Tag Archives: perpustakaan

Perpustakaan IAIN Salatiga Selenggarakan Seminar Peningkatan Mutu Kepustakawan

SALATIGA-Perpustakaan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga selenggarakan Seminar Nasional Kepustakawanan dengan tema Integrasi Institusional Repositori dengan Ramah Untuk Meningkatkan Publikasi Ilmiah. Peserta seminar ini berasal dari 30 pustakawan Perguruan tinggi se-Jawa Tengah dan 130 pustakawan dari sekolah dan Perguruan Tinggi se-Salatiga.

Seminar pada Kamis (22/08/2019) tersebut dalam rangka melaksanakan program perpustakaan dan menjalin networking dengan berbagai elemen sekolah dan Perguruan tinggi. Hadir sebagai pemateri Rektor IAIN Salatiga Prof. Dr. Zakyuddin, Ketua Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi (FPPTI) Jawa Tengah sekaligus Ketua Perpustakaan IAIN Salatiga, Wiji Suwarno, S.Ag. M. Hum dan Ketua FPPTI Jawa Timur, Amirul Ulum, M. IP.

Wiji Suwarno mengatakan integrasi menyatukan antara repositori atau koleksi digital yang kita punya dengan repositori milik Kementerian Riset, Teknologi Perguruan Tinggi  (Kemenristekdikti) Rama. “Pustakawan sekarang tidak hanya terjebak dalam pekerjaan teknis, namun juga mengajar, meneliti, menjadi aktivis kepustakawanan dan menulis,” ujar Presiden Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan Indonesia ini.

Pengetahuan juga diberikan kepada pustakawan sekolah mengingat hal ini masih baru bagi mereka. Dengan mengenalkan publikasi ini, minimnya  pengetahuan tentang publikasi dan jurnal akan meningkat.

Begitu juga dengan Amirul ulum, ia mengungkapkan adanya kebijakan dari kemenristekdikti untuk meningkatkan mutu publikasi ilmiah di Indonesia menjadikan peningkatkan kualitas publikasi  harus di dukung orisinalitas, nilai kebaruan, dan kontribusi dalam masyarakat.

“Membuat sedemikian itu harus didukung cara menulisnya, bebas dari plagiasi. Fasilitas dari kemenristekdikti berupa portal Garuda, Sinta, Anjani, dan Arjuna. Disana masyarakat Indonesia bisa mencari sumber informasi yang ilmiah dan valid untuk memperkaya publikasi ilmiahnya,” terang tim ahli kemenristekdikti ini.

Zaky berpesan, perpustakaan tidak akan pernah ditinggalkan oleh peminatnya ketika dia berinovasi dan berkreatifitas. “Selama manusia berpikir disitulah perpustakaan dibutuhkan. Jangan khawatir perpustakaan akan ditinggalkan bukunya, tidak. Setiap buku ada pembacanya, setiap pembaca butuh buku, hanya mungkin bentuk atau formatnya berbeda. Sekarang sudah mulai digital, perpustakaan juga akan mengikuti pola-pola digital termasuk layanan digital,” katanya.

Selain itu, rangkaian kegiatan ini adalah rapat kerja ikatan pustakawan Kota Salatiga dan pelantikan pengurus daerah, adapun Ketua Ikatan Pusatakawan Indonesia Kota Salatiga adalah Ifonila Yenianti pustakawan dari IAIN salatiga yang akan di lantik oleh Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Itnamudin yang juga pustakawan IAIN Salatiga*. IAINSalatiga-#AKSI (hms/zi/id)

 

IAIN Salatiga Tuan Rumah Rapat Triwulan GenBI Semarang

SALATIGA – Untuk pertama kalinya IAIN Salatiga menjadi tuan rumah Rapat Triwulan Generasi Baru Indonesia (GenBI) Semarang, yang diselenggarakan di Auditorium Gedung K.H. Ahmad Dahlan, Kampus 3 Jl. Lingkar Salatiga Km.2, Sabtu (29/6/2019).

Rapat Triwulan GenBI Semarang merupakan program kerja rutin GenBI Semarang setiap tiga bulan sekali dalam satu periode kepengurusan yang sebelumnya telah dilaksanakan di Universitas Diponegoro pada bulan Maret 2019.

