Tag Archives: kuliah umum

Siapkan Lulusan Unggul, IAIN Salatiga Beri Pembekalan Calon Alumni

SALATIGA – Menjelang wisuda ke-10, IAIN Salatiga mengadakan pembekalan calon alumni dengan menggelar Bussiness and Personal Growth Seminar. Kegiatan tersebut diadakan di halaman Kampus III IAIN Salatiga pada Jumat (18/9) dan diikuti oleh ratusan calon wisudawan/wisudawati.

Dalam sambutan pembukaan, Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Dr. Sidqon Maesur, Lc., MA menjelaskan bahwa acara yang sudah menjadi tradisi tersebut diadakan untuk memberi bekal para calon alumni agar bisa menjalani dunia usaha.

“Di IAIN Salatiga, kami berusaha memupuk jiwa kewirausahaan mahasiswa. Selain pembekalan seperti ini, IAIN juga menyediakan mata kuliah kewirausahaan. Mata kuliah ini wajib dan ada di semua prodi,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, IAIN mengundang Chef Purnomo Sidhi, pengusaha sukses asal Salatiga yang mengembangkan industri snack kacang mede, kacang tanah, kacang almond, dan coklat untuk memberi tips dan berbagi pengalaman. Selain itu, hadir pula Lia Kamelia, seorang wirausahawan muda di bidang chocolatier dan Tanti, seorang chocolate deco artist.

Purnomo mengajak para calon alumni yang hadir untuk tidak takut memulai dan terus mengasah mental pengusaha. “Seorang pengusaha sejati akan lebih memilih kertas kosong dari pada uang 100 ribu. Karena apa? Karena dengan kertas kosong itu, orang yang memiliki mental usaha akan terus berusaha menghasilkan lebih banyak uang. Lebih banyak dari 100 ribu,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia juga mengingatkan para peserta untuk terus mencoba, “Coba terus. Konsisten kejar mimpi. Cari peluang terbesar dan terus berinovasi. Kesalahan banyak pengusaha adalah mengikuti tren pasar. Padahal pengusaha yang pintar adalah mereka yang membuat tren, bukan mengikuti. Artinya, harus terus berinovasi,” pungkasnya.

Seminar pembekalan itu adalah pra-acara wisuda ke-10 IAIN Salatiga yang diadakan pada Sabtu (19/10/2019). Sebanyak 931 wisudawan/wisudawati dari lima fakultas akan mengikuti prosesi kelulusan tersebut.

 

 

Penulis : Lala
Editor : Ilman
Sumber : Bidang Kemahasiswaan dan Alumni

Wagub Jateng: Himbau Mahasiswa Baru IAIN Salatiga Memahami Moderasi Islam

SALATIGA-Wakil Gubernur Jawa Tengah, H. Taj Yasin Maimoen mengatakan melihat IAIN Salatiga memiliki potensi bisa di tingkatkan menjadi universitas bahkan bisa menjadi percontohan. Untuk dapat mewujudkan hal itu, maka mahasiswanya harus cerdas dalam bermasyarak dan bertoleransi.

“Mahasiswa supaya bisa memahami moderasi Islam di Indonesia, agar tidak menganggap dirinya paling benar, tidak mudah menyalahkan orang, tidak mudah mengebiri masyarakat yang tidak seide, paham toleran, dan menghormati pendapat orang akan muncul kalau sudah mau memahami moderasi akan Islam. Nantinya ketika ada permasalahan, akan menerapkan ajaran Islam seperti bermusyawarah,” ujarnya.Taj Yasin juga menyampaikan misi Islam bukan menegasikan atau menghapus budaya masyarakat. Islam justru sangat mengakomodir budaya yang dimiliki oleh masyarakat di mana berada dan menuansainya dengan nilai – nilai spiritual Ilahiyah.

“Moderasi Islam dalam kehidupan masyarakat muslim Indonesia, memunculkan pertemuan nilai ajaran Islam dan nilai luhur budaya nasional,” kata Taj Yasin saat mengisi kuliah umum yang digelar Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga di Halaman Gedung K. H. Hasyim Asy’ari Kampus III, Kamis (22/8/2019).

