Tag Archives: salatiga

Prof Yudian: Mahasantri Harus Mampu Mengambil di Masyarakat

SALATIGA-Prof. Drs. Yudian Wahyudi, M.A., Ph. D. menegaskan bahwa seorang santri atau mahasantri harus mampu mengambil peran dalam masyarakat serta terus berinovasi, berkreasi, mengembangkan potensi yang ada untuk menghadapi perubahan dan perkembangan zaman secara bijak.

“Apalagi di era reformasi industri 4.0 yang sangat kompleks ini. Perubahan informasi sekecil apapun akan cepat sampai pada masyarakat,” lugas Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta saat menyampaikan dalam Seminar Nasional dengan tema “Eskalasi Mental Spiritual Aktivis Santri Nusantara dalam Mengimplentasikan Nilai-Nilai Kebangsaan di Era Making Indonesia 4.0” yang UKM Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Fathir Ar Rasyid di Auditorium Kampus 1, Sabtu (26/10/2019) .

Sebelumnya, Rektor IAIN Salatiga, Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag. dalam sambutan pembukaan seminar nasional tersebut mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan oleh UKM LDK IAIN Salatiga. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menjadikan hubungan baik antar sesama UKM khususnya UKM Dakwah dalam menjalin relasi.

“Tentunya kegiatan ini diharapkan dapat mendukung moderasi di kampus yang sudah dicanangkan pada seluruh PTKIN khususnya IAIN Salatiga,” kata Rektor IAIN Salatiga.

Sementara itu, Walik Gubernur Jawa Tengah, di wakili  Kepala Biro Kesra Jawa Tengah Drs. Imam Masykur, M. Si. mengatakan, peran santri baik pondok pesantren maupun mahasantri di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) sangatlah diharapkan untuk menjaga keutuhan NKRI dan stabilitas keamanan dan keberagaman.

“Karena itu seorang santri dan mahasantri harus menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, moderat, pluralisme dan humanisme. Melalui nilai tersebut para santri dan mahasantri dapat berperan aktif di masyarakat dalam menjaga keutuhan NKRI,” ujarnya.

Rangkaian memperingati hari Santri Tahun 2019 tersebut diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Fathir Ar Rasyid IAIN Salatiga dengan menghadirkan Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, M.A., Ph. D. (Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Kepala Biro Kesra Pemprov Jateng Drs. Imam Masykur, M. Si. Kegiatan tersebut juga dihadiri perwakilan  UKM Dakwah Perguruan Tinggi di Jawa Tengah dan DIY seperti Unnes, Undip, IAIN Kudus, IIQ Yogyakarta, STAISPA Kaliurang, UIN Walisongo, UIN Sunan Kalijaga dan sebagainya dengan total mencapai 400 peserta.

Selain itu, LDK Fathir Ar Rasyid juga menyelenggarakan Workshop Nasional yang diselenggarakan di Hotel Le Beringin Salatiga tanggal 26-27 Oktober 2019. Pada kegiatan tersebut panitia mengundang tiga pemateri yakni Prof. Dr. Syamsul Maarif, M. Ag. Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Kesehatan UIN Walisongo, Yassir Alimi, Ph. D. Dosen UNNES-UNDIP, dan Dr. Ilya Muhsin, M. Si. Dosen IAIN Salatiga sekaligus pembina LDK IAIN Salatiga. Kegiatan Workshop diikuti oleh 120 orang perwakilan lembaga dan pengurus LDK IAIN Salatiga.

 

 

Penulis : Ilman
Editor : Lala
Sumber : LDK Fathir Ar Rasyid

Rayakan Hari Santri, IAIN Salatiga Gelar Upacara Bersama

SALATIGA – Dosen serta karyawan dan santriwan/santriwati Ma’had Aljami’ah IAIN Salatiga mengadakan upacara bendera untuk memperingati Hari Santri Nasional di lapangan Kampus II pada Selasa (22/10/2019). Dalam kesempatan tersebut para peserta putra mengenakan sarung dan peci khas santri sedangkan peserta putri mengenakan baju muslim putih.

