Category Archives: Kolom Rektor 2019-2023

Terorisme dan Islamofobia : Distorsi Peradaban Barat

Kejadian 9/11 pada tahun 2001 dengan runtuhnya menara WTC telah mengubah citra Islam secara global. Pasca tragedi yang menelan kurang lebih 6.000 korban, Amerika dan Eropa mencanangkan perlawanan terhadap terorisme. Aktivitas Islam politik disebut-sebut sebagai pemicu radikalisme. Tujuh belas tahun setelah peristiwa itu berakhir, Islamofobia tumbuh dan mempengaruhi kehidupan kaum muslim di seluruh dunia. Redaksi Islam Berkemajuan berkesempatan mewawancarai Zakiyuddin Baidhawy, guru besar Studi Islam IAIN Salatiga dan pengajar Program Doktor Universitas Muhammadiyah Surakarta, untuk merefleksikan kembali makna situasi ini terhadap perkembangan Islam di Indonesia.

Bagaimana cara mengurai fenomena terorisme?

Sebuah awalan yang tepat untuk mengurai masalah terorisme ialah dengan cara memahami bahwa inti dari teror adalah “meneror”, yakni suatu peran yang secara historis sering, meski tidak harus selalu, dilakukan oleh “kekuatan terorganisir”, apakah oleh negara atau tentara, atau setidaknya ketika negara atau tentara telah menjadi regim despotik. Bagi saya, terorisme adalah tindakan pemaksaan dan kekerasan yang keluar dari koridor hukum dan aturan, bahkan menentang aturan dan hukum itu sendiri.

Bagaimana sebetulnya sejarah perkembangan terorisme?

Terorisme berawal dari kekuasaan kolonial dan  imperial Barat, namun mereka agak sulit untuk mengakuinya karena ketakutan yang tidak jelas. Ketika para pedagang Eropa mengeksplorasi pasar-pasar baru untuk memasarkan surplus produksi mereka sebagai akibat revolusi industri. Mereka datang ke Timur untuk berdagang dan  belanja bahan mentah untuk industri mereka. Ini dilakukan agar mereka dapat mengurangi eksploitasi atas sumberdaya mereka sendiri.

Pasukan Barat datang menginvasi dan menduduki dunia Islam yang sangat luas. Sayangnya pada masa kolonisasi dan imperialisasi ini, belum ada televisi, internet, kamera video dan sarana  komunikasi dan informasi yang dapat memblow up suara dan nalar publik yang memandang Barat sebagai pasukan asing, kaum aggressor dan teroris sejati.

Setidaknya ada tiga tesis yang menjelaskan proses lahirnya terorisme. Tesis pertama meletakkan faktor lingkungan sebagai sebab dan mesin utama lahirnya terorisme. Menurut tafsir ini, teror dikendalikan sedikit banyak oleh kekhawatiran nyata dan praktis, seperti pandangan ideologis dan utopis. Tesis kedua menyatakan ideologi sebagai prasyarat esensial sekaligus alasan dan melakukan teror. Tesis ketiga, memberikan tempat utama pada cara berpikir dan dorongan-dorongan psikologis dari para aktor  revolusi utama yang menganut kredo ideologis tertentu.

Bagaimana dengan terorisme yang sering kali dikaitkan dengan dunia Islam?

Untuk membicarakan terorisme dalam Islam, perlu terlebih dahulu di sini dikemukakan tentang dua hal. Pertama, terorisme di dunia modern-kontemporer memiliki kekhasan antara lain: teror tidak bermotif keagamaan. Dengan kata lain, dalam konteks terorisme, agama tidak menonjolkan dirinya berada di balik teror hingga pertengahan kedua abad 20. Pada faktanya, terorisme abad 19 dan awal abad 20 pada hakikatnya tidak berkaitan sama sekali dengan dimensi keagamaan; dan  terorisme baru ini sering dipraktikkan oleh kelompok-kelompok marjinal yang tidak selalu memiliki tujuan politik yang benar-benar jelas, sekalipun mereka berhubungan dengan sejumlah kecenderungan yang luas –anarkis, populis, marxis, fasis, rasis, dan seterusnya.

Kedua, berkaitan dengan tema Islam dan terorisme, perlu disadari bahwa masalah ini seringkali tidak bisa dilepaskan dari stereotipe dan bias yang sengaja dibangun oleh para akademisi dan pemimpin keagamaan Barat mengenai Islam atau Islamofobia. Paus  Benedict  XVI pernah melontarkan pidato kontroversial  pada 12 September 2006  di University of Regensburg. Ia memandang Islam Timur Tengah sebagai kekuatan kekerasan ekstrem yang menjadi lawan dari Barat yang menganut perdamaian sebagai hasil dari era pencerahan.

Singkatnya Anda ingin menyatakan bahwa Barat pun punya jejak sebagai terorisme global?

Ya. Ada dua fakta sejarah yang telah membuktikan terkait isu terorisme. Pertama, sejarah terorisme klasik sejatinya merupakan anak kandung dari dan dibesarkan oleh peradaban Barat sendiri. Kekerasan dan terorisme di belahan Dunia Timur baru terjadi pada awal abad 20. Kedua, ada kecenderungan kuat di Barat dalam memandang  Islam Timur Tengah sebagai salah satu kawasan surga bagi kekerasan politik dan terorisme, padahal kekerasan dan terorisme kontemporer itu juga bersumber dari Barat sendiri. Sayangnya kenyataan ini seringkali diabaikan.

Misalnya Noam Chomsky and Andre Vltchek bahkan menengarai berbagai kasus teror justru lebih banyak didalangi oleh Barat, utamanya AS. Saya akan menyebut beberapa. Pemboman atom kali pertama oleh AS atas Hirosima dan Nagasaki pada August 1945 telah membunuh sekitar 246.000 penduduk. Pembunuhan Patrice Lumumba, seorang Perdana Menteri Kongo tahun 1961 yang didalangi oleh AS dan Inggris.

Kemudian ada Pembantaian di Guatemala yang didanai oleh Bank Dunia dan Inter-American Development Bank. Sebetulnya ada banyak kasus di mana pemerintahan negara Barat seperti AS terlibat dalam konflik sipil, mereka menjadi dalang perang melalui bantuan keuangan hingga perlengkapan militer. Dengan berkaca pada peristiwa-peristiwa tersebut, kebijakan politik Negara barat justru memicu terorisme global.

Apakah Anda setuju bahwa kajian deradikalisasi di Indonesia berperan dalam meningkatkan Islamofobia, mengapa?

Ya. Insiden-insiden terorisme seringkali menempatkan secara semena-semena Islam atau Muslim sebagai tertuduh. Bahkan pada sebagian masyarakat, terorisme telah melahirkan islamofobia di kalangan Muslim sendiri. Ini lahir sebagai akibat cara pandang tunggal terhadap terorisme. Kajian yang tidak komprehensif (menyeluruh) atas persoalan ini sudah tidak lagi memadai. Sebagai kaum akademisi, kita memerlukan review berbagai model dan teori mengenai bagaimana proses radikalisasi terjadi. Banyak faktor dan kombinasi berbagai alasan terjadinya radikalisasi –baik pada skala individual, sosial dan global– meski tidak selalu berujung pada terorisme.

Bagaimana seharusnya memandang citra selama ini bahwa Barat itu cinta damai, sedangkan Islam identik dengan teoris?