Wakil Gubernur Jawa Tengah, H. Taj Yasin Maimoen saat mengisi kuliah dengan tema Meneguhkan Moderasi Islam di Indonesia. “Moderasi adalah istilah yang disinonimkan dengan wasathiyah, maknanya sikap dan perilaku pertengahan diantara dua sikap. Ini muncul setelah ada fenomena tasyaddud dalam menjalankan agama di masyarakat, yang cenderung intoleran terhadap perbedaan,” ujarnya.

Ia berpesan, kepada mahasiswa harus belajar Islam secara khafah, bangun sinergi antarfakultas, bisa menjadi para penyebar Islam hingga pelosok negara ini. “Sekali lagi jangan lupakan mode zaman sekarang, pakai digitalisasi dakwah, manfaatkan IT sehingga orang bisa mengakses lebih cepat,” tandas Yasin.

Menjawab isu negara khilafah, Taj Yasin mengatakan karena tuntutan, Islam adalah agama yang satu, ajarannya satu tapi memiliki mahzab 4, maka tidak boleh fanatik. “Sudah saatnya kita paham dengan para kyai, para ulama yang mengajarkan ajaran mahzab satu dengan yang lain. Seperti halnya masalah qunut. Kalau mau qunut gapapa, ga qunut gapapa,katanya.

Tak hanya itu, Taj Yasin ingin keilmuan di Indonesia yang saat ini sudah di lirik dunia itu dikembangkan dan dikenalkan kepada masyarakat tentang ilmu jarah rokhatil dalam ilmu hadis, ilmu ushul fiqh sehingga mereka paham bagiamana mengkritik seorang ulama itu ada tahapannya.

“Bangun budaya kerja sama dengan lembaga sekitar utamanya dengan Kyai, Ulama, para pemangku masyarakat mahasiswanya diarahkan ke pondok pesantren sehingga mahasiswa bukan hanya apaham islam dengan khafah tapi dengan akhlaknya yang memotret sosok kyai di sekitar. Sehingga islamnya menjadi rahmatan lil alamin karena menjadi contoh,” ungkapnya.

Sementara itu, rektor IAIN Prof. Dr. Zakkiyudin Baidhawy, M.Ag. mengatakan, keberadaan IAIN pada 2030 mendatang sebagai menjadi rujukan studi Islam Indonesia sehingga terwujud masyarakat damai bermartabat. Semua itu dicapai dengan misi yang ada mulai dari menyelenggarakan pendidikan dalam berbagai disiplin ilmu keislaman berbasis pada nilai – nilai Indonesia.

“Kami akan menyelenggarakan penelitian dalam berbagai disiplin ilmu keislaman bagi penguatan nilai-nilai ke-Indonesiaan. Selain itu, juga menyelenggarakan pengabdian masyarakat berbasis riset bagi penguatan nilai-nilai Islam di Indonesia,” ucapnya.

Kuliah umum ini juga menjadi kuliah pertama bagi mahsiswa baru. Untuk itu, sangat berkesan karena yang mengisi adalah tokoh besar.

“Saya sangat senang ada wakil gubernur Jawa Tengah bisa hadir ke kampus ini. Memberikan ilmu dan pemahaman tentang Islam, saya jadi lebih tertarik untuk belajar lebih lanjut,” ujar mahasiswa baru, Wahyu Tri Nugroho. IAINSalatiga-#AKSI (hms/zi)

Perguruan Tinggi Sarana Menciptakan Roh Agama dan Kebangsaan

SALATIGA-Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M. A hadir dalam Interdisiplinary Colloquium yang diadakan oleh Program Pascasarjana IAIN Salatiga pada Sabtu (3/08/2019) siang. Dengan mengangkat tema “Agama dan Kebangsaan”, Prof Nasaruddin menjelaskan pentingnya agama adalah untuk memberikan roh kebangsaan kita, dan kebangsaan untuk mewadahi perkembangan agama.

“Perguruan tinggi Islam menjadi sarana untuk menciptakan roh Agama dan kebangsaan. Serta mendukung terwujudnya muslim moderat, terutama Perguruan tinggi Islam di bawah Kementerian Agama seperti STAIN, IAIN, maupun UIN. Karena disini memberikan pengajaran secara komprehensif antar mahzab antar aliran, tidak menjelekkan yang satu kemudian mengistimewakan yang lain,” katanya.

Agama dan kebangsaan menjadi dua substansi yang menyatu di dalam bumi Indonesia. Menurutnya, negara Indonesia tanpa agama bukan Indonesia dan sebaliknya, agama tanpa diwadahi bangsa juga tidak bisa menjadi negara. Jadi negara dan bangsa saling membutuhkan satu sama lain, yang menjadikan komponen ini menyatu adalah rakyat.

