Tag Archives: salatiga

PENERIMAAN MAHASISWA BARU JALUR SELEKSI MANDIRI TAHUN 2017 TAHAP II COMPUTER BASED TEST (CBT)

Persyaratan Calon Mahasiswa

  • Lulus tahun 2013, 2014, 2015, 2016 dan 2017 dari Satuan Pendidikan MA / MAK / SMA / SMK / Pesantren Muadalah atau yang setara dan memiliki izin.
  • Memiliki ijazah (bagi lulusan tahun 2017 dapat menggunakan Surat Keterangan Lulus dari Kepala Sekolah).
  • Memiliki kesehatan yang memadai sehingga tidak mengganggu kelancaran proses pembelajaran di PTKIN.

Jadwal Pelaksanaan

Pendaftaran

17 Juli s.d. 27 Juli 2017

UjianComputer Based Testing (CBT)

Dilaksanakan langsung setelah pendaftaran

Tatacara Pendaftaran

  1. Calon mahasiswa datang sendiri ke Kampus 3 IAIN Salatiga, Jl. Lingkar Salatiga Km. 02, Kec. Sidorejo, Salatiga dengan membawa Fotokopi Ijazah/Surat Keterangan Lulus.
  2. Mengisi Formulir Pendaftaran dan membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 150.000,- ( Seratus Lima Puluh Ribu Rupiah )
  3. Mengikuti ujian masuk CBT dan menerima hasil ujian/kelulusan
  4. Bagi yang lolos ujian, dapat melakukan registrasi tanggal 26 s.d. 28 Juli 2017

Daftar Pilihan Jurusan

Fakultas Syari`ah

  • S1 – Hukum Tata Negara

Fakultas Dakwah

  • S1 – Manajemen Dakwah
  • S1 – Pengembangan Masyarakat Islam
  • S1 – Psikologi Islam

Fakultas Ushuludin, Adab Dan Humaniora

  • S1 – Ilmu Al Qur`an dan Tafsir
  • S1 – Sejarah Peradaban Islam
  • S1 – Bahasa Dan Sastra Arab
  • S1 – Ilmu Hadits
  • S1 – Aqidah dan Filsafat Islam

Download Lampiran Pengumuman

Ikutan Youtex Seoul Korea Selatan? Ini Hasil Kegagalan Kita

Kelompok belajar Talent Scouting IAIN Salatiga berisi mahasiswa yang memiliki keinginan untuk berkompetensi secara nasional dan internasional. Kita adalah orang-orang yang bersemangat untuk terus berkembang dari waktu ke waktu. Gagal? tidak ada di kamus kita. Yang kita tahu adalah berdoa, berusaha, dan berjuang karena itu adalah bagian dan kewajiban kita. Berkumpul secara reguler dan mengkaji tentang program pertukaran pelajar apapun yang memungkinkan untuk mendaftar sambil terus memperbaiki diri baik dari sisi TOEFL, pengalaman organisasi dan lain-lain. Banyak ternyata PRnya ya…jadi sekarang bukan saatnya santai!!!
 
Untuk sesi ini kebetulan pilihan kita mendaftar ke event www.youtex.org untuk belajar selama kurang lebih seminggu ke Seoul Korea Utara jika berhasil melewati 2 jenis tes yaitu General Aptitute Test dan General Knowledge Test. Tawaran yang sangat menarik menanti yaitu tiket pesawat dan belajar langsung dengan orang-orang terpilih selama 9-13 September 2017 akan menambah banyak pengalaman dan pengetahuan. Alkhamdulillah 3 orang yang mendaftar dari klub kita untuk tahun ini gagal, tapi yang terpenting adalah nilai apa yang bisa kita ambil dari kegagalan itu.
 
General Aptitute Test
Istilah Indonesianya adalah tes bakat dan minat. Tes ini berisi empat hal yaitu verbal, numeric, logical reasoning, dan spatial. Jumlah soalnya adalah 200 dan harus dikerjakan selama 30 menit. Kata pertama yang keluar dari mulut saya adalah ‘Does not make sense to finish the questions‘. Why? apa bisa mengerjakan setiap soal dengan waktu 9 detik?. Wew, soal TOEFL saja setiap soalnya kurang lebih antara 37-60 detik. Apa boleh buat, itu peraturan dari mereka ya. Kerjakan atau mati! 