Dari perspektif ilmu sosial, dikotomi antara “Barat cinta damai” dan “Islam cinta kekerasan” sangat mudah dikritik dari berbagai aspek. Pandangan bahwa bentuk-bentuk kekerasan dan terorisme negara atau kekerasan dan terorisme sipil/swasta merupakan corak eksklusif dari pemerintahan despotik Timur Tengah atau kaum fundamentalis Islam anarkhis, sepenuhnya merupakan salah besar.

Penggunaan dan  operasi kekerasan dan terorisme politik juga merupakan wajah asli dari kekuatan Barat yang mampu menciptakan perang dan mempertahankan kepentingan mereka untuk meraih hegemoni kekuasaan politik dan ekonomi.

Kita tidak lagi dapat meletakkan kekerasan dan terorisme  seperti memperhadapkan antara peradaban Barat yang memandang dirinya sebagai beradab dan damai versus  Timur/Islam yang barbar. Bila kita terjebak dalam pandangan semacam ini, maka kita telah membuat tafsir dan analisis perbandingan yang bersifat tidak adil.

Lalu bagaimana seharusnya kita memandang dan menyikapi terorisme yang akhir-akhir ini masih saja terjadi di Indonesia?

Dengan menelusuri jejak-jejak terorisme dan kekerasan di Barat dan Timur, termasuk Islam, kita dapat mengatakan bahwa persoalan utama terorisme yang terjadi di dunia Islam adalah reaksi atas kekerasan dan ketidakadilan yang dilakukan Barat, dan khususnya keberpihakan Barat dalam konflik Israel-Palestina.

Sebagaimana di Barat, terorisme di dunia Islam pertama-pertama justru dilakukan oleh “aktor negara” (state terrorism) yang otoriter. Sementara itu,  terorisme sipil terjadi ketika kebebasan mereka ditekan, dan pada saatnya melahirkan perlawanan dan pemberontakan atas para penindasnya. Jadi, semua problem tersebut melahirkan terorisme bukan semata untuk melawan Barat, namun juga untuk melawan tatanan politik kawasan  yang tidak berkeadilan.

Di sini perlunya menhindari pendekatan profiling dalam memahami teroris. Dinamika radikalisasi dan mobilisasi harus dibebaskan dari  profiling etnik atau agama. Pendekatan ini tidak adil dan harus ditinggalkan. Sebaliknya kita butuh cara pemahaman bahwa proses radikalisasi dapat dianalisis secara komprehensif yang mencakup: motif dan faktor global, situasional, sosial, psikologis atau perilaku.

Bila Islam Timur Tengah dipersepsi sebagai kekuatan yang cenderung pada kekerasan, sudah saatnya persepsi ini diklarifikasi dengan konteks yang melingkupi kawasan tersebut  sehingga diperoleh sudut pandang yang lebih berimbang dan adil terhadap terorisme.

Sumber : ibtimes.id

Menjadi Ilmuwan di Era Matinya Kepakaran

Di era disrupsi, akses terhadap ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi semakin mudah dan cepat. Hal ini mengakibatkan kecenderungan masyarakat lebih suka memilih mengakses secara sumber pengetahuan secara instan. Akibatnya semakin sulit membedakan antara seorang yang pakar dan tidak, karena semua orang dapat berkomentar dan berpendapat isu apapun di media sosial.

Untuk mengupas fenomena tersebut, kali ini redaksi berkesempatan mewawancarai seorang Guru Besar, Prof. Dr. H. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag (Rektor IAIN Salatiga). Berikut adalah hasil wawancaranya:

Menurut Anda, apa yang menjadi tantangan para ilmuwan hari ini?

Hal yang menjadi tantangan serius adalah era distrupsi. Fenomena disrupsi, yakni situasi di mana pergerakan dunia industri atau persaingan kerja tidak lagi linear. Perubahannya sangat cepat dan fundamental. Mengacak-acak pola tatanan lama untuk menciptakan tatanan baru. Baik itu dunia bisnis, perbankan, transportasi, sosial masyarakat, dan pendidikan/keilmuan.

Misalnya MOOC, singkatan dari Massive Open Online Course serta AI (Artificial Intelligence). MOOC adalah inovasi pembelajaran daring yang dirancang terbuka, dapat saling berbagi dan saling terhubung atau berjejaring satu sama lain. Prinsip ini menandai dimulainya demokratisasi pengetahuan yang menciptakan kesempatan bagi kita untuk memanfaatkan dunia teknologi dengan produktif.

Sedangkan AI adalah mesin kecerdasan buatan yang dirancang untuk melakukan pekerjaan yang spesifik dalam membantu keseharian manusia. Di bidang pendidikan, AI akan membantu pembelajaran yang bersifat individual.

Lalu bagaimana peran guru atau dosen, apakah akan tergantikan oleh teknologi?

Dalam banyak hal mungkin iya. Peran pendidik akan berubah dari sumber belajar atau pemberi pengetahuan menjadi mentor, fasilitator, motivator, bahkan inspirator mengembangkan imajinasi, kreativitas, karakter, serta team work siswa yang dibutuhkan pada masa depan.

Tapi ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh digital, yaitu karakter, kearifan dan spiritualitas. Budaya seperti: empati, altruism, tolong-menolong tidak bisa digantikan mesin/digital.

Jadi, fungsi pendidik bergeser lebih mengajarkan nilai-nilai etika, budaya, kebijaksanaan, pengalaman hingga empati sosial karena nilai-nilai itulah yang tidak dapat diajarkan oleh mesin. Jika tidak, wajah masa depan pendidikan kita akan suram. Banyak orang berpengetahuan, tetapi tuna etika.

Lalu, apa dampak era distrupsi bagi ilmuwan di tengah masyarakat?

Hal yang sangat nampak akhir-akhir ini adalah adanya kecenderungan ignorance (kedunguan) serta kegandrungan pada literasi instan yang menggejala secara massif sehingga kepakaran terancam mati.

Dengan kata lain, expertise (kepakaran) yang dimaksud adalah keahlian dalam bidang keilmuwan seolah-olah tidak lagi dibutuhkan masyarakat. Masyarakat merasa tidak penting kehadiran akademisi atau intelektual di dunia pendidikan dan kampus, karena internet menjawab semuanya.

Ironinya hal ini jika sampai berimplikasi pada buku menjadi tidak penting. Karena mereka cukup menjadi jama’ah Youtube, Facebook, InstaGram dan WhatsApp. Dengan adanya medsos: semua orang bisa berkomentar berbagai topik dan menyebarkan pengetahuan sesukanya. Tidak dapat dilihat, mana yang pakar dan mana yang tidak, karena semua seakan merasa menjadi pakar dengan semua tema-tema di media sosial.

Lalu bagaimana dengan nasib buku, kalau semuanya serba digital?

Kalau dalam tradisi Islam, menulis buku, mempertahankan tradisi intelektual, dan idealisme ilmu adalah perjuangan yang melelahkan. Salah satu cara memahami keindahan Islam adalah dengan melihat tradisi intelektual yang begitu kuat. Mungkin kita jarang tahu kalau Ibnu Taimiyah mempunyai tradisi, kalau setiap malam tidak pernah tidak menulis. Ini perlu kita teladani. Jangan sampai kepakaran mati karena gatget.

Sebab, ketiadaan tradisi menulis buku dan mewariskan ilmu adalah tanda kematian kepakaran. Karena itu seorang ilmuwan atau akademisi harus memiliki semangat jihad intelektual.

Apa itu jihad intelektual?

Yang jelas bukan jihad dengan pedang, tetapi jihad dengan hujjah dan agumentasi. Para akademisi harus memiliki jihad intelektual. Meskipun sukar jalannya dan sepi pengikutnya, fokus mengerahkan segela kemampuan intelektual untuk terus berkarya. Karena itu jihad ini bisa disebut dengan jihad akbar.