“Jadi, tidak boleh berat sebelah mengedepankan agama atau mengedepankan bangsa harus seimbang. Agama dan bangsa di paralel akan ada keuntungan bagi Indonesia,” ungkap Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran Jakarta ini.

Berseminya hubungan agama dan negara di Indonesia menjadi contoh bagi negara-negara lain, lanjutnya. Indonesia bisa menjadi bangsa 100% dan juga menjadi umat Islam 100 %. Melihat di negara lain ada yang masih mempersoalkan agama dan bangsa tapi di Indonesia sudah selesai, sudah melewati itu semua.

Hidup berdampingan dengan keadilan sosial yang majemuk seperti di Kota Salatiga harus menunjukkan rasa saling pengertian satu sama lain. Menciptakan kesadaran sosial bahwa bangsa ini berasal dari satu latar belakang yang sama, pernah sama-sama di jajah bangsa asing, se-penderitaan. Mengingat sejarah menjadi faktor pengokoh keutuhan bangsa Indonesia.

“Saya tertarik di Salatiga ini, pertama alamnya sangat kondusif, kampus ini (IAIN Salatiga) berpotensi untuk melahirkan generasi muslim cerdas masa depan. Karena homogen tidak heterogen, bisa membangun kebersamaan. Populasi penduduk tidak terlalu krowded seperti di Jakarta. Saya menikmati sekali sepi tidak ada macet, dingin lagi. Kemudian datang ke kampus yang cantik, saya minta ini di rawat kampusnya. Banyak sekali yang pintar membangun tidak pintar merawat, harus ada kesadaran untuk membersihkan kampus. Bukan hanya tugas pimpinan, namun mahasiswa juga harus bisa mengantongi sampah,” tandasnya.

Direktur pascasarjana, Prof. Dr. Phil. Asfa Widiyanto, M.A. mengatakan senang bisa kehadiran tokoh besar untuk memberikan ilmu, khususnya hubungan dengan Agama dan kebangsaan. Mahasiswa perlu belajar banyak agar dapat menciptakan bangsa yang apik.

“Saya ucapkan terimakasih kepada Prof Nasaruddin sudah berkenan hadir di IAIN Salatiga, saya sangat bersyukur. Dari 200an mahasiswa yang hadir disini, baik pascasarjana maupun S1, saya harapkan dapat mengambil pembelajaran yang disampaikan oleh Prof Nasaruddin,” katanya. IAINSalatiga-#kerenbro_ajib

Tiga Mahasiswa Jadi Pemakalah di The 2nd Borneo Undergraduate Academic Forum

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga mengirimkan tiga delegasi terbaiknya untuk mempresentasikan hasil riset mereka pada kegiatan “The 2nd Borneo Undergraduate Academic Forum (BUAF)” 17-20 Juli 2017, di Banjarmasin.

Kegiatan BUAF sangat positif untuk mengembangkan semangat dan skill penelitian mahasiswa sekaligus sebagai ajang silaturrahim antar peneliti. Keterlibatan mahasiswa dari beberapa PTKIN juga dapat digunakan sebagai tolak ukur seberapa besar iklim penelitian mahasiswa dikembangkan di kampus tersebut. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaa dan Kerjasama menyarankan agar para dosen dan unit kelembagaan di kampus IAIN Salatiga lebih meningkatkan pendampingan mahasiswa dalam melakukan penelitian dan penulisan ilmiah.

“Saya sendiri sebagai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaa dan Kerjasama sudah bertekad untuk mendukung penuh para peneliti mahasiswa yang papernya lolos untuk dipresentasikan di forum-forum internasional dalam bentuk menanggung biaya delegasi mereka seperti tiga mahasiswa yang kita kirim tahun ini ke Banjarmasin,” ujar Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, IAIN Salatiga Moh. Khusen, Senin (17/07).

Ia menerangkan, “The 2nd BUAF diikuti oleh 60 mahasiswa strata satu dari beberapa kampus yang ada di tiga Negara. Tiga  Negara tersebut yakni Indonesia, Malaysia dan Thailand, dan menghadirkan empat pembicara tamu dari tiga negara juga, yakni dari Indonesia, Malaysia, dan Mesir.