Di awal meeting kita membuat catatan dan strategi sebagai berikut:

  1. Hari test 23 April 2017 jam 18.30-19.00
  2. Mulai belajar dari buku dan online tanggal 12-22 April 2017
  3. Jumlah soal 200 pertanyaan
  4. Waktu ujian 30 menit online
  5. Satu soal dikerjakan dalam waktu 9 detik
  6. Kerjakan soal yang paling mudah dulu.
  7. Jumlah peserta terpilih: 200 
  8. Topik tes: verbal, logical reasoning, numeric, spatial.
  9. 30 menit sebelum tes mempersiapkan laptop dan koneksi internet
  10. Bagi yang tidak memiliki komputer bisa menggunakan warnet
  11. HP digunakan sebagai backup
  12. Buka email dari youtex untuk mengakses link tes, username, dan password. 
  13. Jika kehilangan koneksi saat tes berlangsung, segera hubungi admin untuk mendapatkan waktu tambahan. Pilihan komunikasi bisa menggunakan Line, WA, atau telpon. Pilihlah yang paling responsif. 
  14. Setiap jawaban benar nilainya 3. Minus system tidak dipakai dalam tes ini. 
Di meeting kedua kita kemudian membuat detail mengenai apa saja yang perlu dipertimbangkan kembali dan akan dikerjakan saat tes. Karena sistem minus tidak berlaku, dan kita pikir tidak mungkin menyelesaikan soal dalam 200 soal dalam waktu 30 menit maka kita memutuskan untuk melakukan strategi dibawah ini:
    1. Gambling strategy yaitu menjawab 200 soal dengan jawaban A semua atau B semua atau pilihan yang lain sesuai keinginan hati atau pilihan orang tua. Asumsi waktu adalah 1 soal 1 detik dan sudah kita latih untuk itu. Jadi kita menghabiskan 200 detik atau sekitar 3 menit 60 detik untuk menyelesaikan tahap ini. Dari strategi ini, kita berharap mendapat nilai 15, 20, 25, bahkan 35% dari cara ini. 
    2. Sisa waktu 26 menit 20 detik dipakai untuk melakukan review jawaban untuk soal-soal yang dianggap gampang. Dalam kurun waktu tersebut, 1 pertanyaan harus diselesaikan dalam waktu 31.6 detik, dan kita hanya mentarget bisa menyelesaikan 50 soal yang mudah. Atau 1 pertanyaan harus diselesaikan dalam waktu 10 detik, dan kita mentarget menyelesaikan 150 soal.
    3. Catat nomor yang terlewat atau tidak dikerjakan jika di tampilan tidak tersedia daftar nomor soal.
    4. Jika soal disusun berkelompok Verbal, logical reasoning, numeric, spatial, maka kerjakan mulai dari bagian yang paling jago. Misal pertanyaan verbal 1-50, pertanyaan logical reasoning 51-100, pertanyaan numeric 101-150, pertanyaan spatial 151-200, maka mulai dari bagian yang kita merasa paling bisa.
    5. Buka link jam 18.15, refresh jam 18.25
    6. Buka Goggle Translate atau online dictionary untuk mengantisipasi pertanyaan verbal
    7. Buka kalkulator untuk mengantisipasi pertanyaan numeric
    8. Buka pikiran untuk mengantisipasi pertanyaan logical dan spatial
    9. Focus, focus, focus! Pray, Practice, and Test
    10. Dari strategi diatas diharapkan mampu mendongkrak nilai: 
    11. = (50+(25%*150))*3

    1. = (50+38)*3
  1.  
      = 264
    1. Skor maksimal yang diharapkan (1 pertanyaan/10 detik):
    1. = (150+(35%*50))*3
    1. = (150+17.5)*3
  1.  
      = 502 
Strategi di atas tidak berhasil dikarenakan kita sebagai peserta tes tidak mampu mengatur buffer antar soal. Saat kita sudah menjawab sebuah pertanyaan, kita harus menunggu soal berikutnya muncul. Ini adalah masalah besar karena strategi no 1 yaitu Gambling Strategi tidak bisa diterapkan sesuai target waktu 3 menit 20 detik. Pada kenyataannya strategi ini memakan waktu sekitar 20 menit sehingga sisa waktunya untuk menjalankan no 2 yaitu Review Soal Mudah tidak bisa dijalankan secara maksimal. 
 