Lalu bagaimana dengan otoritas ilmuwan studi Islam di tengah maraknya literasi keagamaan di internet?

Menurut saya hari ini internet berperan dalam membentuk, mengonseptualisasi, dan memperluas keterlibatan agama para penggunanya dan mendotong interaksi bermotif spiritual, baik secara online maupun offline.

Kini bahkan para pengguna internet telah mendefinisikan internet sebagai “ruang suci” (sacred space) dalam rangka mengimpor ritual-ritual tradisional secara online, berbagai aktivitas keagamaan, dan menghubungkan pemeluk agama dengan situs-situs keagamaan, festival, dan sesamanya, dan menciptakan bentuk-bentuk keagamaan baru.

Bisakah internet menjadi sumber kepakaran atau otoritas keagamaan baru?

Internet memang memberikan ruang yang bebas bagi agama untuk bergerak karena hampir tanpa ikatan dan batasan. Kini internet juga menyerupai kaleidoskop agama, pemikiran keagamaan, ritual dan praktek keagamaan. Webmaster, admin, desainer web menciptakan suatu kelas baru: pemimpin dan penafsir keagamaan online, yang dapat berseberangan dengan figur dan pemimpin keagamaan tradisional.

Agama di internet kini menjadi corong bagi orang-orang yang dulu diam untuk bicara tentang agama, dan menawarkan interaksi antara pembaca dan penulis, serta menciptakan cara berpikir baru tentang agama.

Lalu apa implikasinya bagi kehidupan beragama?

Karena, internet menyediakan platform tanpa batas bagi ekspresi dan sirkulasi kepercayaan-kepercayaan, maka internet mampu mendefinisikan dan mengkerangkai apa itu agama dan apa unsur-unsurnya yang dipandang penting dalam masyarakat.

Selain itu, internet menyediakan guide spiritual (panduan beragama), orientasi moral, ritus ritus dan komunitas. Bahkan menciptakan agama tanpa tempat dan komunitas peribadatan: Muslim tanpa masjid (Kuntowijoyo), Kristen tanpa gereja, Budhis tanpa vihara, Hindu tanpa pura, dst.

Sumber : ibtimes.id

Penguatan Komitmen Pimpinan Satker pada Pembinaan Agen Perubahan Kementerian Agama Tahun 2019

Assalamualaikum Wr. Wb.

Yang saya Hormati,
Menteri Agama Republik Indonesia, Bapak Lukman Hakim Saefuddin
Pimpinan Eselon I dan II Kementerian Agama Pusat;
Para Rektor dan Ketua PTKN, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi, Kepala Kankemenag Kabupaten/Kota, dan Kepala Balai Diklat Keagamaan yang hadir mendampingi para agen perubahannya;
Panitia yang sangat kami banggakan yang senantiasa menggelorakan perubahan dan menebarkan energi positif kepada kami semua di IAIN Salatiga;
Dan seluruh peserta pembinaan Agen Perubahan Kementerian Agama Tahun 2019 yang saya banggakan.

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, atas segala limpahan rahmat-Nya, sehingga kita dapat hadir dalam kesempatan yang luar biasa ini. Sungguh merupakan kehormatan sekaligus kebanggaan bagi kami dan tentunya seluruh Agen Perubahan, karena kami diberikan kesempatan untuk berdiri di sini, di panggung kehormatan ini, pada acara pembinaan agen perubahan yang memberikan makna dan kesan tersendiri bagi kami.
Bapak Menteri yang kami hormati dan hadirin yang berbahagia.
Aura Kasih membawa nasi teri
Dimakan dengan bumbu rempahsari
Terima kasih kami haturkan kepada Bapak Menteri
Atas pemberian anugerah yang berharga ini
Kami juga berterima kasih atas kepercayaan Bapak Menteri, sehingga kami dapat mengawal program kerja para Agen Perubahan yang bermuara pada peningkatan kualitas layanan publik. Dari tujuh agen perubahan di IAIN Salatiga, hanya satu agen yang program kerjanya tuntas dan berdampak positif pada IAIN Salatiga. Siapa dia?
Membeli roti di toko Nawangsari
Disamping bengawan kota Solo Berseri
Diyah Rochati nama agen perubahan kami
Semoga jadi teladan dan sumber inspirasi

Makan roti diiringi musik campursari
Sambil berdendang badanpun bergoyang
Diyah Rochati memang pantas diapresiasi
Karena suka tantangan dan tak lelah berjuang

Apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah mendukung program kerja Agen Perubahan kami yang telah berinovasi dalam mengembangkan Sistem Informasi Manajemen Pegawai IAIN Salatiga atau SIMPIS.
Dengan program kerja yang disampaikan oleh Agen Perubahan, kinerja kami sangat terbantu. Beliau melakukan ini dengan penuh ketekunan hanya karena semata-mata ingin menjaga citra positif IAIN Salatiga dan kementerian agama. Beliau tanpa lelah berdiskusi dan bahkan selalu koordinasi dengan pimpinan dalam mewujudkan layanan terbaik.
Kami selaku pimpinan akan terus bekerja dan bahagia berkarya dengan dua semboyan: “al ibrotu bi kamalin nihayah laa bi naqsil bidayah”; arti bebasnya “Sekalipun kita memulai dengan keterbatasan, bukan halangan untuk meraih capaian-capaian terbaik”. Kami juga memiliki semboyan “KEREN BRO….AJIIB”, Kerja Terencana, Bersih, Rapi, Obyektif, Aman, Jelas, Integritas dan Berwibawa.
Untuk mewujudkan layanan unggulan dan inovatif sebagaimana yang disampaikan oleh Agen Perubahan kami, kami mengajak seluruh jajaran pimpinan satker untuk terus melakukan perubahan ke arah dan kondisi yang lebih baik, dengan memberikan dukungan penuh kepada para Agen Perubahan, yang kami yakini program kerjanya akan berdampak pada peningkatan kinerja satuan kerja masing-masing.
Teruslah bermimpi, berimajinasi, berkreasi, berinovasi, tingkatkan wawasan, dan bangkitkan energi positif bagi seluruh ASN, tidak hanya di IAIN Salatiga, tetapi juga di satker lainnya.
Kami juga mohon doa dan dukungan untuk Agen Perubahan IAIN Salatiga lainnya agar segera dapat kami rasakan secara nyata gagasan-gagasan dan rancangan perubahan yang sedang bersama-sama dibangun di IAIN Salatiga dan dapat juga dipergunakan pada satuan kerja lainnya.
Untuk para calon Agen Perubahan baru, kami hanya dapat berpesan melalui pantun:
Pergi ke Mampang membawa keranjang biru
Sembari pulang tak lupa membeli tahu
Selamat datang para agen perubahan baru
Mari berjuang moga sukses menghampirimu

Terima kasih
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Jakarta, 10 September 2019
Rektor IAIN Salatiga,

Prof. Dr. Zakiyuddin, M.Ag

BERKURBAN UNTUK MEMPERBARUI KARAKTER BANGSA

 

Hadirin kaum Muslimin jamaah `Idul Adha yang dimuliakan Allah swt.

Hari ini adalah saat yang sangat diagungkan umat Islam di seluruh penjuru dunia

Orang menyebutnya dengan `Idul Qurban  atau `Idul Adha

Hari di mana terdapat dua peristiwa yang selalu dijunjung tinggi umat Islam semua

Ibadah haji bagi mereka yang kuasa

dan ibadah kurban dengan sembelihan besar lagi selaksa

Sudah seyogyanya kita menyambut datangnya `Idul Adha

dengan kalbu tawadhu’ di hadapan Allah subhanah wa ta`ala

beriring suara dzikir takbir, tahlil dan tahmid yang bergema

terus berkumandang hingga hari tasyrik paripurna.

