memasuki dunia kerja. Bagi mahasiswa, terutama di PT Negeri, hal ini adalah suatu keberuntungan, karena tidak setiap orang berkesempatan duduk di bangku kuliah, yang nota bene masih banyak mendapat subsidi dari pemerintah.

Berangkat dari data di atas, maka Kementerian Agama melalui Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) memiliki komitmen untuk memperluas akses pelayanan pendidikan tinggi. Untuk itu PTKIN termasuk IAIN Salatiga, tetap mengutamakan biaya pendidikan yang terjangkau oleh semua lapisan. Selain itu juga terus mengupayakan tersedianya banyak beasiswa untuk mereka yang berperstasi maupun yang kurang mampu.

Setiap “keberuntungan”, mesti harus diikuti dengan kesyukuran dan tanggung jawab. Demikian pula yang diharapkan dari seluruh mahasiswa IAIN Salatiga. Mereka hendaknya bersyukur mempunyai kesempatan kuliah di perguruan tinggi negeri yang terjangkau. Kesyukuran itu harus diwujudkan dalam semangat dan motivasi belajar yang yang tinggi, saling asah, asih dan asuh dengan segenap sivitas akademika, sehingga pada saat lulus tidak hanya memiliki bekal pengetahuan kognitif-teoritik semata, namun juga siap untuk hidup dan bekerja di masyarakat. Kesyukuran itu, sekaligus merupakan pertanggungjawaban atas apa yang diberikan masyarakat dan negara kepada mereka. Mereka nantinya harus siap menduduki peran-peran sosial di masyarakat sesuai dengan profesi dan kedudukannya.

Sesuai dengan fitrahnya, setiap manusia adalah seorang pemimpin, minimal bagi diri dan keluarganya. Terkait hal ini, IAIN Salatiga berusaha menyiapkan mahasiswanya untuk menjadi pemimpin yang lebih luas, yaitu pemimpin umat dan bangsa. Dua hal ini tidak boleh dipisahkan, karena mahasiswa kita adalah penduduk Indonesia yang menjadi pemeluk suatu agama (Islam). Oleh karenanya, mereka tidak boleh hanya menjadi kader kelompok (umat/agama) saja, namun juga harus sebagai kader (yang bertanggung jawab terhadap kemajuan) bangsa. Mereka harus memiliki rasa “handarbeni” dan bersedia “hangnggrungkebi” terhadap bumi pertiwi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini.

Sejalan dengan tujuan di atas, maka IAIN Salatiga mengajarkan dan mengembangkan Islam-Indonesia, yang moderat (wasathiyah), toleran dan rahmatan lil ‘alamin. IAIN Salatiga berharap, setiap lulusannya selain memiliki kompetensi sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuni, juga mampu menjadi pemuka agama yang mencerahkan dan membawa kemajuan umat, menjadi pemersatu, toleran terhadap berbagai perbedaan pada internal umat, maupun terhadap segala kebhinnekaan yang ada. Inilah kader umat dan kader bangsa yang diidealkan. Mereka telah “selesai” dengan segala perbedaan, dan siap bekerja sama dengan elemen bangsa yang mana pun, untuk bersama-sama membangun negeri tercinta.

Demikianlah harapan dan do’a kami kepada seluruh mahasiswa, khususnya mahasiswa baru. Semoga Allah Swt. memudahkan seluruh langkah perjuanganmu, hingga kau dapatkan ilmu yang barokah, manfaat di dunia dan akhirat. Semoga engkau semua,menjadi kebanggaan orang tua, para guru, almamater dan lingkunganmu. Semoga nantinya engkau benar-benar menjadi pemimpin umat dan bangsa ini, melalui profesi apa pun yang akan kau masuki.

Aamiin Ya Mujiib as-Saailiin

Salatiga, 8 Agustus 2017

SELAMAT MENJALANKAN IBADAH DI BULAN RAMADHAN DAN MENYAMBUT IDUL FITRI 1438 H

    Tiap kali datang bulan Ramadhan, umat muslim senantiasa penuh harapan. Ramadhan dengan segala ritualnya, merupakan jalan bagi setiap hamba untuk meningkat kualitas ketakwaannya. Ramadhan dengan segala kemuliaan dan keberkahannya merupakan sarana bagi setiap hamba untuk lebih dekat kepada-Nya. Hal ini memang tersurat dalam perintah untuk menjalankan puasa, yaitu agar orang-orang beriman menjadi orang yang takwa.
      Ramadhan 1438 H. kali ini  pun tidak berbeda. Semua umat berharap dapat meningkat kualitas keberagamaanya. Segala amal dilakukan dengan mencontoh sebagian sifat Allah Yang Mahakuasa. Manusia berusaha mencontoh-Nya dengan mengurangi makan, sedikit tidur, menambah ibadah,  mengurangi fokus pada duniawi, lebih penyabar, lebih dermawan, dan seterusnya. Dengan upaya ini, manusia akan dapat meningkat derajatnya, meninggalkan kerakteristik hewani, yang dipenuhi dengan nafsu semata.
      Ramadhan adalah medan perang yang tidak nampak pada diri setiap indvidu. Bila dalam perang yang sesungguhnya, musuh itu berupa gelar pasukan dan nampak di hadapan. Kita menyambutnya  dengan kekuatan serta pekik Allah Akbar, kemudian kemungkinannya adalah kita menang atau mati syahid. Dalam puasa, musuh itu ada dalam diri kita, berupa hawa nafsu menguasai, dan kita menghadapinya justru dengan melemahkan jasmani untuk mendapatkan kekuatan jiwa. Dan, pekik Allahu Akbar itu baru kita teriakkan di akhir peperangan, setelah kita berhasil membuat musuh kita, tunduk dan menjadi pelayan kita. Semoga kita semua di akhir ramadhan nanti betul-betul mendapat kemenangan dan meneriakkan takbir dengan penuh penghayatan. Allahu Akbar, Allah Maha Besar, yang telah membantu kita menundukkan musuh terbesar manusia, yaitu hawa nafsu yang bersemayam dalam diri.
       Selamat menjalankan ibadah di bulan ramadhan, serta selamat menyambut dan merayakan ‘Idul Fitri 1438 H. Semoga Allah Swt menerima semua amal ibadah kita. 
       Semoga semakin meningkat kualitas pribadi dan kemanfaatan kita bagi orang lain.