Kita mengambil kesimpulan untuk kesempatan berikutnya adalah menggunakan Strategi no 2 yaitu mengerjakan soal yang mudah kemudian untuk soal yang sulit harus dikerjakan dengan Strategi no 1 yaitu Gambling dengan memberi jawaban A atau B semua sesuai pilihan hati. Tidak boleh skip jawaban karena waktunya yang tidak memungkinkan untuk balik, dan juga tidak ada sistem minus untuk jawaban yang salah.
 
Dalam laman tes ini juga tersedia pilihan untuk mengulang tes sebanyak 3 kali tapi ternyata yang berlaku hanya percobaan tes yang pertama. Jadi Get Serious! Jangan berharap mengulang untuk kedua dan ketiga kalinya.
 
General Knowledge Test
 
Tes ini bertujuan menguji kapasitas kemampuan kita tentang pengetahuan umum. Jika dilihat dari soal-soal latihan di youtex, topik tes ini seputar flora fauna, energi, dan tata surya. Artinya ada area khusus yang harus kita pelajari. Walaupun kita juga harus belajar topik yang lain karena dari youtex sendiri tidak memberi batasan mengenai topik apa yang akan diuji.

Dari tim kita sendiri memutuskan untuk belajar mengenai topik terkait even Seoul yaitu Innovation, Creative Industries, Sustainable Development, dan ditambah topik yang lain dengan banyak membaca.
 
Pada kenyataannya dari 100 soal yang harus dikerjakan dalam waktu 30 menit tersebut, topik yang diujikan adalah seputar the history of South Korea, Marketing, and Innovation. Yap, satu orang perwakilan kita hanya berhasil mengerjakan 25% soal karena mungkin sudah belajar maksimal di topik Innovation. Topik yang lain gimana? Mulai sekarang banyak-banyaklah membaca. Karena pengetahuan umum tidak bisa dihafal dalam waktu 3 hari menjelang ujian. 
Belajar dari General Aptitute Test, strategi yang kita pakai dalam menghadapi tes ini adalah menggunakan Strategi no 2 yaitu mengerjakan soal yang mudah kemudian untuk soal yang sulit harus dikerjakan dengan Strategi no 1 yaitu Gambling System dengan memberi jawaban A atau B semua sesuai pilihan hati. Kembali, kita tidak boleh melakukan skip jawaban, nothing to lose saja, karena tidak ada sistem minus untuk jawaban yang salah, lagipula tidak ada acara balik karena 1 soal harus selesai dalam 9 detik. So just move one>>>

Kedepan, kita akan mencoba lagi untuk mendaftar dan berjuang di tes berikutnya untuk even Kyoto, Beijing, dan Hongkong di tahun 2017. Dan tentunya masih banyak kesempatan lagi di event tahun 2018 dan tahun mendatang bagi kita semua dari berbagai macam sumber, keep dreaming, keep believing, dan USAHA!
 

Pengetahuan vs Pengetahuan Ilmiah

Tidak semua pengetahuan merupakan pengetahuan ilmiah. Orang awam sering memandang pengetahuan ilmiah sebagai pengetahuan semata, sebagai kata benda. Praktik pendidikan (di Indonesia) umumnya hanya mengutamakan unsur pertama, yakni pengetahuan atau kumpulan fakta, tetapi mengabaikan dua unsur lainnya, yakni keterampilan dan sikap.

Hal tersebut diungkapkan Prof. Iwan Pranoto, ketika kuliah tamu di Auditorium gedung K.H. Hasyim Asy’ari Kampus 3 IAIN Salatiga, Rabu (03/04). Kuliah tersebut diikuti tidak kurang 300 peserta mahasiswa dan dosen IAIN Salatiga dan dibuka oleh Rektor IAIN Salatiga Dr. Rahmat Haryadi.

Education dan Culture Attache KBRI New Delhi Prof. Iwan Pranoto mengatakan, di Indonesia, sains kerap diajarkan sebagai buku resep. Kebenaran tunggal Pengajaran dogmatis oleh Guru sebagai sumber kebenaran, menganggap tak ada kebenaran selain yang sudah diketahui.


“Kesalahan dalam penerapan metode pembelajaran dalam pendidikan utamanya bidang sains juga matematika, dapat menganggap diri selalu benar, orang lain selalu salah seperti yang dialami sekarang ini,” papar belaiu.