 

Sudah sepatutnya `Idul Adha diselami dengan renungan jernih lagi bersahaja

yang membawa pikiran kita pada keteladanan Ibrahim as yang berwibawa.

Sudah seharusnya pula `Idul Adha ini dihayati dengan jiwa suci lagi tak ternoda

yang menghantarkan kita pada  ketulusan pergorbanan atas Ismail as sang putera.

 

Merayakan `Idul Adha setiap tahun bukan menjadikannya rutinitas ritual tanpa makna

Mengulangnya setiap 10 Dzulhijjah bukan membuatnya sekadar urusan unta dan domba Menapakinya setiap bulan Besar bukan membawanya pada nostalgia haji belaka

Namun `Idul `Adha merupakan napak tilas rekam jejak hamba-hamba Allah yang mulia pribadi-pribadi berkarakter utama.

 

Ibrahim adalah ayah teladan yang penuh kasih sayang dan hidup sederhana

Seabad hidupnya penuh daya juang melawan penguasa tiran Namrud yang tunarasa

menentang kebodohan umatnya yang tunasusila

terlunta-lunta mengembara dari Mesopotamia

karena terusir oleh raja adikuasa

bersimpang jalan dari orang tuanya sang maestro berhala

terdampar di Mesir hingga akhirnya  bersandar di padang tandus penuh dahaga.

 

Di puncak kenabiannya, Ibrahim adalah manusia biasa, menjadi renta dan tak berputera    Dengan penuh asa, teriring doa kepada Yang Maha Kuasa

Rabbi habli min al-sholihin, anugerah putera yang didamba membuatnya bahagia

Meski akhirnya, dengan rela dan rasa cinta kepada Allah Ta`ala

kinasih putera utama diminta kembali oleh Yang Empunya

Itulah Qurban sebagai wujud taqwa hamba kepada Sang Maharaja.

 

Hajar adalah wanita setia dan perkasa

Meski hitam kulitnya bak jelaga, kehadirannya laksana tirta penghapus dahaga

Dialah yang memberikan Ibrahim asa dan menghadiahinya putera tercinta

Tatkala Ibrahim dalam kembara di jalan dakwah risalah agama

ia meninggalkan garwa dan puteranya dalam nestapa di tengah gurun sahara

tiada bekal barang dan arta, hanya ikhlas dan ridha di dalam dada

Hajar bersusah payah menjaga sang putera dari segala marabahaya

berlari antara Shafa dan Marwa demi seteguk tirta

karena terik matahari di tengah sahara, hanya fatamorgana yang ia jumpa

Berkat Allah Yang Maha Pencinta, menyembur zamzam yang   luar biasa.

 

Ismail sang putra pertama selalu ditimang dan dipelihara

Baru genap ia dewasa, Allah Ta`ala sudah  memintanya pula

Melalui mimpi pada suatu malam panjang seolah tak bermuara

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ اِنِّي اَرَى فِى الْمَنَامِ اَنِّى اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَأَبَتِ افْعَلْ مَاتُؤْمَرُ سَتَجِدُنِيْ اِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ

Maka tatkala anak itu sampai umur berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Al-Shaffat: 102).

 

Perintah  Allah yang sedemikian rupa kepada Ibrahim sang ayahanda

Agar ananda disembelih dan dikurbankan kepada-Nya

Disampaikannya dengan hati sedih dan duka

Tak disangka tak pula dinyana

Ismail sang putera menyambutnya dengan bahagia dan tiada pura-pura

Sembari membesarkan hati sang ayahanda Ismail berdoa

semoga Allah memasukkannya ke dalam golongan hambaNya yang sabar lagi menerima.

 

Sangat nyata bahwa teladan Ibrahim sekeluarga

dengan karakternya yang kuat dan bersahaja

telah menjadi pintu bagi jaminan Allah yang terbuka

telah membawa Makkah al-Mukarromah dan negeri-negeri sekitarnya

menjadi negeri yang aman, tenteram dan sejahtera.

 

Ini berkat kemampuannya membina generasi yang berkarakter Hanifa Muslima

Sudah seyogyanya kita yang selalu memperingati perjalanan Ibrahim dan keluarganya yang tergambar dalam keseluruhan prosesi ibadah Haji dan `Idul Adha

agar mengikuti jejak-jejak mereka yang luhur dan mulia

Apalagi saat ini, di mana bangsa Indonesia terus didera nestapa

Karena keterbelakangan moral dan kelumpuhan spiritual yang luar biasa.

 

Pembangunan memang terus berjalan, namun hanya dinikmati segelintir manusia kaya

Namun berjiwa papa, dan berlaku lebih buruk dari perompak yang tegarasa

karena mereka merampok kekayaan Negara atas nama kekuasaan yang tunanorma

dan dilegitimasi oleh peraturan-peraturan yang mereka cipta.

 

 

الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر  و لله الحمد 

Para Jamaah rahimakumullah

Kini, saatnya kita merenung dan bercermin semua

apakah cita-cita luhur menjadi “Bangsa yang adil, makmur dan sejahtera”

sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945

sudah mendekati realitas yang kasat mata

Karena itu, ada baiknya kita membaca kembali hadis berikut yang penuh makna:

 

الدُّنْيَا بُسْتَانٌ تَزَيَّنَتْ بِخَمْسَةِ أَشْيَاء: عِلْمُ الْعُلَمَاء وَعَدْلُ اْلأُمَرَاء وَأَمَانَةُ التُّجَّار وَعِبَادَةُ الْعَبْد وَ نَصِيْحَةُ الْمُحْتَرِفِيْنَ

 

“Dunia, Negara, atau masyarakat itu ibarat kebun yang indah apabila dihiasi lima pilar yang menopangnya: ilmu ulama, keadilan para pemimpin, amanat para pengusaha, ibadah rakyat, dan kejujuran karyawan dan pegawainya” (dikutip dari Kitab Tafsir al-Naisaburi, bab 31, juz 1, hal. 165).

 

Ulama adalah sebutan terhormat bagi manusia dengan ilmu sedalam samudra

kaum cendekiawan, ilmuwan, para ahli, pakar, dan kaum terpelajar itulah mereka

para  pewaris para Nabi yang utama.

Nabi Muhammad saw. telah membuktikan secara nyata

bahwa dengan ilmu (iqra dan nur) beliau berhasil membina masyarakat durjana

yang asyaddu kufran wa nifaqan (sangat kufur dan nifaq) menjadi masyarakat utama khair ummah bagi umat manusia di alam semesta

Para ulama ibarat pelita yang senantiasa menerangi jalan hidup khalayak manusia

dengan pendekatan ilmiah yang bertuah dan berwibawa.

 

Para pemimpin yang adil adalah mereka yang punya kuasa

Yang dengan kebenaran dan kearifan dapat menempatkan segalanya

pada tempat yang sesuai aturan dan hukum agama, juga hukum positif yang ada

Keadilan ditegakkan karena kecintaannya kepada kebenaran (al-Haqq) yang luar biasa Pada saat yang sama mereka menunjukkan rasa kasih sayang terhadap kaum dhuafa

dan golongan mustadhafin dari banyak kalangan rakyat jelata.

 

Pengusaha dan pedagang yang amanah ialah orang-orang yang terpercaya

memikul tanggung jawab memelihara hubungan baik dengan langganannya

tidak menipu dan merugikan mereka demi profit belaka.