Diikuti oleh ketiga perguruan tinggi penerima beasiswa BI wilayah Semarang yaitu GenBI Universitas Diponegoro, GenBI Universitas Negeri Semarang, dan GenBI UIN Walisongo sebanyak 110 mahasiswa. Rapat ini juga dihadiri oleh pejabat IAIN Salatiga diantaranya adalah Wiji Suwarno, S.PdI., S.IPI., M.Hum. (Kepala Perpustakaan IAIN Salatiga), Drs. Jumadi, (Kepala Bagian Akademik dan Kemahasiswaan), dan Himmi Naf’an S.E. (Kepala Sub Bagian Kemahasiswaan, Alumni & Kerja Sama).

Wiji Suwarno, M.Hum., menyampaikan IAIN Salatiga sangat mendukung GenBI khususnya di IAIN Salatiga dalam menjalankan program kerjanya dan siap untuk meberikan fasilitas yang dibutuhkan.

“Di perpustakaan kampus satu IAIN Salatiga kami sediakan sekretariat GenBI dengan BI Corner dalam satu ruangan penuh, harapannya dapat meramaikan BI Corner tersebut untuk membuat program kerja terstruktur dan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat,” tutur Wiji Suwarno S.PdI., S.IPI., M.Hum.

Selanjutnya Wiji Suwarno, M.Hum. juga menambahkan, bahwa GenBI IAIN Salatiga dituntut untuk membuat gebrakan-gebrakan yang baru. Tentunya ditunjang dengan program kerja yang kreatif.

“Rancanglah program kerja yang kreatif dan inovatif serta maksimalkan proses belajar kalian dengan beasiswa ini,” tambah Kepala Perpustakaan IAIN Salatiga ini.

Agenda Rapat Triwulan GenBI Semarang sendiri yakni membahas diantaranya evaluasi kepengurusan dan kegiatan, sosialisasi prosedur pengajuan proposal kegiatan, pembentukan kepanitiaan Capacity Building, dan sosialisasi Pemilu Raya untuk memilih Ketua Umum GenBI Semarang 2019.

Pemilu raya ini sebagai wadah reorganisasi kepengurusan GenBI Semarang periode 2018. Sementara Capacity Building adalah kegiatan untuk membekali dan menunjang mahasiswa dalam memahami Bank Sentral, sistem keuangan, dan materi ke-BI-an.

Adapun pelaksanaan Pemilu Raya dan Capacity Building pada bulan Agustus mendatang dalam satu waktu. Dan untuk tuan rumah Rapat Triwulan GenBI Semarang selanjutnya akan dilaksanakan pada September mendatang. IAINSalatiga-#AKSI (NC)

Perpustakaan Bukan Hanya Kata

Wiji Suwarno

Mendengar atau membaca kata perpustakaan sejumlah orang masih mengasumsikan bahwa perpustakaan adalah sekedar tempat buku.  Bahkan tidak sedikit pula yang menilai bahwa perpustakaan itu adalah gudang buku-buku tak terpakai, buku kuno dan lusuh.  Belum lagi kalau melihat perpustakaan-perpustakaan yang nyaris tidak terperhatikan, tidak terkelola dengan baik. Jangankan menarik minat orang untuk mengunjunginya, sejenak menyenpatkan mata untuk melihat saja kadang-kadang hanya karena kebetulan lewat di dekatnya. jadi ya mau tidak mau ya harus melihat.

Perlu suatu perjuangan yang tidak ringan untuk menggeser asumsi ini menjadi lebih baik sebagaimana perkembangan perpustakaan yang sesungguhnya sudah mulai semakin menggeliat. Kini perpustakaan mempunyai landasan untuk berkembang, yakni UU Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan.  UU inilah yang kemudian seolah-olah menjadi alat picu bagi perpustakaan untuk menjaga dan menunjukkan eksistensinya sebagai institusi yang memiliki peranan penting dalam membangun dan mengembangkan peradaban bangsa.

 Apa kata Undang-Undang?

Dewasa ini pengertian perpustakaan sudah lebih berkembang. Anggapan masyarakat bahwa perpustakaan selalu identik dengan buku-buku dan majalah atau media cetak tidak seluruhnya benar sehingga anggapan tersebut perlu diluruskan lagi. Istilah perpustakaan sudah mengalami perluasan makna, bukan lagi sekedar gedung atau bangunan.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan menyebutkan bahwa Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka”.  Dan masih menurut undang-undang yang sama, bahwa koleksi perpustakaan adalah semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam dalam berbagai media yang mempunyai nilai pendidikan, yang dihimpun, diolah, dan dilayankan.

