Tag Archives: shortcourse

IAIN Salatiga Menjadi Pionir ISO 37001: 2016

Jakarta – Inspektorat Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia memberikan kepercayaan kepada Institut Agama Islam Negeri Salatiga sebagai pilot project  ISO 37001 : 2016 bersama empat satuan kerja lainnya yakni Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Lampung, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, dan Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tengah yang akan dimulai tahun 2020.

SNI ISO 37001 : 2016 adalah Sistem Manajemen Anti Penyuapan yang dirancang untuk membantu organisasi menetapkan, menerapkan, memelihara dan meningkatkan program kepatuhan anti-suap dalam sebuah organisasi/institusi Negara maupun swasta. ISO 37001 dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) pada tanggal 14 Oktober 2016 yang merupakan tindak lanjut dari Inpres. No. 10 Tahun 2016.

Rektor IAIN Salatiga, Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag. memberikan tanggapan bahwa melalui penerapan ISO tersebut diharapkan IAIN Salatiga bisa menjadi pionir ISO 37001 : 2016 yang akan dimulai tahun 2020. Menjadi pionir disini artinya mengimplementasikan pengendalian dan penerapan sistem manajemen anti penyuapan dilingkungan satuan kerja.

“ISO 37001 : 2016 sangat berkaitan dengan pembangunan Zona Integritas, yang tentunya kedepan IAIN Salatiga dapat diproyeksikan menjadi satuan kerja dengan predikat Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi,” kata Rektor usai mengikuti sosialisasi penerapan ISO 37001 : 2016, di Inspektorat Jenderal Kementerian Agama Jakarta, Senin (23/09/2019).

Prof. Dr. Zakiyuddin menambahkan yang perlu dibangun mulai sekarang diantaranya yakni kultur/budaya baru dalam birokrasi, niatan dan kepemimpinan yang kuat serta didukung semua unsur yang ada di IAIN Salatiga. “Tentunya akan dimulai dari beberapa unsur terlebih dahulu yang akan terlibat dalam penerapan ISO 37001 : 2016, supaya dapat berjalan dengan efektif,” jelas beliau. IAINSalatiga#KEREN_BRO (hms/zie/amn)

IAIN Salatiga Mendapat Penghargaan Pengelola Jurnal Internasional Terbaik

Jakarta — Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga mendapat penghargaan sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) Terbaik bidang Penelitian dan Publikasi Ilmiah dalam Pengelolaan Jurnal Internasional. Penghargaan tersebut diberikan dalam acara pembukaan Annual Conference Research on Proposal (ACRP) Tahun Anggaran 2020, di Hotel Horison Gran Serpong Tangerang, Rabu (18/09/2019).

Sebagaimana diketahui bersama bahwa penghargaan ini diberikan atas prestasi yang diraih oleh salah satu jurnal pada IAIN Salatiga “Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies” yang telah berhasil menjadi Jurnal pertama dan satu-satunya di Indonesia yang dapat menembus The Best Quartile 1 (Q1) di Schimago Journal Rank (SJR)

Usai menerima penghargaan tersebut, Rektor IAIN Salatiga, Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag. mengatakan bahwa penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi sekaligus pengakuan Kementerian Agama atas prestasi dan karya IAIN Salatiga, terutama para pejuang jurnalnya. Penghargaan ini juga merupakan nikmat dan jawaban Allah yang patut disyukuri atas ikhtiar serta tak kenal lelah dan bosan untuk membesarkan jurnal ilmiah dan nama baik institut.

Prof. Dr. Zakiyuddin juga berharap agar sivitas akademika dan khususnya para penggiat jurnal tidak berpuas diri. “Jadikan momentum ini sebagai motivasi untuk meraih milestone terbaik pada bidang bidang lainnya,” harapnya.

Sementara itu, dalam pembukaan ACRP, Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis), Kamaruddin Amin menekankan, bahwa penelitian yang dibiayai oleh Kementerian Agama, harus memiliki dampak dan kualitas yang bisa dirasakan oleh masyarakat.