 

Rakyat atau kaum awam yang taat beribadah dan berdoa

ibadah menjadikan mereka hidup dalam ketenangan dan ketentraman jiwa

insya Allah segala sesuatu berjalan dengan lancar dan penuh bahagia

 

Para pegawai dan karyawan yang jujur mengabdi pada Negara

Mereka adalah orang-orang yang lurus, tekun dan disiplin menjalankan tugasnya

serta memberikan pelayanan yang ikhlas dan tulus kepada masyarakat seluruhnya Dengan karakter ini, mereka dapat membangun perasaan satu saudara

persahabatan dan ukhuwah antara pemerintah dengan rakyat jelata.

 

Ma`asyiral Muslimin rahimakumullah

Inilah lima syarat atau pilar bagi berdiri dan tegaknya bangsa dan Negara sejahtera Namun apa mau dikata

Rupanya kita sedang menderita sindrom kelangkaan pilar bangsa yang berakhlak mulia Lima pilar itu kini hampir di tubir jurang yang menganga

karena bangsa ini enggan belajar dari kesalahan-kesalahan yang telah ada

Kita tergoda nafsu syaithan yang selalu menandingi karakter utama lima pilar di muka  dengan kebusukan di sebelahnya yang sangat nyata.

فَجَاءَ اِبْلِيْسُ بِخَمْسَةِ أَعْلاَمٍ وَاَقَامَهَا بِجَنْبِ هَذِهِ الْخَمْسَةِ

“Lalu datanglah Iblis (baik dari golongan jin maupun manusia) dengan membawa lima panji kebejatan, kemudian dipancangkannya di sebelah karakter utama yang lima.”

 

فَجَاءَ بِالْحَسَدِ فَرَكَزَهُ بِجَنْبِ الْعِلْمِ

“Iblis datang dengan panji kedengkian, dan dipancangkannya di samping ilmu”

 

فَجَاءَ بِالْجَوْرِ فَرَكَزَهُ بِجَنْبِ الْعَدْلِ

“Iblis datang dengan panji kezaliman, lalu dipancangkannya di sebelah keadilan”.

 

فَجَاءَ بِالْخِيَانَةِ فَرَكَزَهُ بِجَنْبِ اْلأَمَانَةِ

“Iblis datang dengan panji khianat, dan dipancangkannya di sisi amanat”.

 

فَجَاءَ بِالرِّيَاءِ فَرَكَزَهُ بِجَنْبِ الْعِبَادَةِ

“Iblis datang membawa panji ria, lalu dipancangkannya di samping ibadah”.

 

فَجَاءَ بِالْغَشِّ فَرَكَزَهُ بِجَنْبِ النَّصِيْحَةِ

“Dan Iblis datang dengan panji kepalsuan, lalu dipancangkannya di sebelah kejujuran”.

 

“Setelah kaum Iblis mengetahui  bahwa Muhammad saw. telah tiba

dan umat telah dibangun, maka mereka merasa tidak sanggup lagi menggoda manusia. Akan tetapi pemimpin Iblis bertanya kepada anak buahnya:

“Apakah mereka menyukai dunia?”

Kemudian pasukan Iblis menjawab: “Memang mereka sangat menyukai dunia,

kemaruk akan harta benda”.

Lalu Pemimpin Iblis berkata:

 

مَااُبَالِي اَنْ لاَيَعْبُدُوْنَ اْلأَوْثَانَ وَاِنَّمَا اَعْدُوْا عَلَيْهِمْ وَاَرُوْحُوْا بِثَلاَثٍ: أَخْذُ الْمَالِ مِنْ غَيْرِ حَقِّهِ وَاِنْفَاقِهِ فِى غَيْرِ حَقِّهِ وَاِمْسَاكِهِ عَنْ غَيْرِ حَقِّهِ

“Aku tidak peduli apakah mereka tidak lagi menyembah berhala!

Masih ada jalan lain menggoda manusia.

Aku akan mendatangi mereka baik di waktu pagi maupun senja

dan menggoda mereka dengan tiga cara:

1) aku menggoda mereka agar mengambil harta dengan cara yang tidak hak;

2) aku menggoda mereka agar membelanjakan harta di jalan yang tidak hak;

3) aku menggoda mereka agar menahan harta mereka pada tempat yang tidak hak.”

 

الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر  و لله الحمد 

Syetan apakah dari kalangan jin maupun manusia hanyalah media dan perantara

Godaan itu sendiri sesungguhnya datang dari hasrat dan nafsu angkara

Kesenangan akan gelimang harta, dan limpahan materi tiada terhingga

Karena keliru menempatkan kebutuhan dan keinginan yang sesungguhnya berbeda

Kebutuhan adalah segala sesuatu yang jika tak terpenuhi membuat manusia binasa

Keinginan ialah segala sesuatu yang diangankan melebihi apa yang biasa lagi sahaja

 

Ulama, dai, cendekiawan, dan ilmuwan yang tergoda hasrat dunia

Rela melacurkan argumentasi, dalil, dan bahkan fatwa agama

Apakah untuk kepentingan orang lain atau dirinya semata

Syiar kebenaran dimanipulasi dengan keasyikan memamerkan ilmu mereka

Melacurkan teori dan justifikasi untuk kepentingan pemegang dana

Melegitimasi kebijakan para pemegang kuasa yang adigang adigung adiguna

Ilmu bukan untuk menerangi jalan hidup manusia dan membela yang sengsara

Namun lebih karena didorong kedengkian antara sesama

Atau dirangsang nafsu serakah menjilat penguasa demi kedudukan dan gila harta.

 

Para pemimpin negara yang kemaruk kuasa

Tergoda oleh naluri rimba yang liar dan tunasusila

Para  execu-thieve (pejabat maling) yang menjabat di ranah pemerintahan Negara

Dengan buasnya merompak uang Negara yang ditarik dari pajak warga negara

Pikirannya selalu dipenuhi kecamuk hubbud dunya

Hari ini aku makan apa, besok aku makan siapa

Itulah makhluk bernama ultra omnivora

Daging dilahap, tetumbuhan dikremus, barang segala rupa tak luput jua

Tanpa malu, tiada ragu, yang penting enak dirasa

Perutnya buncit dijejali harta yang penuh nista

Meskipun  harus mengorbankan sesama dan tak peduli pada kaum papa

yang perutnya buncit karena hampa dan dahaga

kecuali irama keroncong gelembung udara

yang memenuhi rongga lambung yang kian merana

 

Para legisla-thieve (wakil rakyat maling) yang mengatasnamakan wakil rakyat jelata

Sibuk dengan upaya memperdagangkan dukungan dan suara

Membangun koalisi dengan partai-partai berdasa muka

Yang tak rikuh berganti-ganti  topeng dan sarwa rupa

Mereka tak peduli ideologi berbeda, yang penting langgeng kuasa dan selaksa banda

Mereka giat membuat undang-undang, merumuskan aturan dan anggaran segala rupa

Demi memperdaya bangsa yang telah memberi mereka mandat berkuasa

Mengelak dari jerat pidana perilaku durjana

Menjadi makelar proyek-proyek besar yang berarta-dana

Jual beli posisi, tawar-menawar jabatan pada mereka yang  ingin masuk lingkaran kuasa

 

Para judica-thieve (pengawas maling) yang menjaga hukum dan undang-undang Negara

Terlibat kongkalingkong dengan execu-thieve dan legisla-thieve berperilaku rahwana

Menjual dan menyalin putusan untuk klien yang sedang muram menghadapi penjara

Mengubah tuntutan untuk membebaskan tersangka

memperingan hukuman demi melindungi terdakwa

bahkan membebaskan hukuman akibat alpa yang disengaja

dengan kompensasi upeti dan harta benda.