Selain itu perpustakaan telah memanfaatkan teknologi informasi seperti CD-ROM, jaringan komputer, dan internet. Khusus internet dapat digunakan untuk penelusuran informasi secara online. Informasi terhubung dengan basis data atau pangkalan data dari jarak jauh sehingga data bisa diakses dari tempat lain dengan jaringan komputer. Banyak sudah perpustakaan di Indonesia yang sudah menyediakan layanan ini.

 Humanisme perpustakaan

Selain layanan dalam arti pemberian fasilitas, terdapat pula layanan istimewa yang bisa diberikan oleh perpustakaan. Misalnya: Pemakai atau istilah Undang-Undangnya adalah pemustaka, tidak perlu lagi segan-segan meminta bantuan atau petunjuk pada pustakawan ketika kesulitan mencari informasi yang diinginkan. Sebab tidak sedikit pustakawan sekarang sudah dibekali dengan kemampuan softskill yang baik.  Pustakawan bukan lagi menjadi makhluk yang menyeramkan yang melayani pemustaka dengan mata yang garang.  Semboyan layanan 5 –S sudah semestinya dilakukan sebagai budaya layanan yang humanis, yaitu senyum, sapa, salam, santun, dan sahaja.  Tidak menutup kemungkinan bila akan diberikan tambahan “S” lain yang lebih membangun citra pustakawan yang lebih baik.

Perpustakaan juga menerapkan Current Awareness Services (CAS) atau kesediaan informasi terbaru dan Selected Destimination Information (SDI) atau kesediaan informasi terpilih dan mutakhir. Pengetahuan atau informasi terbaru dan paling up to date bisa diperoleh dengan layanan tersebut.  Jika sebuah perpustakaan sudah menyediakan layanan ini maka dapat dibayangkan bagaimana bangunan atau gedung perpustakaannya. Biasanya suasana dan keadaan di dalamnya sangat representatif dan nyaman sehingga kesan positif akan nampak. Sebuah perpustakaan yang maju akan menanggalkan kesan negatif yang telah melekat dalam anggapan masyarakat selama ini.

 Perpustakaan sebagai pusat sumber daya informasi

Di era perkembangan global seperti sekarang ini, perpustakaan dapat dilihat sebagai pusat sumber daya informasi. Artinya bahwa perpustakaan tidak hanya sebagai penyedia informasi bagi pemustaka, tetapi pemustaka yang mengakses informasi di perpustakaan diharapkan mampu menghasilkan informasi atau pengetahuan baru dari informasi atau pengetahuan baru yang didapatkannya dari perpustakaan. Bentuknya pengetahuan baru itu bisa saja berupa artikel, laporan penelitian, makalah atau mungkin dalam bentuk buku yang kesemuanya itu dapat diakses informasinya oleh orang lain.

Karena fungsi pusat sumber daya informasi ini, perpustakaan dapat menjadi pusat pembelajaran sepanjang hayat. Artinya perpustakaan menyediakan  informasi yang edukatif, mendidik, dan menambah wawasan serta pengetahuan bagi pembacanya, sekaligus tidak membatasi siapa dan berapa usia pemustaka yang akan memanfaatkan informasi di perpustakaan.

Untuk membuat nyaman pemustakanya pun perpustakaan perlahan mulai “berhias”, mempercantik diri sehingga pengunjung merasa nyaman di dalamnya., didukung dengan disediakannya bahan bacaan yang ringan, menghibur, dan menyenangkan.  Karenanya perpustakaan juga memiliki fungsi rekreasi.

Berbagai karya dari pemikiran para ahli dan cendikia, disajikan sebagai informasi yang inspiratif dan layak akses, dan mampu membangkitkan serta mengembangkan pemikiran para pembacanya.  Sehingga dengannya mempengaruhi pula perkembangan peradaban.  Pemikiran yang terimplentasi inilah yang disebut dengan budaya, maka tidak keliru jika perpustakaan dikatakan memiliki fungsi budaya.

Intinya, perpustakaan bukanlah hanya sekedar kata, bukan pula sekedar istilah tanpa makna.  Tapi justru di sana tersimpan “harta” yang tidak habis dimakan masa, dan tak berkurang meski dimanfaatkan penggunanya. Dengan demikian masihkah ada keraguan mencitrakan perpustakaan?