Prof. Iwan menambahkan, sekarang pemerintah kita terlalu intens dalam mengadakan pelatihan bagi guru ata tenaga pendidik di hotel berbintang dengan waktu cukup lama. Sebenarnya ini tidak salah, namun menyita waktu panjang dan tentunya berbiaya tidak sedikit. Belum lagi, kalau untuk wilayah pedalaman yang tentunya sulit terjangkau, lalu apakah pelatihan tersebut bisa diaplikasikan serta ditularkan kepada tenaga pendidikan yang lain.

“Di era teknologi pemerintah bisa saja memanfaatkan teknologi digital yang ada dan terjangkau, misal dengan mengvisualisasikan metode pengajaran dengan durasi singkat pada setiap sub bab sebagai tutorial. Hari ini misal di sebarkan, maka tidak butuh waktu lama medote pembelajaran guru sudah berubah,” tukasnya saat diwawancarai usai mengisi kuliah tamu.

#iainsalatigaAKSI

Model Kerukunan Antar Umat Beragama (Studi Kasus di Kota Salatiga, Kab. Magelang, dan Kab. Semarang)

A. Latar Belakang Masalah

Potret lokasi Salatiga, Magelang dan Semarang memperlihatkan eksistensi kampung-kampung muslim dan area-area non muslim. Sebut saja Kauman, adalah nama kampung-kampung dekat masjid tertentu di sebagian besar Jawa Tengah sebagai  tempat tinggal orang-orang Islam  yang  melaksanakan agama secara sungguh-sungguh (Hurgronje (1988: 24)   Adapun Pastoran adalah nama  tempat di Jawa Tengah sebagai pusat kedudukan  pastor sebagai pemimpin agama Kristen Katolik. Kauman dan Pastoran sebagai sebuah kampung mempunyai ciri khas  yang  membedakan dengan kampung-kampung lain.

Kedekatan lokasi kauman dan pastoran  di  Muntilan, misalnya yang tergolong unik secara morfologis, karena keduanya berdampingan langsung. Hal ini berbeda dengan kauman dan kampung “indo-Belanda” di Yogyakarta dan Surakarta yang sering menjadi rujukan kota di Jawa. Pasalnya, kampung  kauman di Yogyakarta berjauhan jarak dengan kampung “indo-Belanda”.  Kampung “indo-Belanda”  berada di  Loji Kecil dan Kota Baru. Begitu pula perkampungan “Indo-Belanda” di Surakarta berjauhan jarak  dengan kauman, sebab kampung ini berada di daerah Babarsari. Kauman dan Pastoran di  Muntilan juga berbeda secara morfologis dengan kota-kota pantai, seperti  Semarang, Kendal, Tegal, dan Jepara yang tidak memiliki kraton (Daldjoeni, 1998: 19-20).

Di wilayah Magelang, khususnya Muntilan merupakan tonggak  kekuatan historis bagi perkembangan Kristen-Katolik  pribumi. Vriens ( 1972: 207-209)  mencatat Muntilan sebagai tempat Kweeschool pertama di Indonesia (1904) untuk guru-guru asli Indonesia. F.v. Lith, S.J. (1863-1926)  sebagai misionaris paling terkenal di antara bangsa Jawa akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 memilih Muntilan sebagai tempat karya misinya. Bagi umat Islam, terutama kalangan tarekat, Muntilan juga mempunyai gaung spesifik, karena kedudukan para ulamanya.