“Sejatinya, pesantren adalah laboratorium perdamaian. Sebagai laboratorium perdamaian, pesantren merupakan tempat menyemai ajaran Islam rahmatanlilalamin, Islam
ramah dan moderat dalam beragama,” kata Drs. Khaeroni,gama M.Si saat menyampaikan sambutan atas nama Menteri Agama Republik Indonesia untuk Peringatan Hari Santri Tahun 2019.

Selanjutnya, Kepala Biro Administrasi Umum, Akademik, dan Kemahasiswaan menyampaikan harapan Menteri Agama agar para santri turut berperan aktif dalam mengemban misi dan menyampaikan pesan-pesan perdamaian di dunia internasional. Terakhir, disampaikan pula bahwa bertepatan dengan peringatan Hari Santri tahun ini, hadir pula Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.

“Dengan Undang-Undang tentang Pesantren ini memastikan
bahwa pesantren tidak hanya mengembangkan fungsi
pendidikan, tetapi juga mengembangkan fungsi dakwah dan fungsi pengabdian masyarakat,” katanya mengakhiri sambutan.

 

 

 

Penulis : Nahla
Editor : Ilman
Sumber : Kementerian Agama RI

IAIN Salatiga Wisuda 933 Mahasiswa

SALATIGA – IAIN Salatiga kembali menggelar Sidang Senat Terbuka dalam rangka wisuda ke-X pada Sabtu (19/10). Prof. Dr. H. Muh. Zuhri, M.A. selaku Ketua Senat membuka acara wisuda yang dilaksanakan di halaman kampus III IAIN Salatiga tersebut. Pada kesempatan itu IAIN meluluskan sebanyak 933 wisudawan/wisudawati dari program magister (pascasarjana), sarjana, dan diploma.

“Pada wisuda kali ini ada 50 orang wisudawan dari program pascasarjana, 60 orang dari program diploma, dan 823 orang dari 17 program studi di jenjang sarjana,” kata ketua panitia kegiatan, Prof. Muh Saerozi dalam sambutannya.

Rektor IAIN Salatiga, Prof. Dr. Zakiyuddin, M. Ag mengimbau para wisudawan untuk terus belajar, “Kuliah dan sekolah boleh berhenti, tapi belajar harus tetap berlanjut. Hal ini sesuai dengan ajakan Nabi Muhammad SAW untuk terus menimba ilmu dari buaian sampai liang lahat,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Rektor IAIN juga mengucapkan selamat kepada para wisudawan. Lebih lanjut, Prof. Zaki meminta para alumni untuk terus menjalin tali silaturahim dengan almamater.

IAIN memberikan penghargaan dan beasiswa untuk melanjutkan studi bagi 22 mahasiswa terbaik masing-masing jurusan dan jenjang. Mahasiswa jenjang sarjana yang mendapat IPK tertinggi adalah Wildan Nur Hidayah dari prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dengan IPK 3,95. Sedangkan dari jenjang diploma, Ristian Maria Safitri berhasil mendapat gelar wisudawan terbaik dengnan IPK 3,92.

Selanjutnya dari program S2/Pascasarjana, wisudawan terbaik diraih oleh Suharno dari prodi Ekonomi Syariah dengan IPK 3,89. Selain itu, dari kelompok mahasiswa internasional, mahasiswa terbaik diraih oleh Abdulhakim Arwae dari Fakultas Dakwah prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam.

 

 

Penulis : Lala
Editor : Ilman
Sumber : Bidang Akademik

Mahasiswa Peraih IPK Tertinggi: Berprestasi Melejit dan Berjiwa Sosial Tinggi

SALATIGA – Mahasiswa berprestasi banyak dan sangat mudah ditemukan, tetapi hanya sedikit dari mahasiswa-mahasiswa berprestasi tersebut yang juga memiliki jiwa sosial. Salah satu dari sedikit mahasiswa berprestasi yang memiliki jiwa sosial tersebut adalah Wildan Nur Hidayat, wisudawan peraih IPK tertinggi (3,95) pada wisuda ke-10 IAIN Salatiga.