PERPUSTAKAAN DAN PERGURUAN TINGGI: MENGUBAH “SAMPAH” MENJADI “EMAS”

Oleh: Wiji Suwarno – STAIN Salatiga

Suatu ketika, pada saat penulis asyik “berlayar” di lautan maya yang syarat dengan informasi, sempat dibuat tertegun pada satu naskah dialog inspiratif yang kemudian membuat ketertarikan penulis untuk mengunduhnya dan keinginan berbagi kisahnya. Dialog ini nampak sederhana, tidak meng-hiperbola-kan suatu fakta, melainkan justru berkesan merespon fenomena yang saat ini sedang terjadi di berbagai perguruan tinggi yang setiap tahun menerima mahasiswa baru.

Berikut sedikit kisah itu yang penulis bahasakan kembali dengan bahasa penulis dengan maksud agar lebih mudah dibaca tanpa mengubah substansi dialognya.

Guru dan siswa

Suatu ketika seorang guru bijak dari wilayah Ju, China ditanya oleh siswanya yang kebetulan akan memasuki masa akhir studi dan tentunya sambil bersiap diri melanjutkan studi ke fase berikutnya. Murid itu bertanya: “Seperti apakah sesungguhnya Perguruan yg benar-benar unggul itu?, soalnya ni pak ya, saat ini tu banyak perguruan yang mengklaim dirinya unggulan, favorit, the best, atau pokoknya yang baik-baik gitu.”
Guru yang ditanya tersenyum pertanda senang ada siswanya yang bertanya cerdas pada situasi yang memang seharusnya menjadi pemikiran setiap orang yang akan memilih perguruan tinggi untuk studi lanjut. Guru bijak itu termenung sejenak, kemudian dengan lembut dan penuh kasih guru itu pun menjawab:

“Wah…pertanyaan bagus itu muridku!. Baik akan kami jawab ya. Kalau kami punya pemikiran begini: sesungguhnya perguruan yang unggul itu adalah perguruan yang tidak melakukan proses seleksi pada calon mahasiswanya nanti, tapi justru proses seleksi itu mestinya dilakukan pada orang tua yang akan mengirim anaknya untuk dididik di sana.”

“Lhoo kok begitu guru, apa orang tua itu juga akan ikut kuliah?” Sela siswa yang bertanya tadi.

“Ooo bukan begitu maksudnya, tapi menyeleksi sejauh mana atau seperti apakah nanti orang tuanya mau bekerjasama dengan baik dengan pihak perguruan dalam mendidik anaknya, atau hanya menyerahkan semua urusan pada pihak perguruan saja.”

“Mengapa demikian guru….?” tanya para muridnya.

Kembali san guru termenung sejenak, dan kemudian menjawab:
“Murid-muridku, Sesungguhnya mesin yang hebat dan unggul itu adalah mesin yang mampu mengubah sampah menjadi emas. Bukan bahan mentah sampah tapi keluar dari mesin tetap menjadi sampah. Jadi maksudnya, perguruan tinggi yang baik itu adalah perguruan tinggi yang mampu mengubah siapapun mahasiswanya nanti bisa menemukan dan memupuk potensi emasnya di dalam proses pembelajaran itu dan kelak ketika sudah lulus, mahasiswa itu menjadi orang yang unggul dan bahkan mempunyai nilai jual layaknya emas. Artinya mahasiswa itu mempunyai keunggulan baik dari segi ilmu, moral dan keahlian yang dimilikinya “.

Tiba-tiba seorang murid diantara mereka bertanya;
“Guru, lalu bagaimana jika ada Perguruan yang terkenal, yang katanya unggulan/favorit tapi melakukan seleksi pada para calon mahasiswanya…?”
Sang guru bijak menarik nafas dalam-dalam, dan sambil menepuk-nepuk bahu siswanya yang bertanya tadi, dan sang guru bijak itupun berkata;
“Jadi jika memang kamu menemukan sebuah perguruan yang melakukan seleksi dan memilih-milih siapa anak yang akan diterima menjadi mahasiswanya dari kelompok yang menurutnya bibit unggul, manurut kami jelas itu bukan sekolah unggulan namanya. Melainkan sekolah yang biasa-biasa saja tapi mengaku-ngaku unggul.”
“Mengapa demikian guru…?” tanya si murid tadi.
Sambil tersenyum guru itupun berkata;
“Jika memang hanya memilih dari bahan baku emas untuk dicetak kembali menjadi emas, secara logika itu tidak perlu lagi mesin hebat dan luar biasa. toh setiap tukang emas di pasar juga bisa melakukannya, tidak ada istimewanya. Tapi coba dipikirkan jika ada mesin yang benar-benar mampu merubah sampah-sampah yang tidak berguna itu menjadi emas, bukankah orang akan merasa takjub?”