“Riset yang dibiayai oleh Kementerian Agama harus terlihat dampak keilmuan, dampak ekonomi, dampak politik, dampak sosial, dan dampak lainnya,” tutur Kamaruddin Amin.

Menurutnya, akademisi ditantang untuk melahirkan karya-karya monumental. Kamaruddin mencontohkan kalangan orientalis yang mampu melahirkan karya-karya monumental dan cukup mempengaruhi dunia. “Penelitian harus dapat mengkapitalisasi potensi kita di Indonesia. Dengan perkataan lain, produk penelitian ini harus berdampak dan menyentuh pada kehidupan masyarakat,” tegasnya.

“Produk penelitian harus bisa kita publish pada jurnal-jurnal bereputasi tinggi,” sambungnya.

Guru Besar UIN Alauddin Makassar ini menilai secara kuantitas penelitian dosen PTKI sudah sangat banyak. Namun, secara kualitas masih perlu dieksplore dengan baik. “Ke depan, harus ada peningkatan riset secara kualitatif. Peneliti PTKIN dan PTKIS juga harus bisa mengakses berbagai sumber pendanaan penelitian di luar Kementerian,” tandasnya.

ACRP ke-3 mengusung tema “Meneguhkan Khittah PTKI sebagai Basis Moderasi Beragama melalui Penelitian, Publikasi Ilmiah, dan Pengabdian kepada Masyarakat”. IAINSalatiga-#AKSI (hms/zi/am)

Perpustakaan IAIN Salatiga Selenggarakan Seminar Peningkatan Mutu Kepustakawan

SALATIGA-Perpustakaan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga selenggarakan Seminar Nasional Kepustakawanan dengan tema Integrasi Institusional Repositori dengan Ramah Untuk Meningkatkan Publikasi Ilmiah. Peserta seminar ini berasal dari 30 pustakawan Perguruan tinggi se-Jawa Tengah dan 130 pustakawan dari sekolah dan Perguruan Tinggi se-Salatiga.

Seminar pada Kamis (22/08/2019) tersebut dalam rangka melaksanakan program perpustakaan dan menjalin networking dengan berbagai elemen sekolah dan Perguruan tinggi. Hadir sebagai pemateri Rektor IAIN Salatiga Prof. Dr. Zakyuddin, Ketua Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi (FPPTI) Jawa Tengah sekaligus Ketua Perpustakaan IAIN Salatiga, Wiji Suwarno, S.Ag. M. Hum dan Ketua FPPTI Jawa Timur, Amirul Ulum, M. IP.

Wiji Suwarno mengatakan integrasi menyatukan antara repositori atau koleksi digital yang kita punya dengan repositori milik Kementerian Riset, Teknologi Perguruan Tinggi  (Kemenristekdikti) Rama. “Pustakawan sekarang tidak hanya terjebak dalam pekerjaan teknis, namun juga mengajar, meneliti, menjadi aktivis kepustakawanan dan menulis,” ujar Presiden Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan Indonesia ini.

Pengetahuan juga diberikan kepada pustakawan sekolah mengingat hal ini masih baru bagi mereka. Dengan mengenalkan publikasi ini, minimnya  pengetahuan tentang publikasi dan jurnal akan meningkat.

Begitu juga dengan Amirul ulum, ia mengungkapkan adanya kebijakan dari kemenristekdikti untuk meningkatkan mutu publikasi ilmiah di Indonesia menjadikan peningkatkan kualitas publikasi  harus di dukung orisinalitas, nilai kebaruan, dan kontribusi dalam masyarakat.

“Membuat sedemikian itu harus didukung cara menulisnya, bebas dari plagiasi. Fasilitas dari kemenristekdikti berupa portal Garuda, Sinta, Anjani, dan Arjuna. Disana masyarakat Indonesia bisa mencari sumber informasi yang ilmiah dan valid untuk memperkaya publikasi ilmiahnya,” terang tim ahli kemenristekdikti ini.

