Category Archives: Kolom Pimpinan

INGIN SEHAT ? BEKERJALAH DENGAN GEMBIRA!

Di tahun 1980an pernah ada sebuah penelitian yang dilakukan selama 15 tahun untuk mengetahui hubungan antara kepuasan kerja dengan kesehatan dan usia panjang (longevity). Hasilnya menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki kepuasan kerja memiliki kesahatan yang lebih baik dan berusia lebih panjang dibanding mereka yang tidak memiliki kepuasan kerja

Orang yang memiliki kepuasan kerja setiap hari berangkat dengan semangat. Ia merasa pekerjaanya cocok dengan passionnya. Ia merasa bisa menghasilkan sesuatu bagi lembaganya. Ia merasa memiliki prestasi di antara kawan-kawannya. Ia merasa diakui dan dihargai oleh teman serta atasan. Hingga ia bekerja dengan suasana yang gembira

Meskipun untuk memiliki kepuasan kerja sangat dipengaruhi situasi lembaga. Namun penentunya tetap berada pada pribadi pekerja. Bagaimana ia mengolah potensi dan kemampuan dirinya. Bagaimana ia mengembangkan komitmen dan tanggung jawabnya. Bagaimana ia berkomunikasi dan membangun relasi dengan sejawat dan atasannya. Itulah yang akan menentukan bagaimana dirinya
Selama pekerja itu menunjukkan kemampuan, komitmen dan relasi yang baik. Maka tidak ada alasan baginya untuk tidak berprestasi dan mendapat promosi. Minimal ia akan selalu dilibatkan dalam berbagai hal yang membuatnya merasa dibutuhkan

Singkatnya, bila kita mulai bekerja dengan perasaan syukur dan gembira, maka kita akan mendapatkan kepuasan dan kegembiraan dalam bekerja. Hal ini akan berpengaruh terhadap kesehatan dan harapan hidup kita. Mari kita coba praktikkan…

Wallahu a’lam

Sumber: Gini A.R. & Sullivan, T.J. 1989. It Come With The Territory: An Inquiry Concerning Work and the Person. New York: Random House

ANTARA OTAK DAN PIKIRAN

Otak manusia dapat dianalogkan dengan hardware sebuah komputer. Sedangkan pikiran, laksana softwarenya. Konon, sebenarnya otak manusia memiliki kemampuan yang luar biasa. Kapasitas hardware yang ada menurut berbagai pendapat bisa menghasilkan daya kreasi dan capaian berlipat-lipatDari apa yang dicapai atau dihasilkan kebanyakan manusia.

Lantas apa yang menjadi penyebabnya?
Tak lain adalah karena software tidak diinstal secara benar. Sehingga hardware tidak termanfaatkan secara optimal.

Betapa telah banyak terbukti…Bahwa bila seseorang berpikir bisa meraih atau mewujudkan sesuatu. Maka benar akhirnya sesuatu itu akan bisa diraih atau diwujudkan. Sebaliknya, bila berpikir tidak bisa, maka benar tidak akan bisa. Sayangnya, kebanyakan lingkungan keluarga dan masyarakat kita, lebih banyak menakut-nakuti daripada mendorong jadi pemberani, lebih banyak meragukan daripada menumbuhkan harapan, lebih banyak pesimis dan skeptis daripada optimis, lebih suka tidak gagal, walaupun tidak pernah punya keberhasilan, lebih banyak mencela daripada mengapresiasi. Inilah kesalahan dalam menginstal sofware. Yaitu dominan sikap takut, tidak percaya diri, dan juga malas…

Satu lagi mungkin dari sisi agama…Lingkungan kita banyak yang belum membawa konsep “mujahadah” dari dimensi ritual, kepada dimensi sosial dan profesional. Kalau mujahadah itu sudah diterapkan dalam profesi atau pekerjaan seseorang, maka harapannya “software”nya telah terinstal dengan baik ia akan menjadi orang yang “teninin” dalam bekerja. Memanfaatkan segala potensi otak (akal) yang dimilikinya. Insya Allah hasilnya pun akan luar biasa
Wallaahu a’lam

Selamat menyiapkan diri untuk hari Senin…

DETAILLAH… KAU AKAN JADI LUAR BIASA

Salah satu kelemahan yang sering ditemukan pada pegawai adalah tidak mau berpikir detail mengenai pekerjaannya. Banyak yang merasa cukup dengan “asal” saja. Asal jadi, asal selesai, asal beres, asal tidak dicomplain, dan seterusnya. Pekerja yang demikian tidak akan mendapat kepuasan kerja. Karena sesungguhnya mereka itu tidak pernah berprestasi. Apa lagi bila hanya melaksanakan sebagaimana yang telah lalu, tanpa inovasi, tanpa perhatian yang detail

Berpikir detail mengenai pekerjaan..
Berarti menghindari kesalahan sekecil apa pun. Dan berusaha menuju pada kesempurnaan. Bila sempurna dan tidak ada kesalahan, berarti kita memberikan kepuasan. Bila bisa memberikan kepuasan, berarti sebuah prestasi. Bila kita berprestasi, kita akan memiliki kepuasan di tempat kerja. Bila kita puas dengan pekerjaan kita, maka kita akan memiliki motivasi untuk lebih berprestasi lagi, untuk lebih memuaskan lagi…
Dan… bila demikian, maka kita bukan sekedar pegawai yang baik. Tapi kita adalah pekerja yang luar biasa. Sebagaimana ungkapan Charles R. Swindoll:
The difference between something good and something great is attention to detail

Untuk bisa menjadi orang yang selalu berpikir detail memang perlu pembiasaan. Namun yang lebih penting dari itu, adalah menyukai pekerjaan. Karena, kalau kita menyukai pekerjaan kita. Kita akan melaksanakannya tanpa merasa diperintah tanpa merasa itu sebuah beban atau tuntutan. Melainkan sebagai hobi atau kesukaan. Sehingga kita sering lupa waktu dalam bekerja

Dan, sebagaimana sering kita ungkapkan…
Hanya orang yang bersyukurlah yang bisa mencintai dan berpikir detail tentang pekerjaannya

Selamat hari Senin….