Pada tahun ini forum akademik yang berlangsung di UIN Antasari Banjarmasin mengusung tema, “Contemporary Islam in The Eyes of Young Researches”. BUAF adalah forum akademik Borneo yang diperuntukkan bagi mahasiswa strata satu untuk mempresentasikan hasil riset yang telah mereka teliti.

“BUAF pertama kali digagas di IAIN Pontianak tahun 2016, IAIN Salatiga mengirimkan delegasi dan kedua di UIN Antasari Banjarmasin tahun ini kembali mengirimkan delegasi sebanyak tiga mahasiswa, di tahun 2018 mendakan akan dilaksanakan di IAIN Palangka Raya dengan harapan akan lebih banyak lagi delegasi dari IAIN Salatiga,” ungkapnya.

Tiga delegasi mahasiswa tersebut yaitu Sifa Arif Setiawan Jurusan Tadris Bahasa Inggris Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dengan judul makalah Relevansi Pancasila dalam Islam Nusantara, Tio Famor Gunawan Jurusan Perbankkan Syariah Fakultas Ekonomi & Bisnis Islam dengan judul makalah Lingkar Setan Media Elektronik; Pembatal Pahala Puasa di Era Digital,dan Siti Robikah Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuludin dan Adab Humaniora dengan judul makalah Contextual Interpetations Of The Qur’an; Telaah Hermenutika Inklusif Nur Hamid Abu Zayd.

Salah satu pemakalah Tio Famor Gunawan dalam makalahnya menyampaikan bahwa pembatalan pahala puasa di era digital (komtemporer) dapat dapat dilakukan oleh berbagai kalangan dewasa atau anak-anak sekalipun. Adapun tindakan yang dapat membatalkan pahala puasa di era digital tersebut antara lain menyebarkan informasi diberbagai media social yang bersifat bohong (hoak).

“Alangkah baiknya seorang mukmin yang berpuasa hendaknya selain melakukan ibadah wajib juga melakukan ibadah-ibadah sunah maupun membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an secara maksimal, bukan menyebarkan informasi hoak, menonton televise, bermain game online, atau bermain social media secara berlarut-larut,” ujarnya dalam memaparkan riset makalahnya.  

Kegiatan “The 2nd BUAF” tersebut dibarengi dengan penandatanganan nota kesepahaman sebagai Konsorsium Penyelenggara BUAF antara empat PTKIN Wilayah Kalimantan, yaitu IAIN Pontianak, UIN Antasari Banjarmasin, IAIN Palangka Raya, dan IAIN Samarinda.

Kuliah Umum Tentang Moral Education Program KKI STAIN Salatiga

KULIAH UMUM KKI STAIN SALATIGA

Sebanyak 19 mahasiswa mengikuti kuliah umum Program Khusus Kelas Internasional (Prog. KKI) STAIN Salatiga pada hari Rabu 11 september 2013 Setelah melakukan tes seleksi dan menerima hasil rapat yudisium. Acara ini di selenggarakan di gedung Aula lantai 3 kampus 2 STAIN Salatiga yang dimulai jam 13.00-15.00 WIB. Acara ini di hadiri oleh ketua program  KKI STAIN Salatiga Ibu Setia Rini M.Pd, wakil ketua satu STAIN Salatiga Dr. Rahmat Haryadi M.Pd dan juga salah satu dosen senior bahasa inggris Bapak Ruwandi M.Pd.

Bapak Dr. Rahmat Haryadi mewakili ketua STAIN Salatiga memberikan sambutan sekaligus membuka acara tersebut. Beliau mengucapkan selamat kepada mahasiswa baru program KKI STAIN Salatiga atas terpilihnya mereka di program KKI STAIN Salatiga. Selain itu juga menyampaikan keunggulan dari program KKI STAIN Salatiga beserta visi misinya.

Kuliah umum mahsiswa program KKI STAIN Salatiga ini diisi oleh Bapak Ruwandi M.Pd. Beliau menyampaikan tentang moral education atau moral pendidikan. Selain itu beliau juga berpesan kepada mahasiswa program KKI STAIN Salatiga ini agar menjagi baik dan cerdas to be good and smart. Acara kuliah umum ini di akhiri dengan pengumuman-pengumuman tentang perkuliahan untuk mahasiswa program KKI oleh Ibu Setia Rini M.Pd ketua program KKI STAIN Salatiga.