Zaky berpesan, perpustakaan tidak akan pernah ditinggalkan oleh peminatnya ketika dia berinovasi dan berkreatifitas. “Selama manusia berpikir disitulah perpustakaan dibutuhkan. Jangan khawatir perpustakaan akan ditinggalkan bukunya, tidak. Setiap buku ada pembacanya, setiap pembaca butuh buku, hanya mungkin bentuk atau formatnya berbeda. Sekarang sudah mulai digital, perpustakaan juga akan mengikuti pola-pola digital termasuk layanan digital,” katanya.

Selain itu, rangkaian kegiatan ini adalah rapat kerja ikatan pustakawan Kota Salatiga dan pelantikan pengurus daerah, adapun Ketua Ikatan Pusatakawan Indonesia Kota Salatiga adalah Ifonila Yenianti pustakawan dari IAIN salatiga yang akan di lantik oleh Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Itnamudin yang juga pustakawan IAIN Salatiga*. IAINSalatiga-#AKSI (hms/zi/id)

 

ICONIS 2019 Sukses diikuti 58 Peneliti

SALATIGA – International Conference on Islam and Muslim Societies (ICONIS) 2019 yang digelar program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga sukses diikuti sebanyak 58 peneliti dari dalam negeri dan sejumlah negara lain mengikuti, di Laras Asri Spa dan Resort, Selasa (6/8/2019).

Konferensi berskala internasional ini merupakan agenda rutin setiap tahun dengan mengangkat tema-tema khusus seputar wacana keislaman.

Rektor IAIN Salatiga Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag. mengatakan, tujuan ICONIS adalah menjaring sebanyak mungkin peneliti dan pengamat seputar isu perkembangan islam serta masyarakat muslim yang tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan Asia Tenggara bahkan dunia.

“Acara ini terbuka untuk semua peneliti dari berbagai perguruan tinggi di dunia serta pengamat khususnya mengenai isu keislaman sekarang,” katanya.

Hanya, kata Prof. Zakiyuddin, peserta harus memenuhi syarat tertentu dengan mengirimkan karya ilmiah sesuai tema yang diangkat tahun ini yakni Civil Islam Indonesia : Moderat, Konservatif, dan Populis.

“Isu lain yang dibahas seperti terorisme, radikalisme termasuk topik yang dibahas. Namun para peneliti diharapkan memberikan gagasan lain tentang islam dengan pendekatan positif melalui moderatisme islam,” ujarnya.

Menurut dia, forum ini juga untuk menggali Islam yang ramah, melalui kajian ilmiah temuan lapangan atau literatur sebagai penyeimbang wacana negatif yang dibangun kelompok tertentu terkait Islam. “Sehingga, kami mengedepankan agar moderasi Islam menjadi model beragama di dunia internasional kedepan,” paparnya.

Lebih jauh dia mengatakan, menguatnya populisme islam di Indonesia telah terlebih dulu terjadi pada negara-negara di Eropa, Belanda dan Perancis. Kalau ditelisik lebih jauh bentuk populisme sendiri terdapat dua macam yaitu populisme Islam (agama) dan politik yang berefek pada munculnya islamofiba dan dikhawatirkan membawa masyarakat kepada islam yang terlalu ekstrim baik kanan maupun kiri.

“Pada kesempatan kali ini seluruh peneliti yang terlibat mencoba menawarkan jalan tengah melalui gagasan moderisme agar seorang itu memiliki cara pandang beragam tentang islam. Untuk itu, gagasan moderatisme penting kami suguhkan melalui tulisan yang diterbitkan pada jurnal internasional,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Iconis Pascasarjana IAIN Salatiga 2019, Noor Malihah menambahkan, sejak dibuka pendaftaran pada Maret lalu peneliti yang turut serta mengirimkan karya ilmiah berjumlah 149 orang. Kemudian dilakukan seleksi bersama pihak luar tersisa 79 naskah sesuai dengan tema yang diangkat.