KELUAR DARI ZONA NYAMAN

Zona nyaman adalah keadaan di mana seseorang sudah merasa nyaman. Apa yang diharapkannya telah dicapai, tantangan yang ada telah dilampaui. Sehingga ia tidak lagi terdorong untuk berpikir dan bekerja keras. Dari hari ke hari ia hanya melakukan rutinitas yang hampir sama. Tak ada pemikiran baru, tak ada kreasi baru, tak ada lompatan baru. Sehingga, dapat dipastikan tak akan ada hasil yang baru. Dalam bahasa gaul, sudah kadung PW (posisi wuenak)
Orang tak mau bergeser dan berubah lagi. Apabila kondisi ini diteruskan, orang akan stagnan dan resisten terhadap perubahan. Dan…tentu tak kan ada perkembangan dan kemajuan

Untuk bisa keluar dari zona nyaman…
Pertama orang harus menyadari bahwa hidup ini laksana menaiki sepeda alau kita tidak terus mengayuh dan bergerak maju, maka kita akan jatuh.

Kedua, jangan pernah puas dalam hal berkarya. Kita boleh dan seyogyanya bersyukur untuk setiap capaian pribadi. Namun dalam hal karya dan kemanfaatan untuk orang lain. Semestinya kita tidak pernah puas. Pasti dan selalu ada hal lebih yang bisa kita perbuat. Sesuai dengan status dan posisi kita

Kita dapat memulai keluar dari zona nyaman dengan mengubah kebiasaan-kebiasaan kecil sehari-hari. Kemudian, membuat jadwal kegiatan-kegiatan baru
Termasuk bertemu dengan orang atau relasi baru. Kita juga dapat membaca buku-buku baru yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan ilmu dan pekerjaan kita selama ini. Dapat pula dengan berselancar di dunia maya. Memasuki belantaranya yang selama ini tidak pernah kita masuki. Dari sana, kita bisa mendapatkan inspirasi. Untuk terus berbuat dan menebarkan manfaat.

Prinsip kita adalah:
Jangan pernah merasa cukup dengan amal sosial kita. Sebagai kesyukuran atas nikmat kehidupan yang kita terima. Dan sebagai bekal yang akan kita persembahkan saat menghadap-Nya

Wallaahu a’lam

Selamat malam Senin…

MENYEIMBANGKAN KECERDASAN

Dalam pergaulan kita sering berjumpa dengan seseorang yang intelektualitasnya tinggi, cerdas, pandai berbicara dan seterusnya namun banyak orang merasa tidak nyaman dengan sifat dan sikapnya karena orang ini egois, tidak care, dan tidak bisa mengapresiasi orang lain. Pendek kata, meski dia pandai tapi “nyebelin”. Hal ini disebabkan karena kurang seimbangnya kecerdasan orang tersebut. Orang ini hanya dominan kecerdasan IQ nya tetapi rendah kecerdasan emosional dan sosialnya. Kecerdasan emosional terutama berkenaan dengan kemampuan memahami emosi orang lain, dan mampu meresponnya. Kecerdasan sosial terkait dengan kemampuan memahami lingkungan dan berreaksi secara tepat agar dapat mencapai sukses secara sosial. Ada pula yang menyebut dengan kecerdasan interpersonal yaitu kemampuan bergaul, bekerja sama dan membangun relasi.

Idealnya, seseorang memiliki kecerdasan yang berimbang karena hal ini akan mempengaruhi makna sukses hidup yang sebenarnya sebagai mahluk individu dan mahluk sosial. Ukuran kemuliaan itu bukan hanya pada pencapaian, namun juga kebermaknaan capaian itu bagi orang lain serta pembawaan diri setelah ia mencapai posisinya. Kemampuan menghargai dan mengapresiasi orang lain tidak selalu harus dilandasi oleh rasa suka kepadanya. Kemampuan menghargai dan mengapresiasi orang lain adalah tanda orang itu memiliki pendidikan dan karakter yang baik walau pun ia tidak suka, ia tetap berusaha menghargainya. Inilah bagian dari kecerdasan emosional, sosial dan interpersonal.

Coba renungkanlah Firman Allah Swt berikut:

وَإِذَا حُيِّيْتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّواْ بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيباً
“Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (penghormatan itu, yang sepadan) dengannya. Sungguh, Allah Memperhitungkan segala sesuatu.” (QS.an-Nisa’:86)
Ayat di atas mengajarkan bahwa diberi salam pun  harus dibalas dengan lebih baik, minimal sama. Apa lagi bila yang kita terima itu lebih dari salam, bantuan, pertolongan, dukungan, kemudahan, atau lainnya. Tentu kita harus menghargai dan mengapresiasinya dan… hanya orang yang cerdas secara emosional dan sosial yang mau dan mampu melakukannya.

Wallaahu a’lam