Di tangan mereka hukum hanya berlaku bagi yang miskin dan papa

yang tertatih-tatih mengais keadilan sebab tak mampu membayar pengacara

 

Bujuk rayu kuasa harta dan berjuta arta

telah melumpuhkan mentalitas dan etos kerja para pedagang dan pengusaha

mereka berupaya mengeruk laba dengan menghalalkan segala cara

menjemput profit dengan memeras konsumen yang lemah dan diam seribu bahasa

memanipulasi substansi dan menyulap barang  serta jasa

mengurangi takaran dan mencurangi neraca

asalkan keuntungan yang didapat berlipat ganda.

 

Gemerlap duniawi juga telah membius rakyat jelata

Hatinya mendamba pada tumpukan benda

Dan pikirannya dipenuhi kecamuk gelimang harta

Demi mendapatkan semua itu mereka menjadi manusia alpa

Berlumur dosa karena suka menjilat atasan secara terbuka

Menyogok para si empunya kuasa agar lancar semua usaha

Mudah diprovokasi untuk melakukan tindakan nista

Kekerasan  sering terjadi meski terhadap sesama tetangga dan sanak saudara

Tawuran sudah bukan lagi wacana dan merebak kemana-mana

Bukan hanya dilakukan orang biasa bahkan para pelajar juga mahasiswa.

Ketulusan yang menjadi karakter mereka telah hilang ditelan jebakan angkara

Ketaatan dan kepatuhan pada norma agama dan norma susila

Sudah berganti dengan kesukaan pada dosa dan amuk massa

Berbuat suka-suka, mencuri, merampas, merampok, membunuh dan memperkosa

Memperkeruh suasana masyarakat dan bangsa.

 

Cinta dan glamornya kehidupan dunia

Telah menjerumuskan para pegawai dan karyawan dalam kubangan hina

Pengabdian kepada Negara, atau perusahaan tempat mereka bekerja

makin lama ternoda oleh perbuatan indisipliner sedemikian rupa

malas bekerja, suka berleha-leha, namun gaji naik selalu didamba

sebab itu menjerumuskan mereka pada tindakan penuh petaka

menggerogoti uang Negara yang dipungut dari berjuta-juta warga negara.

 

Kejujuran semakin menjadi barang langka

telah musnah dikubur oleh kepalsuan yang merajalela

dikabarkan dalam berita, ada seorang siswa dan ibundanya tercinta

mengadukan tindakan contek massal pada ujian nasional yang dilakukan secara terbuka

harus menerima cacian, makian, bahkan usiran dari para tetangga

para guru, kepala sekolah, penilik, dan kepala dinas sebagai abdi Negara

telah melacurkan kehormatan dan martabat demi mengatrol nilai para siswa

hanya setitik nila ujian nasional, maka rusaklah harkat seluruh bangsa.

 

Jamaah Idul Qurban yang dimuliakan Allah Swt.

Keprihatian makin hari makin mendera seluruh lapisan warga

Menyaksikan cara berpikir lima pilar bangsa yang disesaki lembaran arta

Melihat cara bersikap lima pilar Negara yang dijejali tumpukan harta

Memandangi perilaku lima pilar masyarakat yang momot  kemaruk dunia

Meski mereka giat membangun secara fisik bangsa dan Negara

Hasilnya hanya fatamorgana penuh tipu daya

Laksana bangunan kuburan yang fisiknya megah dan bertahta

Namun di dalamnya bersemayam tulang-tulang tak berkerangka

Dan sisa-sisa tubuh yang tercabik dan menebar aroma busuk tiada tara.

 

الشَرُّ كُلُّهُ مِنْ هَذَا نَبَع

“Kecintaan kepada dunia

ketamakan kepada harta

Di sinilah sumber segala tindak durjana” (Hadis dari Abu Umamah).

 

Lalu apa maknanya kita merayakan Idul Qurban atau `Idul Adha

Bila setiap saat kita menyaksikan  manusia-manusia yang makin nelangsa

Karena senantiasa terbius rayuan dunia

dan takut mati telah menjadi penyakit hati di kalangan Adam maupun Hawa.

 

Saatnya kini kita mesti bercermin pada pengorbanan Ibrahim sekeluarga

`Idul Adha menjadi bermakna bagi para ulama

bila mereka berani berkurban dengan tidak menggunakan ilmunya untuk memperdaya

menebarkan kedengkian di antara sesama melalui fatwa dan ilmu yang tidak bijaksana.

 

`Idul Adha dapat memberikan hikmah bagi para pemimpin Negara-bangsa

Jikalau mereka rendah hati mau berkurban dengan tidak berbuat aniaya

Menjauhkan dari  penyalahgunaan kekuasaan untuk memperkaya diri dan kroni semata

Mau dan mampu berlaku adil pada diri, keluarga, tetangga, dan semua warga

Baik mereka yang kaya maupun  papa, tanpa sedikitpun terbujuk oleh nafsu dan hawa.

 

`Idul Adha dapat menjadi berkah bagi para pedagang dan pengusaha

Tatkala mereka tulus berkurban dengan tidak memalsukan takaran dan neraca

Tidak memanipulasi dan menyembunyikan cacat barang dan jasa

Dan menjalankan transaksi bisnis bukan untuk semata laba

Namun membangun hubungan baik antara dua pihak dalam suasana rela dan sama suka

 

`Idul Adha bisa melimpahkan anugerah bagi rakyat jelata

Ketika mereka mau berkurban dengan taat pada perintah dan menjauhi larangan agama

Mematuhi undang-undang dan hukum Negara

Demi keamanan, ketentraman dan kesejahteraan hidup bersama

Juga tidak pernah alpa senantiasa menyenandungkan doa

Untuk keselamatan para pemimpin dan semua warga Negara.

 

Akhirnya, Idul Adha juga menjadi  berarti bagi para pegawai dan abdi Negara

Manakala mereka rela berkurban dengan memberi pelayanan sepenuh jiwa

Tidak pernah menunda-nunda tugas dan kewajiban kerja

Tak pula memanfaatkan orang yang butuh untuk menambah belanja keluarga

Semua pengabdian ia jalani dan upah ia terima dengan lapang dada

Meski hidup masih di bawah garis sejahtera, asalkan jiwa tetap kaya.

 

Maka pantas kiranya jika Syaugi Bey pernah berkata:

 

اِنَّمَا اْلأُمَمُ اْلأَخْلاَقُ مَابَقِيَتْ # وَاِنْ هَمُّوْا ذَهَبَتْ اَخْلاَقُهُمْ ذَهَبُوْا#

“Suatu umat dikenal karena akhlaknya. Ia langgeng selama akhlaknya  masih setia. Ketika akhlaknya telah tiada, umat itu pastilah binasa!”