“Namun karena berbagai kendala, hannya 58 peserta lolos yang mengikuti Iconis 2019 dan telah melengkapi naskah sesuai ketetapan maksimal pada 21 Juni lalu. Sejauh ini peserta terbanyak berasal dari tiga negara yakni Indonesia, Malaysia, dan Singapura,” ujarnya

Dia menjelaskan, setiap peserta diwajibkan menjelaskan karya masing-masing secara terbuka kepada semua peserta maupun pada sesi kelompok karya yang memiliki kedekatan tema yang diajukan dalam kajian masing-masing.

“Dalam proses seleksi naskah sebelumnya menggunakan metode blind review di mana antara penyeleksi dengan identitas pengirim naskah disembunyikan tujuannya agar tidak terjadi kecurigaan ketidakjujuran penyelenggara.”

“Pada pelaksanaan Iconis secara teknis peserta dibagi menjadi beberapa kelas, ada kelas kecil dan besar. Mereka nanti secara bergantian melakukan presentasi yang disaksikan langsung oleh tim penilai. Hasil akhirnya akan diambil sebanyak 12 naskah terbaik bakal dimuat pada jurnal Ijims IAIN dengan peringkat Q1 atau jurnal ilmiah terbaik di Indonesia,” pungkasnya.

Salah satu Keynote Speaker, Dr. Mohd Roslan bin Mohd Noor dari University of Malaysia, Malaysia mengungkapkan fenomena Islamofibia dan sebagaimana juga terjadi di negaranya. Ia menyebutkan perkembangan umat Islam secara keseluruhan yang baik dengan penuh keterbukaan dan bersedia menerima perubahan perlu dikemukakan kepada publik.

Menurutnya, perlu ada kompromi antar masyarakat muslim dunia didasarkan permahaman yang benar tentang Islam agar tidak menimbulkan penilain negative. Sehingga, semua pihal merasa keamanan dirinya terjamin dan suatu Negara dapat benar-benar mengalami kemajuan sesuai visi pemerintah masing-masing.

“Satu persoalan sensitif yang menjadi kegelisahan kami adalah citra islam yang tidak dipahami secara betul. Ada salah paham, sehingga perlu kajian lebih jauh tentang moderatisme ini. Bahwa islam dapat memayungi agama lain, bukan sebaliknya seperti peristiwa di Timur Tengah,” sebutnya.

Mohd Rosian menegaskan sesuai sejarah hubungan antar agama baik islam menjadi bagian dari yang minoritas atau mayoritas tidak pernah menjadi masalah. Hanya saja belakangan muncul wacana lain dan menimbulkan islamofobia. Sehingga, kata dia perlu fenomena tersebut dilurukan melalui kajian ilmiah yang terukur. IAINSalatiga-#AKSI (hms/zi)

Mahasiswa TBI STAIN Salatiga Mengikuti Program Study at United States Institute (SUSI) di Amerika

Sukrisno TBI STAIN Salatiga

Sukrisno, mahasiswa TBI STAIN Salatiga semester lima, berangkat ke Amerika Serikat dalam program Study at United States  Institute (SUSI). Ia berangkat bersama 20 mahasiswa se-Indonesia, empat mahasiswa di antaranya dari Kampus di Jawa Tengah; Unnes, UNS, dan STAIN Salatiga. Di AS ia akan mengikuti shortcourse selama 5 minggu di Philadelphia University Pensilvania, dalam program Leadership Religious Pluralism.

Ia dilepas Ketua STAIN Salatiga, Dr. Imam Sutomo,M.Ag, pada Selasa, 8/1, di ruang kerjanya dengan didampingi oleh Kaprodi TBI,  Maslihatul Umami,MA. Sukrisno yang juga aktivis  IMM ini akan berada di Amerika selama sekitar 5 minggu, 11/1-17/2 mendatang. Kepada redaksi Simfoni, Ia berharap mendapatkan banyak  pengalaman melalui program ini. Begitu pula harapan pimpinan agar  mahasiswa yang berangkat ke luar negeri bisa membawa nama baik dan memperkenalkan STAIN Salatiga ke dunia luar. (sg)