Salatiga, sebagai sebuah kota kecil sarat dengan kaum pendatang yang kemudian membentuk kelompok, berkembang umat di Wilayah Salib Putih, sementara kaum Muslim berdiam di Kauman juga senada sebagaimana terjadi pada kasus daerah Muntilan sebagaimana tersebut di atas. Menyimak posisi Kauman dan  Pasturan secara morfologis tersebut, maka ada beberapa pertanyaan historis, antropologis,  sosiologis, dan politis  yang layak diteliti secara serius. Pertanyaan-pertanyaan yang terumuskan dalam pokok masalah proposal ini berkait kelindan dengan beberapa kondisi  aktual berikut ini. Pertama,  dialog antaragama sedang terus mencari bentuk yang tepat untuk kasus-kasus Indonesia. Adat masyarakat seperti Pela Gangong  di Ambon dan Maluku Tengah  ternyata telah mengalami degradasi fungsional (Sihbudi, et.al, 2001). Konflik antarkampung berdampingan yang berbeda agama  pun terjadi dan menorehkan sejarah pahit di Indonesia. (Triyono, 2001).  Negara tentu berkehendak agar terhindar dari konflik-konflik seperti itu, sehingga  memerlukan masukan dini secara akademis. Kedua, Sinyal Huntington tentang  the Clash of Civilization awal tahun 1990-an (Tamara dan Taher, 1995: 3-34) memang tidak benar  secara menyeluruh, tetapi Nurcholish Madjid  (1995: 42) berpendapat agar bangsa Indonesia tetap memperhatikannya secara serius. Hal ini didasarkan atas kondisi empirik Indoensia yang plural agama. Ketiga, Arus pluralisme di tengah umat manusia adalah tantangan serius bagi agama-agama dunia (Coward, 1994: 5). Agama-agama subyek pluralisme itu ada dan berkembang di Indonesia. Di antaranya disebut Komarudin Hidayat (1995: 125) adalah Yahudi, Nasrani, Islam, dan Hindu-Budha.

Atas dasar pertimbangan teoretik dan empirik tersebut di atas, maka penelitiAN model kerukunan antar umat beragama di wilayah Salatiga, Magelang dan Semarang perlu dilakukan. Hal ini dimaksudkan agar diharapkan temuan penelitian dapat sebagai “sample” yang layak diteliti sebagai pijakan untuk  mengembangkan model yang lebih tepat di Indonesia.

B. Rumusan  Masalah

Berkaitan dengan fokus penelitian di komunitas nelayan, industri, dan petani, maka ada beberapa  pertanyaan mendasar  yang akan dicari jawabnya.

  1. Seperti apakah kultur dominan kelompok-kelompok agama di Salatiga, Magelang dan Semarang?
  2. Kontak sosial apasajakah yang dikembangkan dalam menjalin kerukunan antaragama di Salatiga, Magelang dan Semarang?
  3. Problem sosial apakah yang sering muncul dalam kontak sosial antarpemeluk agama di Salatiga, Magelang dan Semarang?
  4. Model dialog  keagamaan bagaimanakah yang relevan dikembangkan  oleh pemeluk agama di Salatiga, Magelang dan Semarang?

C.  Tujuan Penelitian

  1. Menemukan model kultur dominan kelompok-kelompok agama di Salatiga, Magelang dan Semarang.
  2. Menemukan model kontak sosial yang dikembangkan dalam mejalin kerukunan antaragama di Salatiga, Magelang dan Semarang.
  3. Menemukan jenis problem sosial yang sering muncul dalam kontak sosial antarpemeluk agama di Salatiga, Magelang dan Semarang.
  4. Menemukan model dialog  keagamaan yang relevan dikembangkan  oleh pemeluk agama di Salatiga, Magelang dan Semarang.

D.  Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi teoretik dalam wacana tentang relasi sosial keagamaan. Adapun secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi kepada  pemerintah dalam mengelola iklim pluralitas secara tepat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi pula kepada masyarakat dalam melakukan dialog  keagamaan antarmereka.

E.  Metodologi

1. Penentuan Subyek Penelitian

Penelitian ini adalah mengkaji dialog agama antara  antara  warga kampung Kauman dan Pastoran. Oleh karena itu, data dan informasi akan digali dari para warga kampung Kauman dan Pastoran. Penentuan subyek penelitian ini dilakukan secara purpossive dan dikembangkan melalui teknik snow ball. Penentuan subyek dilakukan secara purpossive kepada para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga masyarakat yang dipandang mampu menjawab berbagai pertanyaan. Personal-personal tersebut yang selanjutnya ditetapkan sebagai informan kunci. Teknik snow ball diterapkan untuk mencari informan lain yang dirujuk dari para key informan. Teknik ini dipakai dengan maksud agar data dan informasi penelitian dikumpulkan dapat mendalam dan komphrehensif.

2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di Salatiga, Magelang dan Semarang Jawaq Tengah. Waktu Penlitian sampai dengan akhir Desember 2011.