Bagaimana dengan perpustakaan?

Perpustakaan perguruan tinggi adalah bagian dari system akademis perguruan tinggi yang menunjang keberhasilan proses KBM di dalamnya. Tugas utamanya adalah memfasilitasi dan memberikan informasi yang dibutuhkan seluruh sivitas akademik untuk kepentingan studinya.
Kaitannya dengan “sampah” tadi, perpustakaan melihat ada beberapa pemaknaan tentang sampah itu sendiri, pertama, bahwa cukup prihatin memang jika dikatakan bahwa perpustakaan itu penting tapi “kalau yang menilai itu orang-orang perpustakaan”, dan sangat mungkin perpustakaan itu tidak penting jika orang diluar perpustakaan itu yang berfikir. Sungguh tugas berat perpustakaan untuk menyamakan anggapan itu sekaligus meyakinkan kepada masyarakat bahwa perpustakaan itu sangat penting. Apalagi sebagian pemikiran masyarakatpun terlanjur dituangi anggapan jika perpustakaan itu menjadi tempat “sampah” bagi orang-orang yang tidak produktif di bagian tertentu, dan akhirnya di tugaskan di perpustakaan. Perpustakaan layaknya panti rehabilitasi orang-orang yang bermasalah di bagian lain, dan akan diambil lagi kalau sudah benar-benar menjadi pegawai yang baik.

Maka sejak UU No.43 Tahun 2007 tentang perpustakaan ini hadir, perpustakaan perlahan menggeliat untuk mampu mengubah paradigm “sampah” itu menjadi “emas” bagi lembaga penaungnya.

Kedua, bahwa perpustakaan ini seringkali dianggap sebagai tempatnya buku-buku lusuh, dan mengoleksi informasi “sampah” yang tidak banyak digunakan. Maka sejalan dengan perkembangannya, perpustakaan mulai berbenah dan menata diri sedemikian rupa, sehingga perpustakaan dapat memiliki peran besar dalam menyajikan informasi bagi penggunanya. Perpustakaan sudah saatnya mampu memilah dan memilih informasi-informasi yang mutakhir dan update sehinga bisa dimaksimalkan oleh pengguna, dan informasinya dapat dimanfaatkan menjadi informasi yang benar-benar terbaca dan bermanfaat bagi pemustaka yang membutuhkannya.

Perpustakaan STAIN Salatiga Menyelenggarakan Bedah Buku dan Workshop Pustakawan

Perpustakaan  menjadi gudang ilmu yang peranannya sangat penting bagi masyarakat. Selain itu perpustakaan juga bisa menjadi guidance bagi pembaca untuk memperoleh ilmu. Untuk tujuan inilah perpustakaan STAIN Salatiga menyelenggarakan bedah buku berjudul ’24 cara mendongkrak IPK’, pada 5/12, di Aula Utama kampus 1. Sebagaimana diketahui, IPK (indeks Prestasi Kumulatif), dinaggap menjadi salah satu variabel bagi akseptabilitas dalam dunia kerja. Buku itu ditulis oleh Agus M. Irkham, instruktur pada ‘Literasi Forum Indonesia Membaca’. Ia memaparkan bagaimana kita-kiat menaikkan IPK, misalnya dengan cara, aktif dalam presentasi, diskusi, aktif di kelas, banyak membaca buku, banyak menulis, mengikuti ke mana arah dosen menerangkan sesuatu, dan sebagainya.

Sementara itu di hari kedua diadakan workshop pustakawan yang diikuti oleh para praktisi perpustakaan di Jawa Tengah dengan pembicara Drs. Sofi,M.Ag, dari Kanwil Kemenag Jawa Tengah. Ia memaparkan strategi pemerintah, dalam hal ini Kemenag Jawa Tengah, dalam ikut serta memotivasi madrasah dan sekolah yang menjadi garapan Kemenag Jawa Tengah.