Kegiatan sosial yang dikerjakan oleh putra pasangan (Alm) Abdul Majid, S.Pd dan Iyas Karmayas tersebut sama banyaknya dengan prestasi yang ia raih. “Saya biasa mengajar ibu-ibu di sekitar rumah mengaji. Terkadang juga mengajar anak-anak. Sesekali berbagi ilmu dan pengalaman bersama teman-teman mahasiswa,” jawabnya ketika ditanya soal kegiatan yang dilakukan selain kuliah. Wildan adalah founder Al-Birr, sebuah wadah pelatihan bahasa Inggris dan hafalan Al-quran untuk anak-anak sekolah.

Pemilik skor TOEFL (Test Of English as Foreign Languange) 520 itu senang membantu teman-teman mahasiswa belajar bahasa Inggris, terutama pada aspek berbicara (speaking) dan mendengar (listening).

Selain itu ia juga membuka kelas penulisan untuk teman-temannya. Ketika ditanya apa alasannya membuka kelas penulisan, Wildan menceritakan pengalamannya saat menjadi juri sebuah perlombaan menulis, “Pesertanya sedikit, saya jadi miris,” kata anak keempat dari lima bersaudara tersebut.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa tingkat baca masyarakat Indonesia, khususnya para mahasiswa sebenarnya tidak rendah. Hanya saja kualitas bacaannya perlu ditingkatkan, karena sejatinya kualitas bacaan akan memengaruhi kualitas tulisan yang dihasilkan.

Mahasiswa yang menjadi liaison officer program Talent Scouting tersebut juga aktif berbagi info tentang pelatihan, beasiswa, serta pertukaran pelajar bagi mahasiswa S1 sampai S2 lewat program Go Change dan Master Club. Semua kegiatan berbagi ilmu dan pengalaman tersebut Wildan jalankan dengan cuma-cuma.

Tidak hanya fokus di bidang pendidikan, Wildan juga mengikuti Dewan Masjid Indonesia (DMI) Tim Masjid Bersih dan Sehat Kota Salatiga. “Memastikan tempat ibadah umat Islam adalah hal yang penting. Setiap Sabtu saya dan tim dari DMI berkeliling Salatiga untuk menggerakkan masyarakat menjaga kebersihan dan kesucian masjid di sekitarnya,” jelasnya.

Selain memupuk jiwa sosial, pemuda yang ingin menjadi profesor di bidang Islamic Studies tersebut mengembangkan diri dengan mengikuti berbagai kegiatan. Wildan aktif mengikuti berbagai perlombaan menulis dan berbagai program pengembangan diri. Tulisannya yang berjudul “Generasi Milenial Islam Wasathiyah” berhasil masuk jurnal Nasional At-Tahdzib IAIN Purwokerto Vol. 7 No. 1. Tulisan lainnya yang berjudul “Generasi Pancasila dan Islam Rahmatan lil Alamin” masuk dalam Antologi Essai LYC 2018.

Selain menulis di berbagai jurnal, mahasiswa yang menulis skripsi berjudul “Eksistensi Masjid di Kompleks Hiburan Malam” tersebut juga menulis artikel di surat kabar. Tulisannya yang berjudul “Generasi Pemuda Milenial Pancasila” dimuat di harian nasional Republika sedangkan tulisan berjudul “Generasi Pancasila dan Rahmatan lil’alamin” dimuat di harian Tribun Jateng.

Sedangkan program pengembangan diri yang pernah diikuti Wildan antara lain adalah Lombok Youth Camp 2018 dan Wosfes Islamic Path di Tokyo pada 2018. “Paling berkesan ketika di Lombok. Di program itu saya dapat Best Participant,” ujarnya mengenang program yang diselenggarakan oleh Nusa Tenggara Center bekerja sama dengan PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan United Nations Development Program (UNDP).