 

Prof. Dr. H. Zakiyuddin Baidhawy

(Rektor IAIN Salatiga)

MENDIDIK EMPATI GENERASI MILENIAL

Sejak 2015 kita mengenal istilah Revolusi Industri 4.0. Penandanya ialah penggunaan jejaring maya dalam segala aspek kehidupan (the internet of things). Pemanfaatan selaksa data (big data) untuk berbagai kebutuhan dan pengambilan keputusan dalam waktu segera. Mudahnya, internet sudah menjadi keniscayaan bagi umat manusia di dunia kini dan mendatang. Internet menyerupai jiwa alam semesta. Melaluinya seluruh individu dapat terhubung, berinteraksi dan berkomunikasi. Internet sangat mudah ditemukan di perkantoran, perumahan, sekolah, dan tempat-tempat umum lainnya.
Internet telah membuka dunia baru yang penuh kemungkinan dan peluang bagi semua warga khususnya generasi milenial yang dilengkapi dengan alat-alat dan ketrampilan berkoneksi dengan internet. Generasi milenial umumnya lebih percaya informasi interaktif daripada informasi searah. Informasi searah itu membosankan. Mereka juga lebih memilih ponsel dibanding televisi. Dengan ponsel dunia dapat dilipat dan cemekel (dalam genggaman mereka). Bagi mereka, memiliki media sosial itu fardu `ain. Rerata mereka memiliki lebih dari satu akun medsos, mulai instagram, twitter, facebook, whatsapp, dll. Sayangnya generasi milenial ini kurang suka membaca secara konvensional dibandingkan generasi pendahulunya (generasi X dan baby boomer). Mereka menyukai informasi instan, singkat, infografis, dan semacamnya yang tidak memerlukan cukup pikiran untuk mencernanya. Generasi milenial juga sudah pasti sangat melek teknologi daripada orang tua mereka karena sudah mengenal/diperkenalkan gadget sejak dalam kandungan. Mereka cenderung kurang loyal, mudah bosan, tidak linear, namun dapat bekerja secara efektif.
Melalui internet mereka mengeksplorasi dan menemukan dunia sekelilingnya. Meskipun ada banyak manfaat dan keuntungan dari internet, sejumlah persoalan dan ancaman internet juga muncul, mulai dari material tanpa sensor hingga dunia maya yang minus regulasi dan nirbatas.
Generasi milenial yang menyukai informasi instan lebih rentan atas kabar bohong. Mereka kehilangan refleksi. Lalu lalang info dan data dikonsumsi nyaris tanpa filter. Hoaks jadi makanan harian. Mereka, dan juga generasi lainnya, kehilangan daya saring dan daya simak. Ini penanda erosi martabat dari homo sapiens menjadi homo videns. Manusia berpikiran dangkal karena lebih suka menonton. Pikiran dikendalikan nafsu kuasa dan naluri kerumunan.
Dalam situasi demikian tentu saja orang tua, guru, dan pendidik menghadapi suatu tantangan baru dalam cara membimbing, mengasuh, dan menjaga anak-anak, remaja dan muda-mudi. Sekarang, mereka juga ditantang untuk terlibat dalam penggunaan internet, tantangan yang belum pernah dialami oleh orang tua zaman dulu.
Walaupun ada banyak teknik dan teknologi yang dapat diadopsi orang tua untuk membimbing, melindungi dan mengawasi anak-anak dalam mempergunakan internet, banyak dari mereka mengalami kesulitan melakukannya. Karenanya penting untuk memahami bagaimana cara orang tua mengarahkan anak-anak dalam menggunakan internet dan faktor-faktor yang membuat mereka sukses melakukan tanggung jawab pengawasan.
Generasi Nirempati
Kini, anak-anak dan remaja di Negara-negara maju dan berkembang hidup dalam dunia di mana koneksi internet cepat telah menjadi norma. Pada saat yang sama, generasi orang tua baru merasakan hadirnya internet dalam 15-20 tahun terakhir. Tentu saja ini melahirkan kesenjangan antardua generasi berbeda. Waktu yang digunakan anak-anak sekarang untuk bermain games komputer dan aktivitas-aktivitas kesenangan online secara signifikan mengurangi kegiatan mereka di luar rumah. Ini berdampak langsung pada watak mereka yang kurang peduli sesama dan lingkungan sekitar. Mereka bersama dalam fisik, namun tidak dalam pikiran dan perasaan. Serasa dekat dengan yang jauh, namun jauh dari yang dekat dan di sampingnya. Phubbing, asyik dengan dirinya, dunianya sendiri serta tak mau tahu dengan sekitarnya.
Ancaman terkait perggunaan internet telah lama dirasakan, dibicarakan dan didiskusikan kalangan orang tua, pendidik, dan para pakar. Internet diakui telah memberikan pengaruh atas kehidupan sosial para penggunanya. Penggunaan internet secara berlebihan dapat mengakibatkan kecanduan internet, termasuk kecanduan permainan dan laman-laman jejaring sosial. Belakangan sudah muncul penyakit kelainan jiwa akibat keranjingan gadget. Demikian pula isu tentang perundungan (bullying) di dunia maya dan kekerasan terhadap anak secara online telah menjadi keprihatinan bersama.
Selain itu, ancaman internet seperti pelanggaran hak cipta, kebanalan seksual akibat kontak dengan internet, pencurian identitas, ketersediaan materi-materi laman yang tidak senonoh, dan yang paling mutakhir adalah cyber-bullying atau kekerasan dunia maya, sering dilaporkan oleh berbagai media.
Kendali Internet dan Parenting
Ancaman-ancaman dari teknologi media baru sebagaimana dikemukakan di atas merupakan sumber kehawatiran dan kepedulian bagi banyak orang tua. Hubungan orang tua-anak terkait penggunaan internet dan komputer memang kompleks, dan merupakan wilayah negosiasi yang terus-menerus dikontestasi antara orang tua dan anak-anak mereka.
Menurut studi Shephard, Arnold, dan Gibbs (2006), 67% orang tua di negara-negara maju telah melakukan semacam pengawasan atas pengunaan teknologi informasi dan komunikasi oleh anak-anak mereka. Mereka cenderung merasa bahwa satu jam yang digunakan di depan layar komputer sama halnya dengan kehilangan waktu bermain di luar rumah, ngobrol dengan keluarga, membaca buku, aktif dalam kegiatan hobi, dan melakukan pekerjaan rumah. Mereka juga sadar mengenai “biaya yang mesti dibayar” oleh anak-anak mereka karena penggunaan TIK secara berlebihan.
Staksrud and Livingstone (2009) melaporkan bahwa upaya orang tua untuk mengatasi dilema antara keinginan agar anak-anaknya dapat menguasai dunia teknologi baru dan upaya mengawasi penggunaan internet oleh mereka, tampak masih belum memuaskan. Umumnya metode orang tua mengawasi anak-anak melibatkan seperangkat aturan penggunaan internet, terlibat aktif dalam membahas pengalaman menggunakan internet dengan anak-anak mereka, dan monitoring secara melekat. Orang tua juga perlu memahami lebih baik tentang persepsi anak-anak mengenai risiko internet dan menolong mereka untuk mengembangkan strategi dalam menghadapinya.
Sejumlah teknologi telah tersedia untuk membantu orang tua memonitor dan mengawasi penggunaan internet oleh anak-anak mereka. Teknologi ini juga membantu untuk mempermudah tugas orang tua dan meminimalkan konflik orang tua-anak akibat tindakan pengendalian dan pengawasan. Meski demikian, teknologi filter dan penguncian tidak seefektif yang mereka harapkan. Misalnya, teknologi filter tidak selalu dapat menutup akses pada situs-situs yang berisiko, dan bahkan seringkali teknologi filter juga menutup situs-situs yang kurang begitu berbahaya.
Mengontrol penggunaan internet membutuhkan pengetahuan teknologi sekaligus ketrampilan parenting yang kondusif untuk membuka komunikasi antara orang tua dan anak. Setidaknya ada beberapa strategi yang bisa ditawarkan di sini antara lain: Pertama, orang tua harus membiasakan dialog terbuka dan ramah dengan anak-anak mereka mengenai sejumlah sisi positif dan negatif internet dan dunia maya. Tindakan melarang dan menghakimi secara hitam-putih bukan saja dapat merusak hubungan orang tua-anak, bahkan anak-anak akan merasa dibelenggu dalam “kerangkeng” yang membosankan.
Kedua, orang tua mesti menolong anak-anak untuk melindungi privasi dari kegiatan online mereka agar anak-anak tidak merasa diintervensi kebebasannya. Menghargai privasi anak-anak akan melahirkan sikap penghargaan pula atas orang tua mereka. Sehingga batasan-batasan yang dikehendaki orang tua pun akan dapat dipahami anak-anak.
Ketiga, orang tua perlu mengembangkan strategi jalan keluar dari masalah ini. Karena itu, orang tua bukan hanya perlu mengetahui tentang hardware dan software untuk memfilter muatan situs dan virus, bahkan juga mampu menguasainya sehingga mereka dapat mempergunakan teknologi semacam itu untuk mengawasi dan mengendalikan penggunaan internet anak-anak mereka. Demikianlah, kendali dan pengawasan orang tua atas penggunaan internet anak-anak kini telah menjadi bagian dari gaya parenting yang mencakup spektrum aktivitas anak-anak dan hubungan saling pengaruh antara orang tua dan anak.