 3. Teknik  Pengumpulan Data

Peneliti akan menggunakan 3 (tiga) teknik pengumpulan data sebagaimana lazim digunakan dalam penelitian kualitiatif, yakni:

1. Wawancara mendalam (in-depth interview).

Wawancara ini dilakukan dalam bentuk unstructured dan terbuka tetapi tetap terfokus pada masalah yang menjadi topik pembicaraan. Oleh karena itu, teknik pengumpulan data ini tidak membutuhkan instrumen yang berupa sekumpulan pertanyaan yang lengkap dengan redaksi kalimatnya. Hasil dari in-depth interview ini akan berupa interview transcript yang merupakan data mentah yang akan dianalisis.

2. Observasi partisipasi (Participant Observation).

Teknik obeservasi ini mengharuskan peneliti terlibat langsung dengan subjek/objek yang diamati. Dalam hal ini, peneliti akan mengamati berbagai aktifitas keagamaan dan sosial dari masjid dan gereja yang berdekatan lokasi. Hasil dari kegiatan observasi ini akan dituliskan dalam bentuk field notes, yangselanjutnya akan dianalisis.

3. Studi dokumentasi.

Teknik ini digunakan untuk melengkapi data yang diperoleh melalui wawancara dan observasi. Adapun dokumen-dokumen yang akan dipelajari adalah segala sumber tertulis yang memuat informasi tentang objek penelitian Dilihat dari tahapan-tahapan yang akan dilalui dalam pengumpulan data dapat diuraikan dalam 4 (empat) tahapan, yakni:

1) Tahap Orientasi.

Dalam tahap ini peneliti melakukan survey awal dan studi pendahuluan guna menyusun rancangan penelitian, memilih lapangan, mengurus perizinan, membangun kerjasasama dan saling percaya dengan semua sumber data (subjek penelitian) dan lain-lain.

2) Tahap Eksplorasi.

Setelah terbina hubungan yang baik antara peneliti dengan subjek penelitian, maka tahap selanjutnya adalah tahap eksplorasi data. Dalam tahap ini peneliti akan menentukan sumber data yang bisa dipercaya; menggalai data dan informasi yang diperlukan; dan mendokumentasikan data dan informasi ke dalam bentuk field notes, maupun interview transcript.

3) Tahap Member Check.

Tahap ini sebenarnya merupakan tahap pengujian atas kebenaran data yang telah diperoleh pada tahap eksplorasi. Caranya dengan meminta tanggapan subjek penelitian untuk mengecek kebenaran data yang telah diperoleh serta dengan cara mengkoreksi atau melengkapi data yang belum sesuai tau kurang lengkap.

4) Tahap Trianggulasi.

Yakni kegiatan pengecekan terhadap kebenaran data yang telah diperoleh melalui cara atau instrumen yang  berbeda. Langkah ini digunakan sebagai pengujian atas kebenaran data atau sebagai pembanding atas data yang telah diperoleh. Misalnya,  membandingkan hasil wawancara mengenai beberapa hal yang sama terhadap dua orang subjek atau lebih; membandingkan data yang sama yang diperoleh melalui wawancara dengan yang diperoleh melalui observasi maupun studi dokumentasi.

4. Analisis Data

Analisis data merupakan kegiatan yang berkaitan dengan data yang meliputi pengorganisasian data, pengklasifikasian data, mensintesakannya, mencari pola-pola hubungan, menemukan apa yang dianggap penting dan apa yang telah dipelajari serta pengambilan keputusan yang akan disampaikan kepada orang lain. Analisis data dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data maupun sesudahnya.

Sesuai dengan obyek studi yang sarat dengan fenomena keagamaan, maka penelitian ini menerapkan sistesis pendekatan sejarah, antopologi, dan sosiologi. Pendekatan sejarah digunakan sebagai sarana untuk menemukan proses terjadinya perkembangan kelompok agamawan. Hal yang  akan dijelaskan dalam proses itu adalah awal kejadian dan faktor-faktor yang ikut berperan di dalamnya. Pendekatan antropologi digunakan untuk menjelaskan pola  interaksi  antarumat beragama dalam kegiatan sosial keagamaan sesuai tatanan nilai yang dianut masing-masing. Adapun Pendekatan sosiologi digunakan untuk menjelaskan posisi dan peranan  subyek-subyek  yang terlibat dalam proses terbentuknya  kelompok umat beragama yang berdekatan lokasi dan pola dialog agama yang terbentuk antara mereka. Misalnya, peran tokoh-tokoh agama, tokoh politik, penyandang dana, dan pemerintah.