Berbagai penelitian juga dilakukan oleh pemuda kelahiran Tasikmalaya, 5 November 1996 tersebut, diantaranya adalah penelitian kompetitif “Strategi Penanaman Nilai Agama Islam Orang Tua pada Anak (Studi Kasus Kompleks Hiburan Malam Sembir, Desa Sarirejo, Kecamatan Sidorejo, Salatiga)” pada 2017 dan penelitian kompetitif “Stategi Pendidikan Kerohanian Islam (Studi Kasus Orang Tua Eks Narapidana Rutan Kelas IIB Kota Salatiga)” pada 2018.

Sibuk dengan berbagai kegiatan, Wildan tetap menekuni hobinya bermain catur. Ia mulai menyukai permainan catur sejak kecil, tepatnya sejak usia lima tahun. Sejak saat itulah keahliannya bermain catur makin terasah. Hobi bermain catur itu mengantarkannya memenangi juara 1 cabor catur pada PORS Mahasiswa 2017 dan juara III cabor catur paada POM UKSW 2018.

Wildan mengaku masih banyak hal yang harus ia capai dan ia coba, “Perjalanan saya masih panjang. Kalau dipersenkan mungkin baru 20%. Kesempatan itu datangnya berkali-kali, tidak hanya sekali.

Hanya saja kesempatan datang dalam bentuk lain, di lain tempat, di lain waktu. “Belajar dan berdoa itu kewajiban, semua harus mengerjakan yang itu. Tapi jika punya keinginan dan mimpi, tidak salah untuk menulisnya. Tulis saja semua mimpi dan keinginan, dari yang kecil dan sepele sampai yang paling besar,” katanya ketika ditanya tips meraih kesuksesan.

 

 

Penulis : Lala
Editor : Elfikri
Sumber : Wildan Nurhidayat

Siapkan Lulusan Unggul, IAIN Salatiga Beri Pembekalan Calon Alumni

SALATIGA – Menjelang wisuda ke-10, IAIN Salatiga mengadakan pembekalan calon alumni dengan menggelar Bussiness and Personal Growth Seminar. Kegiatan tersebut diadakan di halaman Kampus III IAIN Salatiga pada Jumat (18/9) dan diikuti oleh ratusan calon wisudawan/wisudawati.

Dalam sambutan pembukaan, Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Dr. Sidqon Maesur, Lc., MA menjelaskan bahwa acara yang sudah menjadi tradisi tersebut diadakan untuk memberi bekal para calon alumni agar bisa menjalani dunia usaha.

“Di IAIN Salatiga, kami berusaha memupuk jiwa kewirausahaan mahasiswa. Selain pembekalan seperti ini, IAIN juga menyediakan mata kuliah kewirausahaan. Mata kuliah ini wajib dan ada di semua prodi,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, IAIN mengundang Chef Purnomo Sidhi, pengusaha sukses asal Salatiga yang mengembangkan industri snack kacang mede, kacang tanah, kacang almond, dan coklat untuk memberi tips dan berbagi pengalaman. Selain itu, hadir pula Lia Kamelia, seorang wirausahawan muda di bidang chocolatier dan Tanti, seorang chocolate deco artist.

Purnomo mengajak para calon alumni yang hadir untuk tidak takut memulai dan terus mengasah mental pengusaha. “Seorang pengusaha sejati akan lebih memilih kertas kosong dari pada uang 100 ribu. Karena apa? Karena dengan kertas kosong itu, orang yang memiliki mental usaha akan terus berusaha menghasilkan lebih banyak uang. Lebih banyak dari 100 ribu,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia juga mengingatkan para peserta untuk terus mencoba, “Coba terus. Konsisten kejar mimpi. Cari peluang terbesar dan terus berinovasi. Kesalahan banyak pengusaha adalah mengikuti tren pasar. Padahal pengusaha yang pintar adalah mereka yang membuat tren, bukan mengikuti. Artinya, harus terus berinovasi,” pungkasnya.

Seminar pembekalan itu adalah pra-acara wisuda ke-10 IAIN Salatiga yang diadakan pada Sabtu (19/10/2019). Sebanyak 931 wisudawan/wisudawati dari lima fakultas akan mengikuti prosesi kelulusan tersebut.

 

 

Penulis : Lala
Editor : Ilman
Sumber : Bidang Kemahasiswaan dan Alumni