Karakter Empati

Implikasi negatif internet ialah menyajikan sarana perundungan. Melalui ponsel, pesan teks, posting foto, obrolan, email, instant messenger, blog online, game multiplayer, web jejaring sosial, youtube dll, generasi milenial berpotensi melakukan perundungan baik secara halus maupun vulgar. Dan tentu saja itu semua dapat berdampak yang membahayakan fisik maupun situasi yang mengancam kehidupan.
Ada banyak bentuk perundungan yang difasilitasi teknologi internet antara lain. Pertama, pelecehan dapat terjadi ketika perundungan dilakukan dengan cara mengirim pesan-pesan kasar, mengancam, atau menyerang orang lain, bahkan mempostingnya pada laman-laman publik. Kedua, flaming dapat terjadi ketika percakapan online meningkat kearah penggunaan bahasa yang kasar dalam berargumen. Ketiga, fitnah terjadi ketika seseorang memposting komentar-komentar negatif dan menghina korban sehingga membahayakan nama baik yang bersangkutan. Kelima, impersonasi terjadi pada saat seseorang menyerang orang lain melalui pesan-pesan merusak dengan cara menggunakan identitas fiktif/palsu. Keenam, outing terjadi ketika suatu informasi yang benar dari seseorang dibagikan secara online padahal yang bersangkutan tidak menghendaki informasi tersebut untuk konsumsi publik. Ketujuh, eksklusi terjadi ketika seseorang secara sengaja mengeluarkan orang lain dari kelompok media sosial online sehingga korban merasa terkucilkan dan tertolak. Kedelapan, pengintaian terjadi pada saat seseorang membangun hubungan yang tidak dikehendaki dengan orang lain yang sedang online sehingga korban merasa terancam hidupnya. Termasuk di dalamnya ialah mengirim pesan mengancam yang sengaja untuk mengintimidasi korban.
Semua jenis perundungan tersebut dapat menyebabkan rendahnya harga diri korban, menurunnya prestasi sekolah dan akademik, meningkatnya angka drop out, sekaligus depresi dan gangguan afektif lainnya. Dari segi pelaku, semua tindakan perundungan itu jika terjadi berulang-ulang akan menyebabkan hilangnya karakter bijak-bajik, sensitifitas dan kepedulian sosial. Itulah defisit empati pada generasi milenial.
Empati merupakan karakter positif. “Empati adalah kemampuan untuk mengakui, memahami dan berbagi perasaan dengan orang lain, layaknya berjalan di dalam sepatu milik orang lain” (Sumer, 2015). Empati ialah cara kita berinteraksi dan merasakan dunia sekitar kita. Belum banyak orang tahu tentang pentingnya empati dalam menumbuhkan kesejahteraan jiwa dan spiritual. Empati membuat kita sadar atas situasi orang lain, mau mendengar darinya, dan merespon perasaannya untuk menunjukkan bahwa kita dapat memahaminya secara tepat. Empati dapat mengubah hubungan sosial dengan sesama karena anda menjadi lebih arif dan bijak dalam memahami persoalan orang lain. Empati adalah kunci utama untuk menjadi pasangan suami/istri, orang tua, guru, dan teman yang lebih baik.
Tujuan utama menunjukkan karakter empati adalah untuk memperbaiki kehidupan anda agar selaras dengan kehidupan orang lain, dengan menyebarkan benih-benih kepedulian, perhatian dan berbagi. Berempati bukan berarti anda meletakkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan anda sendiri. Berempati mengantarkan anda pada pengambilan keputusan yang lebih efektif dan menunjukkan bahwa anda peduli.
Empati dalam Islam merupakan akhlak mulia, karakter utama. Sesuai dengan sabda Rasulullah Muhammad bahwa ada empat karakter utama yang menjamin keselamatan manusia. Empat karakter itu mencerminkan empati dalam makna yang komprehensif, utuh. Pertama, hayyinun: individu yang empati memiliki ketenangan dan keteduhan lahir dan batin (nafs muthmainah). Jiwa yang tenang menjadi asas utama bagi lahirnya empati. Berlatihlah untuk mengendalikan emosi dalam situasi yang sulit dan sempit, hingga anda tidak mudah goyah dan tidak mudah marah. Bersikap dan bertindak penuh pertimbangan. Tidak grasa grusu. Tidak mudah memaki, mencela, melaknat orang lain. Jiwa yang tenang, emosi yang teduh membangkitkan empati yang menentramkan.
Kedua, Layyinun: individu yang empati menunjukkan sifat nirkekerasan. Kekerasan baik verbal, fisikal, dan psikis, bukan cermin rahmat dan nikmat. Individu perlu secara terus menerus melatih karakter lemah lembut dan sopan santun baik dalam tutur kata maupun sikap dan tindakan. Tidak berlaku kasar dan tidak semaunya sendiri. Tidak galak dan tidak suka memarahi orang lain yang berbeda pandangan. Tidak suka melakukan pemaksaan termasuk pemaksaan pendapat. Sikap dan tindak tanduknya jauh dari kekerasan fisik maupun non fisik. Selalu menginginkan kebaikan untuk sesama manusia dan lingkungan.
Ketiga, Qaribun: individu yang empati memiliki karakter akrab, karib. Akrab mengandung dimensi relasi sosial. Relasi sosial yang berkeadaban dapat dibangun melalui sikap ramah ketika diajak bicara dan menyenangkan bagi orang yang diajak bicara. Wajahnya berseri-seri dan murah senyum jika bersua dan saling sapa, serta terbiasa menebar salam dan kedamaian kepada semua makhluk.
Terakhir, Sahlun: individu yang empati selalu mempermudah, tidak mempersulit sesuatu dan seseorang. Sikapnya optimistik, tidak ada permasalahan yang tidak ada solusinya. Tidak suka berbelit belit, tidak menyusahkan dan tidak membuat orang lain susah. Mengapa mudah dan memudahkan orang lain? Karena orang lain adalah saudara kita, bagian dari keluarga kita. Umat manusia adalah keluarga besar yang satu. Salah satu ucapan mulia ketika kita berjumpa sesama ialah “ahlan wa sahlan”. Anda adalah bagian dari keluarga kami, maka segalanya menjadi mudah buat anda. Wallahu a`lam.

 

Zakiyuddin Baidhawy